Beritakota.id, Banyuwangi – Harga emas bertahan di kisaran $4.530 per troy ounce pada perdagangan Selasa (05/05/2026), setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam hampir 2% di sesi sebelumnya. Pergerakan ini mencerminkan tarik-menarik antara harapan pelonggaran kebijakan moneter dan tekanan inflasi global yang kembali meningkat.
Di satu sisi, prospek emas masih mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa Federal Reserve pada akhirnya akan mengarah pada kebijakan yang lebih longgar. Sejumlah pelaku pasar menilai bahwa sinyal dovish dari bank sentral, meskipun belum diikuti pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, sudah cukup untuk menopang harga emas dalam jangka menengah.
Baca juga : Mendapatkan Momentum, Harga Emas Beranjak Naik
Namun, faktor eksternal justru menjadi penghambat utama. Eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya di kawasan Selat Hormuz, telah mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini berpotensi memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang secara historis menjadi sentimen negatif bagi emas.
Ketegangan geopolitik semakin memanas setelah laporan serangan yang melibatkan Iran terhadap aset terkait Amerika Serikat dan sekutunya. Insiden di wilayah perairan strategis tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global, sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan memperkuat dolar AS.
Di tengah dinamika tersebut, pasar hari ini juga menantikan rilis data ekonomi Amerika Serikat. Indeks sektor jasa (ISM Services) diperkirakan sedikit melemah ke 53,7 dari sebelumnya 54, sementara data lowongan kerja JOLTS diproyeksikan turun tipis menjadi 6,83 juta dari 6,882 juta. Pelemahan data ini berpotensi membuka ruang bagi narasi pelonggaran kebijakan moneter, meskipun dampaknya kemungkinan terbatas jika tekanan inflasi tetap tinggi.
Sejak konflik memanas pada akhir Februari, harga emas tercatat telah turun sekitar 15%, menandakan perubahan persepsi pasar terhadap logam mulia tersebut. Alih-alih menjadi lindung nilai utama, emas kini lebih sensitif terhadap pergerakan suku bunga dan ekspektasi inflasi.
Ke depan, arah pergerakan emas akan sangat ditentukan oleh keseimbangan antara prospek kebijakan The Fed, perkembangan geopolitik, serta dinamika harga energi global. (Lukman Hqeem)

