Beritakota.id, Bekasi – Dinas Perhubungan (Dishub) Pemerintah Kota Bekasi bergerak cepat memperketat pengawasan di perlintasan sebidang rel kereta api menyusul kecelakaan maut yang terjadi di kawasan Bekasi Timur, Jawa Barat.
Langkah ini diambil setelah insiden tragis yang melibatkan kereta rel listrik (KRL) dan KA Argo Bromo Anggrek, yang berawal dari sebuah taksi listrik mogok di perlintasan sebidang Ampera, Bekasi Timur.
Kendaraan tersebut tertemper KRL yang melintas dari arah Cikarang. Situasi semakin kacau ketika warga berkerumun di sekitar lokasi untuk membantu evakuasi, menyebabkan perjalanan KRL dari Jakarta menuju Cikarang tertahan di Stasiun Bekasi Timur.
Beberapa menit kemudian, KA Argo Bromo Anggrek rute Jakarta–Surabaya melaju di jalur yang sama dan menghantam bagian belakang KRL yang tengah berhenti. Insiden ini mengakibatkan korban jiwa dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Baca Juga: Tabrakan KRL di Bekasi Timur, DPR: Investigasi Total dan Prioritaskan Korban
Kepala Dishub Kota Bekasi, Zeno Bachtiar, mengatakan pihaknya kini menambah jumlah personel di titik-titik rawan perlintasan sebidang.
“Petugas Dishub sebenarnya sudah lama disiagakan di perlintasan sebidang, tetapi fokusnya selama ini lebih pada pengaturan lalu lintas. Ke depan, pengawasan juga akan difokuskan pada area rel,” ujar Zeno, Kamis (30/4/2026).
Ia menegaskan, petugas akan berjaga setiap hari mulai pukul 05.00 WIB hingga 22.00 WIB guna memastikan keamanan pengguna jalan dan perjalanan kereta api.
Selain penambahan personel, Dishub juga akan mengembangkan sistem peringatan berbasis suara di perlintasan sebidang. Sistem ini berupa sirene yang akan berbunyi sebagai tanda peringatan bagi pengguna jalan saat kereta akan melintas.
Tak hanya itu, Dishub Bekasi juga telah berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk pemasangan pintu perlintasan di sejumlah titik, termasuk di perlintasan Ampera yang kini telah dilengkapi fasilitas tersebut.
“Kami juga terus berkoordinasi dengan KAI untuk pemasangan pintu perlintasan yang dilengkapi sistem suara agar keselamatan semakin terjamin,” tambahnya.
Zeno menyebutkan, saat ini terdapat 10 perlintasan sebidang di Kota Bekasi, di antaranya Jalan Sultan Agung, Jalan Agus Salim, Jalan Perjuangan, Jalan KH Noer Alie, hingga kawasan Harapan Indah dan Bekasi Timur.
Sebagian titik memang telah dilengkapi flyover, seperti di Jalan KH Noer Alie dan Jalan Baru Bekasi Timur. Namun, sebagian lainnya masih menjadi perlintasan sebidang yang rawan kecelakaan.
Pemerintah Kota Bekasi berharap langkah ini dapat meminimalkan risiko kecelakaan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih disiplin saat melintas di perlintasan kereta api.

