Beritakota.id, Jakarta – Di tengah sorotan panggung Puteri Indonesia 2026, hadir sosok muda yang tidak hanya membawa pesona, tetapi juga suara yang lantang untuk isu yang sering kali masih dianggap sensitif: kesehatan perempuan dan edukasi HIV. Glorya Stevany Yame Nayoan, Puteri Indonesia Papua 2026, tampil dengan misi yang terasa personal sekaligus mendesak. Bagi Glorya, isu HIV/AIDS bukan sekadar topik kesehatan—melainkan realitas yang ia lihat dan rasakan sejak muda.
Ia tumbuh di lingkungan di mana stigma, ketakutan, dan minimnya pemahaman tentang HIV masih menjadi tantangan sehari-hari. Dari sanalah muncul kesadaran bahwa edukasi bukan hanya penting, tetapi juga mendesak.
“Diam tidak akan pernah menciptakan perubahan,” menjadi prinsip yang ia pegang teguh.
Baca juga : Penularan Tertinggi HIV Banyak Terjadi oleh Perilaku Seks Sesama Jenis dan Ibu Hamil
Ketika Edukasi Menjadi Bentuk Self-Love
Dalam perspektif modern, kesehatan bukan hanya soal fisik—tetapi juga tentang kesadaran, keberanian, dan kontrol atas tubuh sendiri. Bagi Glorya, edukasi HIV adalah bagian dari itu.
Banyak perempuan, terutama generasi muda, masih menghadapi kesenjangan informasi terkait kesehatan reproduksi. Padahal, pemahaman yang tepat tentang HIV dapat membantu perempuan memahami risiko kesehatan secara lebih sadar, mengambil keputusan yang lebih aman dalam hubungan, dan mengurangi stigma terhadap diri sendiri dan orang lain.
Glorya ingin mengubah cara pandang tersebut. Ia percaya bahwa edukasi HIV harus disampaikan dengan pendekatan yang lebih inklusif, relevan, dan mudah dipahami—bukan menakut-nakuti, tetapi memberdayakan.
Menghapus Stigma, Membuka Percakapan
Salah satu tantangan terbesar dalam isu HIV di Indonesia bukan hanya soal akses layanan kesehatan, tetapi juga stigma sosial yang masih kuat. Banyak orang yang hidup dengan HIV menghadapi diskriminasi, bahkan dari lingkungan terdekat. Hal ini sering membuat mereka enggan untuk melakukan tes atau mencari pengobatan.
Glorya melihat bahwa perubahan harus dimulai dari percakapan sederhana.
Ia ingin mendorong lebih banyak ruang diskusi—baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun komunitas—agar HIV tidak lagi dianggap sebagai topik tabu. Dengan membuka percakapan, masyarakat dapat memahami bahwa HIV adalah kondisi medis yang dapat dikelola, bukan sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan.
Sebagai sarjana kesehatan masyarakat, Glorya memahami bahwa perempuan memiliki peran penting dalam membangun keluarga dan komunitas yang sehat. Perempuan sering kali menjadi pengambil keputusan dalam hal kesehatan keluarga—mulai dari pola makan, perawatan anak, hingga keputusan medis. Karena itu, ketika perempuan memiliki akses terhadap edukasi yang baik, dampaknya bisa jauh lebih luas.
Glorya ingin melihat lebih banyak perempuan, khususnya di Papua, berani mengambil peran tersebut. Bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai agen perubahan di lingkungannya. Baginya, pemberdayaan perempuan bukan sekadar slogan, tetapi tentang memberikan akses, pengetahuan, dan kepercayaan diri untuk menentukan pilihan hidup.
Dari Papua untuk Indonesia
Selain isu kesehatan, Glorya juga membawa misi yang tak kalah penting: memperkenalkan Papua dengan segala kekayaan budaya dan potensinya. Namun lebih dari itu, ia ingin mengubah narasi tentang Papua—dari yang sering kali hanya dilihat dari tantangan, menjadi wilayah dengan perempuan-perempuan kuat, cerdas, dan penuh potensi.
Melalui langkahnya di ajang nasional, Glorya menunjukkan bahwa perempuan Papua tidak hanya hadir sebagai representasi, tetapi juga sebagai suara yang membawa perubahan.
Di era di mana definisi kecantikan terus berkembang, sosok seperti Glorya menghadirkan perspektif yang lebih dalam. Kecantikan bukan lagi sekadar penampilan, tetapi tentang keberanian untuk bersuara, kepedulian terhadap isu sosial, dan komitmen untuk membuat perubahan.
Bagi pembaca Beritakota, kisah Glorya adalah pengingat bahwa menjadi perempuan modern berarti berani peduli—pada diri sendiri, pada kesehatan, dan pada orang lain. Karena pada akhirnya, memahami tubuh sendiri, menjaga kesehatan, dan berani berbicara tentang isu yang penting adalah bentuk self-love yang paling nyata. (Herman Effendi/Lukman Hqeem)

