Beritakota.id, Jakarta Selatan – Ada kalanya hubungan paling tulus dalam hidup justru datang dari makhluk yang tidak bisa berbicara. Film GOHAN menangkap perasaan itu dengan sangat tenang, sederhana, tetapi menghantam emosi secara perlahan. Bukan drama yang berusaha membuat penonton menangis lewat ledakan konflik besar, melainkan lewat keheningan-keheningan kecil yang terasa sangat manusiawi.

Film ini mengikuti perjalanan seekor anjing liar bernama Gohan yang selama sepuluh tahun masuk ke kehidupan beberapa manusia berbeda: seorang pensiunan insinyur Jepang yang hidup dalam kesepian, seorang pekerja migran yang mencoba bertahan di negeri asing, hingga pasangan muda yang perlahan kehilangan kedekatan satu sama lain. Gohan bukan sekadar hewan peliharaan dalam cerita ini. Ia menjadi jembatan emosional bagi manusia-manusia yang sebenarnya sama-sama terluka.

Baca juga : Review Film In The Grey; Operasi Penyelamatan Negosiator

Yang menarik, film ini tidak pernah memaksa hubungan manusia dan hewan menjadi sesuatu yang sentimental berlebihan. Justru di situlah kekuatannya. Gohan hadir tanpa menghakimi, tanpa menuntut penjelasan, tanpa drama. Seekor anjing hanya datang, duduk di dekat manusia yang sedang hancur, lalu perlahan membuat mereka merasa hidup kembali.

Di titik ini, film terasa seperti cermin kehidupan modern. Banyak manusia hari ini hidup berdampingan, tetapi tidak benar-benar saling mendengar. Hubungan antar manusia sering dipenuhi ego, ekspektasi, bahkan syarat-syarat emosional yang melelahkan. Sebaliknya, hubungan dengan hewan peliharaan kadang terasa lebih jujur. Mereka tidak peduli status sosial, kegagalan hidup, atau luka masa lalu.

Film ini seperti ingin mengatakan bahwa “rumah” bukan selalu tempat, melainkan kehadiran yang membuat seseorang merasa diterima.

Secara visual, GOHAN tampil hangat dengan nuansa lembut khas drama Asia Timur. Ritmenya memang lambat, tetapi memberi ruang bagi penonton untuk menikmati emosi tiap karakter. Musik dan sinematografinya juga bekerja efektif membangun rasa sepi sekaligus harapan.

Dibintangi Jaonaay Jinjett Wattanasin, Tu Tontawan Tantivejakul, dan Tata Chatchai Chinnasri, film ini terasa personal dan dekat. Nama Baz Poonpiriya sebagai salah satu kreator di balik film juga memberi jaminan kualitas emosional yang kuat, seperti yang pernah ia tampilkan lewat Bad Genius.

GOHAN bukan film tentang anjing semata. Ini film tentang manusia yang diam-diam ingin diselamatkan — dan kadang, penyelamat itu datang dalam bentuk makhluk berbulu yang hanya tahu cara setia. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *