Beritakota.id, Jakarta – Mantan Presiden RI ke-7 Joko Widodo atau Jokowi dikabarkan akan kembali turun langsung ke masyarakat dengan agenda keliling Indonesia usai kondisi kesehatannya disebut telah pulih hingga 99 persen.

Rencana besar tersebut diungkap Sekretaris Jenderal Projo, Freddy Damanik yang menyebut langkah Jokowi bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan upaya menjaga kedekatan emosional dengan rakyat.

“Agenda besarnya, visi besarnya tentu kontinuitas emosional, kedekatan emosional kepada rakyat,” ujar Freddy dalam program Kompas Petang KompasTV, Minggu (17/5/2026).

Menurut Freddy, dalam politik Indonesia, hubungan emosional antara pemimpin dan masyarakat jauh lebih kuat dibanding sekadar jabatan formal. Karena itu, Jokowi disebut ingin terus menjaga koneksi tersebut melalui agenda turun langsung ke berbagai daerah.

Ia menegaskan, karakter blusukan yang selama ini melekat pada Jokowi menjadi alasan kuat mengapa mantan Wali Kota Solo itu kembali memilih mendatangi masyarakat secara langsung.

Jokowi Disebut Akan Mulai dari NTT

Freddy mengungkapkan, salah satu daerah yang paling berpeluang menjadi lokasi awal kunjungan Jokowi adalah Nusa Tenggara Timur atau NTT.

Menurutnya, ada dorongan dari masyarakat di wilayah tersebut terkait pengembangan komoditas rumput laut yang dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung ekonomi daerah.

“Kita belum tahu persis tanggal berapa dan lokasinya juga, tapi memang sudah ada beberapa alternatif tempat. Yang paling menguat itu sepertinya ke NTT,” ungkap Freddy.

Agenda keliling Indonesia itu disebut kemungkinan dimulai pada Juni 2026.

Pengamat: Jokowi Turun Gunung Pasti Bernuansa Politik

Sementara itu, Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya menilai langkah Jokowi kembali aktif menemui masyarakat tidak bisa dilepaskan dari nuansa politik nasional.

“Kalau bicara politik atau tidak, ya pasti, karena Pak Jokowi adalah manusia politik,” kata Yunarto.

Ia menilai kehadiran Jokowi di tengah masyarakat berpotensi memperkuat kelompok politik yang masih menjadikan Jokowi sebagai payung elektoral.

Menurut Yunarto, di tengah berbagai kontroversi kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, muncul kemungkinan masyarakat membandingkan situasi saat ini dengan era pemerintahan Jokowi.

Fenomena “enak jamanku toh?” dinilai bisa kembali muncul sebagaimana pernah terjadi pada masa transisi Reformasi ketika sebagian masyarakat merindukan stabilitas era sebelumnya.

“Sehingga menjadi sangat lumrah dalam logika kepuasan publik, orang cenderung sebagian di antaranya akan rindu kembali ke masa Jokowi,” ujarnya.

Yunarto mempertanyakan apakah langkah Jokowi turun gunung nantinya akan berfungsi membantu menjelaskan berbagai kontroversi kebijakan pemerintah saat ini atau justru memperkuat nostalgia publik terhadap kepemimpinannya.

Menurutnya, kemunculan Jokowi di tengah situasi politik dan ekonomi yang dinamis berpotensi menciptakan efek psikologis besar di masyarakat.

Dengan basis relawan yang masih solid dan tingkat popularitas yang tetap tinggi, agenda keliling Indonesia Jokowi diperkirakan bakal menjadi sorotan nasional sekaligus magnet politik menjelang dinamika besar politik 2029.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *