Beritakota.id, Jakarta – Akhir-akhir ini kembali mencuat berbagai persoalan yang sebenarnya sudah lama terjadi, namun dikaitkan kembali dengan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Mulai dugaan manipulasi (fraud) laporan keuangan senilai Rp5 triliun periode 2014-2021, sehingga memantik investigasi dari Bursa Amerika Serikat (SEC).

Dugaan masalah akuntansi Telkom mencuat setelah teridentifikasi sekitar 140 transaksi yang dinilai tidak memiliki substansi ekonomi pada periode 2014–2021. Nilai total transaksi yang menjadi sorotan mencapai Rp5 triliun.

Sementara investigasi SEC dimulai sejak Oktober 2023 terkait keterlibatan Telkom Infra dalam proyek BTS 4G BAKTI Kominfo. Investigasi tersebut kemudian berkembang ke isu akuntansi, pengakuan pendapatan, pelaporan keuangan, dan pengendalian internal perusahaan.

Belum lagi, soal temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait potensi kerugian atas investasi PT Telkomsel saat mengambil bagian minoritas saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Audit BPK per Mei 2026 menyoroti potensi kerugian mencapai Rp4,7 triliun, merosot dari total investasi awal sekitar Rp6,4 triliun.

Namun, alih-alih terus terjebak dalam pusaran polemik masa lalu, kepemimpinan Telkom saat ini seharusnya lebih diarahkan pada bagaimana manajemen membangun soliditas internal yang kuat agar kegaduhan-kegaduhan tidak terulang, sembari tetap menjaga akselerasi performa perusahaan.

Pasalnya, persoalan tersebut sudah masuk dalam ranah penegakan hukum. Bahkan, beberapa kasus yang melibatkan segelintir individu tertentu telah divonis oleh pengadilan dan sebagian tengah menjalani proses hukum di berbagai institusi penegak hukum, seperti KPK, Polri, dan Kejaksaan.

Fokus utama Telkom harus tertuju pada perbaikan kualitas pendapatan, kinerja dan optimalisasi aset yang ada. Tanpa perubahan pola kepemimpinan yang berorientasi pada hasil dan tata kelola yang masih terjebak pada problem masa lalu, sulit bagi Telkom untuk meyakinkan pemegang saham bahwa mereka masih memiliki visi yang solid untuk menghadapi ketatnya persaingan di sektor teknologi dan informasi.

Baca juga: Peneliti: Telkom Butuh Kepemimpinan Model Liang Wengfeng

Mencermati kondisi ini, Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas mendesak agar jajaran direksi Telkom menghentikan segala bentuk distraksi dan kembali fokus sepenuhnya pada upaya penyelamatan fundamental perusahaan.

“Sudah saatnya kepemimpinan Telkom menarik diri dari kegaduhan masa lalu dan mencurahkan seluruh energi untuk memperkuat fondasi bisnis inti. Fokus saja pada performa harusnya. Berdasarkan data, dalam kurun waktu satu tahun sejak 2025, Telkom kan mengalami penurunan pendapatan sebesar Rp2,6 triliun dan laba bersih Rp2,1 triliun. Ini harus jadi catatan penting harusnya,” ujar Fernando saat dikonfirmasi, Jakarta, Jumat (15/5/2026).

Lebih lanjut, ia menilai bahwa manajemen perlu mengalihkan perhatian sepenuhnya pada perbaikan kinerja guna menghentikan tren penurunan laba.

Selain itu, profesionalisme kepemimpinan saat ini diuji dari kemampuannya memisahkan antara penegakan hukum masa lalu dan upaya produktivitas masa depan.

“Biarkan proses hukum berjalan di jalurnya sendiri. Direksi saat ini harusnya concern pada roadmap dan capaian-capaian target yang sudah ditentukan. Kalau terus berkutat pada masa lalu justru publik akan bertanya-tanya, jangan-jangan ini semacam upaya menutupi ketidakmampuan management baru membawa institusi Telkom menjadi lebih baik?” tutur Fernando.

Oleh karena itu, DPR harus segera mengambil langkah tegas dengan memanggil Telkom untuk melakukan pendalaman terkait berbagai persoalan yang tengah mendera BUMN telekomunikasi tersebut melalui forum Rapat Dengar Pendapat (RDP).

“DPR jangan menunda lagi untuk memanggil Telkom. DPR harus mendalami persoalan di tubuh Telkom, “benang kusut” itu harus segera diurai. Publik perlu tahu sejauh mana langkah konkret kepemimpinan sekarang dalam menyelamatkan fundamental perusahaan,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *