Beritakota.id, Jakarta – Di lantai bursa, pergerakan saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) belakangan ini tampak lesu, bergerak mendatar seolah kehilangan tenaga. Di saat yang sama, laporan keuangan teranyar emiten halo-halo ini menunjukkan kurva laba yang mulai melandai ke bawah.
Namun, di balik angka-angka yang memerah dan grafik yang stagnan itu, Direktur DataIndo Usman Buamona menilai mendeteksi riak yang lebih mengkhawatirkan dugaan adanya “perang dingin” dan keretakan internal di tubuh sang raksasa telekomunikasi pelat merah.
Berdasarkan data, dalam kurun waktu satu tahun sejak 2025, Telkom mengalami penurunan pendapatan sebesar Rp2,6 triliun dan laba bersih Rp2,1 triliun.
Kinerja finansial Telkom belakangan ini memang sedang tidak baik-baik saja. Ketika para kompetitor mulai berlari kencang mengadopsi efisiensi baru, Telkom justru harus rela melihat pertumbuhan laba bersihnya tergerus.
Kondisi ini langsung direspons dingin oleh pasar. Saham TLKM yang biasanya menjadi safe haven bagi para investor blue chip, kini terjebak dalam fase konsolidasi berkepanjangan tanpa katalis positif yang kuat untuk mendongkrak harganya kembali ke level psikologis ideal.
Usman Buamona menilai menilai penurunan performa finansial Telkom bukan sekadar perkara dinamika pasar atau jenuhnya industri seluler. Ada indikasi kuat bahwa lambatnya eksekusi strategi bisnis dan transformasi digital di tubuh Telkom dipicu oleh ego sektoral yang akut di tingkat manajemen puncak.
“Ketika laba turun dan saham jalan di tempat, itu adalah alarm bahwa ada yang tidak beres dengan mesin di dalamnya,” ujar Usman Buamona dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Baca juga: Tokoh Minang Dukung Honesti Basyir Jadi Dirut PT Telkom
Jika dugaan “perang dingin” itu benar adanya dan terus dibiarkan berlarut-larut, Telkom terancam kehilangan momentum emas di era digital. Investor membutuhkan kepastian, transparansi, dan yang terpenting: soliditas dari para nakhoda BUMN telekomunikasi ini.
“Kuncinya ada di soliditas manajemen. Investor saat ini membutuhkan kepastian dan transparansi, bukan rumor perpecahan. Jika ‘perang dingin’ ini terus berlanjut, Telkom terancam kehilangan momentum digitalnya,” ucap Usman Buamona.
Kini, bola panas ada di tangan manajemen Telkom. Apakah mereka mampu mencairkan kebekuan di internal demi menyelamatkan nilai saham dan kepercayaan publik, atau justru membiarkan sang raksasa perlahan digerogoti oleh konfliknya sendiri? Pasar sedang mengawasi dengan ketat.

