Beritakota.id, Jakarta Timur – Harga minyak mentah menutup perdagangan pekan lalu dengan kecenderungan menguat di tengah meningkatnya kembali perhatian pasar terhadap risiko geopolitik di Timur Tengah. WTI Crude berakhir di US$72,03 per barel, sementara Brent Crude ditutup di US$75,98 per barel, mencatatkan kenaikan mingguan setelah sempat tertekan oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi global.

Sentimen positif terutama berasal dari meningkatnya kembali kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Teluk Persia. Meskipun Amerika Serikat dan Iran dikabarkan akan kembali membuka jalur negosiasi, pelaku pasar masih memandang ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz sebagai faktor yang dapat mengganggu pasokan minyak global. Jalur ini mengalirkan hampir seperlima perdagangan minyak dunia, sehingga setiap peningkatan ketegangan berpotensi langsung tercermin pada premi risiko harga minyak.

Baca juga : Selat Hormuz Masih Jadi Penentu Arah Pasar Minyak Dunia

Di sisi lain, penguatan Indeks Dolar AS (DXY) ke area 100,9 membatasi kenaikan minyak. Mata uang dolar yang lebih kuat membuat harga komoditas berbasis dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli internasional, sehingga dapat menekan permintaan dalam jangka pendek. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, dengan US Treasury 10-Year bertahan di 4,561%, juga menunjukkan pasar masih mengantisipasi kebijakan moneter yang cenderung ketat.

Pekan ini perhatian investor akan tertuju pada serangkaian data ekonomi Amerika Serikat, terutama Inflation Rate (CPI), Producer Price Index (PPI), Retail Sales, serta Michigan Consumer Sentiment. Data-data tersebut akan menjadi indikator penting dalam membentuk ekspektasi arah suku bunga Federal Reserve. Apabila inflasi kembali menunjukkan perlambatan, harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter dapat meningkat dan menjadi katalis positif bagi harga minyak melalui prospek pertumbuhan permintaan energi.

Namun sebaliknya, apabila inflasi tetap tinggi dan mendorong penguatan dolar lebih lanjut, harga minyak berpotensi mengalami tekanan meskipun risiko geopolitik masih bertahan. Dengan kata lain, pasar saat ini berada di persimpangan antara faktor fundamental makro dan premi risiko geopolitik.

Secara keseluruhan, prospek minyak untuk pekan ini masih cenderung konstruktif selama harga WTI mampu bertahan di atas area psikologis US$70 per barel. Risiko pasokan dari Timur Tengah diperkirakan tetap menjadi penopang utama, sementara arah pergerakan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi AS dan ekspektasi kebijakan Federal Reserve. Volatilitas diperkirakan meningkat menjelang rilis data ekonomi utama, sehingga pelaku pasar perlu mewaspadai perubahan sentimen yang dapat memicu pergerakan harga secara cepat.

Selama ketegangan geopolitik belum sepenuhnya mereda dan harga bertahan di atas area US$70 per barel, peluang penguatan menuju kisaran US$73,50–74,50 untuk WTI dan US$77–78 untuk Brent masih terbuka. Namun, penguatan dolar AS yang berlanjut tetap menjadi risiko utama yang dapat membatasi reli minyak dalam jangka pendek. ( Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *