Beritakota.id, Jakarta — Di tengah ketidakpastian ekonomi global, volatilitas pasar keuangan, dan dinamika geopolitik, industri Securities Crowdfunding (SCF) di Indonesia kian menunjukkan peran strategis sebagai alternatif pembiayaan bagi UMKM dan sektor riil.
Proyeksi International Monetary Fund (IMF) menunjukkan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 melambat ke level 3,1 persen. Senada, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi dunia hanya tumbuh sekitar 3,0 persen, dipengaruhi risiko geopolitik, tekanan inflasi, hingga volatilitas pasar.
Meski demikian, perekonomian Indonesia dinilai tetap relatif tangguh dengan proyeksi pertumbuhan di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen, ditopang oleh permintaan domestik dan sinergi kebijakan nasional.
Dalam forum SCF Days 2026 yang digelar oleh Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia di Bursa Efek Indonesia, para pemangku kepentingan menegaskan bahwa pertumbuhan industri SCF harus dibangun di atas fondasi tata kelola (governance) yang kuat, transparansi, serta perlindungan pemodal.
Wakil Ketua Umum I ALUDI, Heinrich Vincent, menyatakan bahwa SCF bukan sekadar platform pendanaan digital, melainkan bagian dari ekosistem pasar modal yang mendukung pembiayaan produktif sektor riil.
Baca Juga: Belanja Nyaman di Udara Sekaligus Dukung UMKM Lokal, Maskapai Ini Hadirkan PAS Sky Shop
“SCF menjadi relevan karena berbasis pada sektor riil dan memberikan peluang bagi pemodal untuk memperoleh keuntungan dari bisnis yang nyata sekaligus berdampak luas bagi masyarakat,” ujarnya kepada Beritakota.id, Rabu (6/5/2026).
Namun demikian, ia menekankan pentingnya disiplin dalam seleksi penerbit, transparansi informasi, serta penguatan tata kelola guna memitigasi risiko bagi investor.
Dalam kondisi ekonomi yang dinamis, pemodal juga diingatkan untuk lebih selektif dalam memilih investasi, dengan mempertimbangkan kualitas usaha, arus kas, rekam jejak manajemen, hingga prospek sektor industri. Beberapa sektor yang dinilai potensial antara lain kendaraan listrik, kebutuhan pokok, serta proyek berbasis rantai pasok (supply chain).
Secara industri, SCF mencatat pertumbuhan signifikan. Penghimpunan dana meningkat dari sekitar Rp1,53 triliun pada Desember 2024 menjadi lebih dari Rp2,1 triliun per April 2026. Jumlah penerbit naik 38 persen menjadi 1.115 entitas, sementara jumlah pemodal menembus 198.000 investor.
Instrumen berbasis syariah turut menunjukkan kontribusi kuat dengan nilai pendanaan mencapai Rp1,14 triliun atau lebih dari separuh total industri, mencerminkan meningkatnya minat terhadap investasi berbasis sukuk dan sektor riil.
Ketua Dewan Pembina ALUDI, Wimboh Santoso, menegaskan bahwa SCF merupakan bagian dari transformasi pasar modal yang lebih inklusif.
“Pertumbuhan industri harus dikawal dengan tata kelola yang baik, standardisasi, serta perlindungan pemodal yang memadai,” katanya.
Baca Juga: Securities Crowdfunding Wujudkan UKM Go Public
Dari sisi regulator, Otoritas Jasa Keuangan melalui Direktur terkait, Muhammad Adi Wijoyo, menekankan pentingnya menjaga ekosistem yang sehat dan berkelanjutan agar SCF dapat berkembang optimal sebagai kanal pembiayaan UMKM.
Selain itu, penguatan infrastruktur data melalui kolaborasi antara OJK, KSEI, dan ALUDI menjadi langkah strategis untuk meningkatkan transparansi serta kepercayaan publik terhadap industri ini.
Dengan dukungan teknologi digital, SCF membuka akses investasi yang lebih luas bagi masyarakat sekaligus memberikan peluang bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi domestik.
Ke depan, ALUDI menilai potensi SCF masih sangat besar. Namun, pertumbuhan industri diharapkan tetap berfokus pada kualitas, bukan sekadar peningkatan volume pendanaan.

