Beritakota.id, Jakarta – Industri transportasi darat di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya mobilitas masyarakat. Di tengah persaingan ketat, perusahaan transportasi AINON Group hadir dengan strategi berbeda, mengandalkan layanan premium untuk membangun kepercayaan pelanggan.
Owner AINON Group, Yohanes Susanto, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam bisnis travel bukan sekadar harga, melainkan bagaimana mengubah stigma negatif masyarakat terhadap layanan travel. “Orang dengar travel itu identik dengan nunggu lama, penuh, dan tidak nyaman. Itu yang kami ubah lewat pelayanan,” kata Yohanes kepada Beritakota.id ditemuinya di kantornya di Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur, Selasa (14/4/2026).
AINON Group memulai bisnis dari sektor bus pariwisata dengan mayoritas pelanggan berasal dari travel agent. Seiring waktu, perusahaan memperluas layanan ke transportasi darat reguler melalui beberapa lini bisnis. Lanjut Yohanes, saat ini line up bisnis AINON Group meliputi: AINON Holidays, Antartrans, dan Royal Shuttle.
Saat ini, AINON Group telah mengoperasikan lebih dari 80 armada yang melayani rute utama seperti, Jakarta – Lampung , Jabodetabek – Lampung dan Lampung – Palembang
“Bahkan, pada 22 April 2026, perusahaan akan membuka rute baru Gambir – Cilegon untuk memperluas jaringan layanan,’’ kata Yohanes.

Bermain di Pinggiran, Hindari Kompetisi Ketat
Alih-alih masuk ke pasar padat seperti Jawa Tengah atau Bali, AINON memilih fokus di rute yang masih memiliki potensi besar namun minim kompetitor. “Kita main di pinggiran dulu. Kompetisi di jalur utama terlalu besar,” kata Yohanes.
Di tengah persaingan harga yang ketat, AINON memilih fokus pada kualitas layanan. Setiap kendaraan dirancang lebih nyaman dengan kapasitas terbatas, hanya sekitar 7 penumpang per unit—jauh lebih sedikit dibanding moda transportasi travel konvensional.
Pihaknya pun mengklaim fasilitas yang ditawarkan menjadi selling point dari perusahaan transportasi lainnya seperti kursi captain seat, jadwal keberangkatan pasti (setiap 2 jam), free makan dan toilet, dan sistem keberangkatan tetap meski penumpang minim.
“Kosong pun tetap berangkat. Itu risiko pelayanan, tapi di situ kepercayaan dibangun,” tegasnya.
Mengikuti tren digital, AINON juga mengembangkan aplikasi mobile yang memudahkan pelanggan dalam pemesanan. Selain itu, perusahaan memanfaatkan Online Travel Agent (OTA) untuk memperluas jangkauan pasar.
Program loyalitas juga menjadi andalan, di mana pelanggan yang melakukan repeat order akan mendapatkan berbagai keuntungan, termasuk harga spesial.
“Sekitar 60–70 persen pelanggan kami adalah repeat order. Artinya mereka puas dan kembali lagi,” jelas Yohanes.
Dalam operasionalnya, AINON menempatkan pengemudi sebagai ujung tombak layanan. Oleh karena itu, perusahaan secara rutin mengadakan pelatihan dan sertifikasi kompetensi bagi driver.
Ia pun memastikan pengemudi-pengemudi AINON Group telah memiliki SIM sesuai standar, serta pelatihan berkala disertai workshop dan mekanik internal siaga 24 jam. “Kami ingin memastikan pelayanan tetap optimal dan aman bagi pelanggan,” katanya.
Optimistis Hadapi Persaingan Industri Transportasi
Dengan strategi layanan premium, digitalisasi, dan fokus pada kepercayaan pelanggan, AINON Group optimistis mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri transportasi yang semakin ketat.
“Sekarang bukan lagi soal harga murah, tapi siapa yang bisa memberikan pelayanan terbaik,” tutup Yohanes.

