Beritako.id, Bandung — Di balik pertumbuhan industri asuransi nasional, Indonesia menghadapi persoalan yang jarang menjadi perhatian publik: kekurangan tenaga aktuaris. Padahal, profesi ini memegang peran penting dalam menjaga kesehatan keuangan perusahaan asuransi, terlebih ketika industri memasuki transisi menuju standar akuntansi baru yang menjadi perubahan terbesar dalam lebih dari dua dekade terakhir.

Mulai 1 Januari 2025, perusahaan asuransi diwajibkan menerapkan PSAK 74 tentang Kontrak Asuransi—yang kemudian diadopsi menjadi PSAK 117—sebagai implementasi standar internasional IFRS 17. Perubahan tersebut bukan sekadar penyesuaian laporan keuangan, tetapi juga mengubah cara perusahaan menghitung kewajiban polis, mengukur risiko, hingga mengakui laba secara lebih transparan. Implementasi standar baru ini membuat kebutuhan terhadap tenaga aktuaria yang kompeten semakin mendesak.

Baca juga : AXA Magnificent Link Solusi Perlindungan dan Investasi di Masa Pandemi

Dalam konteks itulah, kolaborasi AXA Financial Indonesia (AFI) dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi lebih dari sekadar program beasiswa. Kemitraan ini dapat dibaca sebagai investasi jangka panjang untuk memperkuat pasokan sumber daya manusia di salah satu profesi paling strategis dalam industri jasa keuangan.

Profesi yang Menjadi Tulang Punggung Industri

Aktuaris sering kali dipersepsikan sebagai ahli matematika. Padahal, ruang lingkup pekerjaannya jauh lebih luas. Mereka bertanggung jawab menghitung probabilitas risiko, menentukan kecukupan premi, memperkirakan kewajiban klaim jangka panjang, hingga memastikan perusahaan memiliki cadangan dana yang memadai untuk memenuhi kewajibannya kepada pemegang polis.

Dengan kata lain, aktuaris merupakan salah satu fondasi pengambilan keputusan bisnis di perusahaan asuransi. Ketika regulator menerapkan standar akuntansi yang lebih kompleks, kebutuhan terhadap profesi ini ikut meningkat.

Persoalannya, jumlah aktuaris di Indonesia masih terbatas.

Berdasarkan data Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) hingga Maret 2024, Indonesia memiliki 817 aktuaris profesional, terdiri atas 532 Fellow Society of Actuaries of Indonesia (FSAI) dan 285 Associate of the Society of Actuaries of Indonesia (ASAI). Angka tersebut masih jauh dari target sekitar 3.000 aktuaris yang diperkirakan dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan industri nasional. Artinya, pasokan tenaga profesional baru memenuhi sekitar separuh kebutuhan.

Keterbatasan tersebut mulai terlihat dalam operasional industri. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pada awal 2024 masih terdapat sejumlah perusahaan asuransi yang belum memenuhi ketentuan memiliki aktuaris perusahaan (appointed actuary), meski tren pemenuhannya terus membaik. Regulator menegaskan bahwa keberadaan aktuaris menjadi semakin penting seiring implementasi PSAK 74.

Bukan Sekadar Beasiswa

Di tengah kondisi tersebut, AXA Financial Indonesia memilih membangun jalur regenerasi talenta langsung dari perguruan tinggi.

Melalui kerja sama dengan FMIPA ITB, mahasiswa terbaik dari Program Studi Aktuaria dan Matematika akan mengikuti proses seleksi sebelum menjalani program magang di kantor AXA Financial Indonesia pada akhir semester enam.

Peserta terbaik kemudian memperoleh beasiswa selama dua semester terakhir masa studi yang mencakup biaya pendidikan, tunjangan bulanan, pembinaan profesional, pelatihan, hingga persiapan mengikuti ujian profesi aktuaris. Setelah lulus, mereka berkesempatan mengikuti program Management Trainee selama 24 bulan sebagai jalur percepatan menuju karier profesional di industri asuransi.

Presiden Direktur AXA Financial Indonesia, Niharika Yadav, mengatakan perusahaan ingin menggabungkan kekuatan akademik ITB dengan pengalaman praktis industri agar mahasiswa memiliki kompetensi yang dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja.

Sementara itu, Dekan FMIPA ITB Prof. Ir. Wahyu Srigutomo menilai model kerja sama tersebut memberikan nilai tambah karena menghubungkan pendidikan, pengalaman industri, dan peluang karier dalam satu ekosistem pembinaan talenta.

Kompetisi Talenta Akan Semakin Ketat

Bagi industri, tantangan sebenarnya bukan hanya memenuhi jumlah aktuaris, tetapi juga meningkatkan kualitas kompetensinya.

Implementasi IFRS 17 di berbagai negara menunjukkan bahwa perubahan standar akuntansi mendorong perusahaan asuransi berinvestasi pada sistem, data, teknologi, dan sumber daya manusia secara bersamaan. Di Indonesia, OJK bahkan telah meminta perusahaan melakukan parallel run dan mempercepat kesiapan sistem sebelum standar baru diberlakukan secara penuh.

Artinya, kebutuhan aktuaris tidak lagi terbatas pada fungsi perhitungan premi. Profesi ini kini semakin erat dengan analisis data, pemodelan risiko, tata kelola perusahaan, hingga transformasi digital sektor keuangan.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan persaingan memperoleh talenta. Perusahaan asuransi diperkirakan akan semakin aktif merekrut lulusan aktuaria terbaik, sementara perguruan tinggi dituntut menghasilkan lebih banyak lulusan yang siap memasuki dunia profesional.

Dalam perspektif itu, kerja sama AXA Financial Indonesia dan FMIPA ITB bukan sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan. Kemitraan ini mencerminkan perubahan strategi pengembangan sumber daya manusia di industri asuransi: perusahaan tidak lagi menunggu talenta tersedia di pasar, tetapi mulai membangun jalur pasokannya sendiri melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi.

Bagi mahasiswa, program semacam ini membuka akses terhadap pendidikan, pengalaman industri, sertifikasi profesi, dan peluang karier dalam satu rangkaian. Bagi industri, langkah tersebut menjadi investasi jangka panjang untuk menjawab kebutuhan kompetensi yang semakin kompleks.

Di tengah transformasi regulasi dan meningkatnya tuntutan tata kelola, keberhasilan industri asuransi ke depan tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal atau inovasi produk, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan talenta yang mampu mengelola risiko dengan standar global. Kolaborasi antara dunia usaha dan perguruan tinggi menjadi salah satu fondasi untuk mencapai tujuan tersebut. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *