Beritakota.id, Jakarta – Pasar keuangan global mengawali pekan dengan dinamika kontras antara reli saham teknologi dan lonjakan harga energi. Sentimen positif dari sektor kecerdasan buatan (AI) mendorong penguatan indeks saham, sementara harga minyak melonjak akibat ketegangan geopolitik yang belum mereda di Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent tercatat naik sekitar 2% dan menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan di kisaran USD107,97 per barel pada perdagangan Asia, Senin (27/4). Kenaikan ini dipicu oleh mandeknya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang berdampak pada terganggunya jalur ekspor energi, khususnya di Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dan gas global.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Lonjakan harga energi dinilai dapat menghambat peluang pemangkasan suku bunga di negara-negara maju tahun ini. Bahkan, analis dari Goldman Sachs merevisi proyeksi harga minyak akhir tahun menjadi USD90 per barel, dengan asumsi normalisasi ekspor energi dapat terjadi pada pertengahan tahun.
Baca juga : Aksi Buy Back Investor, Menjaga Kenaikan Harga Emas
Di sisi lain, pasar saham global justru menunjukkan ketahanan. Indeks berjangka S&P 500 bergerak stabil dengan kenaikan tipis sekitar 0,2%, mengikuti penguatan bursa Asia seperti Jepang dan Korea Selatan yang mencetak rekor tertinggi baru. Optimisme investor terhadap pertumbuhan sektor AI menjadi pendorong utama, terutama pada saham-saham teknologi berbasis semikonduktor.
Reli ini semakin diperkuat oleh proyeksi kinerja perusahaan teknologi besar Amerika Serikat. Pekan ini menjadi krusial karena sekitar 44% kapitalisasi pasar di indeks S&P 500 dijadwalkan merilis laporan keuangan. Fokus utama investor tertuju pada belanja modal (capex) untuk pengembangan AI oleh raksasa teknologi seperti Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta Platforms, serta Apple.
Manajer portofolio Allianz Technology Trust, Mike Seidenberg, menilai AI saat ini menjadi sektor yang paling menjanjikan di pasar. “AI adalah tema yang sangat optimistis dan dianggap sebagai pemenang utama dalam portofolio investasi,” ujarnya.
Di pasar mata uang, pergerakan relatif stabil dengan euro berada di kisaran USD1,17 dan yen Jepang di level 159 per dolar AS. Sementara itu, pasar obligasi cenderung tenang menjelang rangkaian pertemuan bank sentral utama dunia.
Bank Sentral Tahan Suku Bunga, Pasar Tunggu Arah Kebijakan
Fokus investor kini juga tertuju pada kebijakan moneter global. Sejumlah bank sentral utama, termasuk Federal Reserve, European Central Bank, dan Bank of England, diperkirakan akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan pekan ini.
Bank of Japan menjadi yang pertama mengumumkan kebijakan, dengan ekspektasi suku bunga tetap di level 0,75%. Keputusan ini mencerminkan kehati-hatian bank sentral dalam merespons tekanan inflasi yang masih dipengaruhi oleh lonjakan harga energi.
Meski demikian, pasar masih mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan di Eropa dan Inggris pada paruh kedua tahun ini, tergantung pada arah inflasi dan stabilitas ekonomi global.
Dengan kombinasi antara ketidakpastian geopolitik, tekanan inflasi, dan euforia teknologi, pasar keuangan global diperkirakan akan tetap bergerak volatil dalam jangka pendek. Investor kini dihadapkan pada dilema klasik: memilih antara momentum pertumbuhan sektor teknologi atau mengantisipasi risiko makro yang kian kompleks. (Lukman Hqeem)

