Beritakota.id, Brebes – Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Brebes mencatat 81 kasus baru HIV/AIDS sepanjang Januari hingga Mei 2026. Mayoritas penderita yang teridentifikasi merupakan laki-laki usia produktif.
Kepala Dinkesda Brebes, dr. Heru Padmonobo, mengatakan dari total kasus baru tersebut sebanyak 58 kasus terjadi pada laki-laki dan 22 kasus pada perempuan. Dengan demikian, sekitar 73 persen kasus baru ditemukan pada laki-laki, sedangkan 27 persen sisanya pada perempuan.
“Dari total 81 kasus baru orang dengan HIV/AIDS, sebanyak 65 orang merupakan warga Brebes, sedangkan 16 lainnya berasal dari luar daerah,” kata Heru, Senin, (8/6/2026).
Baca juga: Glorya Stevany: Suara Perempuan Papua untuk Edukasi HIV
Berdasarkan data Dinkesda, sebaran kasus baru ditemukan di sejumlah kecamatan. Kecamatan Ketanggungan menjadi wilayah dengan temuan kasus terbanyak, yakni 20 kasus. Disusul Kecamatan Brebes sebanyak 12 kasus, Banjarharjo dan Wanasari masing-masing delapan kasus, Songgom enam kasus, serta Sirampog dan Kersana masing-masing empat kasus. Adapun Kecamatan Salem mencatat dua kasus baru.
Heru mengatakan dinas kesehatan tidak hanya melakukan pemetaan kasus, tetapi juga memberikan pendampingan dan pengobatan kepada para penderita.
Upaya tersebut kata Heru, dilakukan untuk menekan risiko penularan sekaligus meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi antiretroviral (ARV).
Menurut dia, tim Program HIV/AIDS Dinkesda juga rutin melakukan pemantauan kesehatan terhadap para penderita. Saat ini tercatat 1.040 orang dengan HIV yang masih hidup dan menjalani pemantauan di Kabupaten Brebes.
“Monitoring dilakukan secara berkala, meliputi pendampingan, pengobatan, dan pemeriksaan kesehatan,” ujarnya.
Baca juga: Penularan Tertinggi HIV Banyak Terjadi oleh Perilaku Seks Sesama Jenis dan Ibu Hamil
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkesda Brebes, dr. Ignasius Adhi Pujo Astowo, mengatakan meningkatnya temuan kasus baru menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan dan deteksi dini.
Ia menjelaskan, berdasarkan kelompok usia, dua kasus ditemukan pada anak-anak, delapan kasus pada remaja, 14 kasus pada kelompok usia 20–24 tahun, 47 kasus pada usia produktif 25–49 tahun, dan 10 kasus pada kelompok usia di atas 50 tahun.
“Partisipasi masyarakat diperlukan untuk mendukung pencegahan penularan dan penemuan kasus secara lebih dini, terutama pada kelompok populasi berisiko,” kata Ignasius

