Beritakota.id, Banyuwangi – Ada luka sejarah yang tidak pernah benar-benar selesai dibicarakan di Indonesia. Ia hidup diam-diam dalam ingatan, dalam percakapan setengah berbisik, dan dalam generasi yang tumbuh tanpa pernah benar-benar memahami apa yang terjadi pada bangsanya sendiri. Novel Pulang karya Leila S. Chudori hadir seperti pintu yang membuka kembali lorong panjang sejarah itu—tentang pengasingan, kehilangan tanah air, dan kerinduan untuk kembali menjadi bagian dari rumah bernama Indonesia.

Novel ini tidak hanya bercerita tentang politik 1965, tetapi juga tentang manusia-manusia yang dipaksa hidup jauh dari identitasnya sendiri.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Dimas Suryo, seorang jurnalis yang terjebak di luar negeri setelah peristiwa politik 30 September 1965. Bersama sejumlah rekannya, ia kehilangan kewarganegaraan dan tidak dapat kembali ke Indonesia. Paris kemudian menjadi tempat pelarian, sekaligus ruang asing yang perlahan mereka sebut rumah.

Baca juga : Jerry Hermawan Lo Luncurkan Buku The Art of Simple Leadership tentang Kepemimpinan Humanis

Namun sejauh apa pun seseorang pergi, ada sesuatu yang sulit diputuskan: kenangan.

Leila S. Chudori menulis novel ini dengan kekuatan riset sejarah yang terasa detail, tetapi tetap mengalir secara emosional. Pembaca tidak digurui dengan data politik yang berat, melainkan diajak menyelami perasaan para tokohnya. Kesedihan dalam Pulang terasa sunyi, perlahan, dan manusiawi. Justru di situlah kekuatan novel ini bekerja.

Salah satu hal menarik dari Pulang adalah bagaimana makanan, aroma dapur, dan masakan Indonesia menjadi simbol kerinduan terhadap tanah air. Restoran Indonesia yang dibangun Dimas di Paris bukan sekadar tempat usaha, melainkan ruang nostalgia bagi orang-orang yang kehilangan rumah. Leila seperti ingin mengatakan bahwa identitas kadang hidup dari hal-hal sederhana: rasa, bahasa, dan ingatan.

Pulang, novel sejarah karya Leila S. Chudori. (Beritakota.id)

Di sisi lain, novel ini juga memperlihatkan bagaimana trauma sejarah dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Tokoh Lintang Utara—anak Dimas—mewakili generasi muda yang mencoba memahami sejarah keluarganya sendiri. Ia tumbuh dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Indonesia, tentang ayahnya, dan tentang luka yang tidak pernah selesai diceritakan.

Dalam konteks Indonesia hari ini, Pulang tetap relevan. Ketika generasi muda semakin jauh dari sejarah bangsanya sendiri, novel ini menjadi pengingat bahwa ada banyak cerita manusia di balik setiap peristiwa politik. Sejarah bukan hanya tentang tanggal dan kekuasaan, tetapi juga tentang keluarga yang tercerai, identitas yang hilang, dan orang-orang yang hidup dalam pengasingan batin.

Secara gaya bahasa, Leila S. Chudori menghadirkan narasi yang puitis namun tetap tajam. Ia mampu memadukan unsur jurnalistik, sejarah, dan sastra dalam ritme yang elegan. Dialog-dialognya terasa hidup, sementara perpindahan latar dari Jakarta ke Paris memberi nuansa internasional tanpa kehilangan akar Indonesia.

Meski demikian, bagi sebagian pembaca, detail sejarah dan banyaknya tokoh mungkin terasa cukup padat di awal cerita. Namun setelah melewati bagian awal, novel ini berkembang menjadi kisah yang emosional dan sulit dilepaskan.

Pada akhirnya, Pulang bukan hanya novel tentang eksil politik. Ia adalah cerita tentang manusia yang kehilangan rumah, lalu mencoba menemukannya kembali melalui ingatan. Novel ini mengingatkan bahwa pulang bukan sekadar kembali ke sebuah tempat, tetapi juga keberanian untuk berdamai dengan masa lalu.

Dan mungkin, di situlah luka sejarah menemukan maknanya: ketika seseorang masih ingin pulang, meski negerinya pernah menolak dirinya sendiri.

Identitas Buku

Judul: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2012
Genre: Novel sejarah, politik, keluarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *