Beritakota.id, Jakarta Timur – Sebuah kisah horor yang kuat tidak selalu lahir dari sosok makhluk gaib yang menakutkan. Terkadang, rasa takut justru muncul dari sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan manusia: sebuah luka, pengkhianatan,  ketidakadilan, dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Inilah ruang yang coba dibangun oleh film “LASTRI: Arwah Kembang Desa”.

Film produksi Abelle Pictures ini membawa kisah urban legend tentang Lastri, seorang perempuan muda yang dikenal sebagai “Kembang Desa” di Kampung Bendo. Sebuah sosok yang dalam cerita film bukan hanya menjadi arwah penasaran, tetapi simbol dari luka panjang akibat fitnah dan ketidakadilan.

Disutradarai oleh Hendry Tivo, film ini tidak hanya menawarkan teror supernatural. LASTRI menghadirkan horor yang berangkat dari tragedi manusia.

Baca juga : Review Film Love Barista: Romansa Secangkir Kopi Vietnam

Lastri adalah gambaran seseorang yang kehilangan kepercayaan dari orang-orang terdekatnya. Setelah mengalami peristiwa tragis dalam hidupnya, ia meninggalkan dunia dengan membawa luka yang belum terselesaikan. Namun kematian bukan akhir dari kisahnya. Arwah Lastri kembali membawa pertanyaan besar: bagaimana sebuah kebenaran yang terkubur selama puluhan tahun akhirnya menemukan jalannya?

Dari sisi cerita, LASTRI mencoba menghadirkan formula horor yang tidak hanya bergantung pada kejutan visual. Film ini lebih banyak bermain pada atmosfer, suasana pedesaan, konflik psikologis, dan rasa tidak nyaman yang perlahan dibangun.

Sosok Lastri yang diperankan Hana Saraswati menjadi pusat emosional film. Ia tidak hanya menghadirkan karakter perempuan yang menakutkan, tetapi juga memperlihatkan sisi tragis seorang korban yang kehilangan ruang untuk membela dirinya.

Sementara itu, Gary Iskak hadir sebagai Turenggo atau Renggo, sosok suami yang menjadi bagian penting dari konflik perjalanan Lastri. Karakter tersebut membawa lapisan drama tersendiri karena menghadirkan persoalan tentang kepercayaan, cinta, dan penyesalan.

Kehadiran Gary Iskak dalam film ini juga memiliki makna tersendiri bagi perjalanan karya tersebut. Film ini merupakan karya layar lebar beliau meninggal akibat kecelakaan tunggal pada 25 November 2025 silam. Sebagai salah satu aktor yang telah memberikan warna bagi perfilman Indonesia, kontribusinya menjadi bagian penting dari perjalanan LASTRI menuju layar lebar.

Selain Hana Saraswati dan Gary Iskak, film ini turut diperkuat oleh Yama Carlos, Audy Bella, Nando Hilmy, Joe Richard, Dodit Mulyanto, Debby Sahertian, Rizal Djibran, Rency Milano, Ingrid Wijanarko, Ratu Meta, dan sejumlah pemain lainnya.

Hendry Tivo dan Mimpi Membawa Lumajang ke Layar Lebar

Di balik kisah horor LASTRI, terdapat sebuah mimpi yang lebih besar. Bagi sang sutradara Hendry Tivo, film ini bukan hanya tentang menghadirkan cerita menakutkan kepada penonton. Film ini juga menjadi cara untuk memperkenalkan tanah kelahirannya, Lumajang, kepada masyarakat Indonesia.

Lumajang bukan sekadar lokasi syuting. Daerah yang dikenal sebagai Kota Pisang ini menjadi bagian dari identitas film. Dalam LASTRI, suasana pedesaan, lanskap alam, dan jejak sejarah menjadi elemen penting yang membangun dunia cerita.

Hendry Tivo mencoba menghadirkan sebuah pendekatan bahwa sebuah daerah memiliki cerita yang layak dikenal lebih luas. Selama ini banyak daerah di Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang besar, namun belum semuanya mendapatkan ruang dalam industri kreatif nasional.

Melalui film, sebuah tempat dapat berbicara. Sebuah lanskap dapat menjadi karakter. Dan sebuah daerah dapat memperkenalkan dirinya kepada dunia.

Baca juga : Jirayut Debut di Film Cek Khodam, Akui Sempat Kurang Percaya Diri Berakting

Lumajang, Antara Kemegahan Semeru dan Jejak Masa Lalu Jatiroto

Ada alasan mengapa Lumajang memiliki daya tarik kuat bagi dunia visual. Kota yang berada di kaki Gunung Semeru, kota ini memiliki lanskap alam yang menghadirkan perpaduan antara kemegahan dan ketenangan. Semeru sendiri bukan hanya gunung tertinggi di Pulau Jawa. Ia adalah simbol kekuatan alam yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari identitas masyarakat Lumajang.

Kabut yang turun di kawasan pegunungan, hamparan hijau perkebunan, serta desa-desa yang berada di sekitar kaki gunung menghadirkan atmosfer yang sulit ditemukan di wilayah perkotaan. Dalam dunia sinema, alam seperti ini bukan hanya menjadi latar. Ia menjadi bagian dari emosi cerita.

Selain Semeru, Lumajang juga dikenal dengan keindahan kawasan Ranu Kumbolo, sebuah danau pegunungan yang menjadi salah satu ikon perjalanan menuju kawasan Semeru. Keheningan air danau, panorama pegunungan, serta suasana alam yang jauh dari hiruk pikuk kota menghadirkan gambaran tentang hubungan manusia dengan alam.

Di sisi lain, Lumajang juga menyimpan cerita sejarah melalui kawasan Pabrik Gula Jatiroto. Deretan rumah dinas bergaya kolonial yang masih berdiri menjadi pengingat perjalanan panjang industri perkebunan di Jawa Timur. Bangunan-bangunan lama tersebut memiliki karakter arsitektur yang khas. Pintu besar, halaman luas, dan nuansa masa lalu memberikan atmosfer tersendiri.

Dalam sebuah film, ruang seperti ini bukan sekadar lokasi. Ia membawa memori. Ia membawa sejarah. Dan ia memberikan kedalaman visual bagi cerita yang ingin disampaikan.

Baca juga : Film Cinta Lama Babak Kedua, Reuni Slamet Rahardjo dan Widyawati di Layar Lebar

Audy Bella, Perempuan di Balik Perjalanan LASTRI

Sebuah film tidak hanya lahir dari kamera dan pemain. Di balik layar, selalu ada keberanian seseorang yang percaya bahwa sebuah cerita layak diwujudkan. Dalam perjalanan LASTRI, sosok tersebut adalah Audy Bella. Selain tampil sebagai pemeran Atmi, Audy Bella mengambil peran lebih besar sebagai Eksekutif Produser.

Ia menjadi salah satu penggerak utama yang membawa film ini hingga bertemu dengan penonton. Peran tersebut memberikan tantangan berbeda. Sebagai aktris, ia harus memahami karakter dan emosi tokoh yang dimainkan. Sebagai produser, ia harus memastikan sebuah visi kreatif dapat diterjemahkan menjadi sebuah karya.

Keputusan membawa cerita lokal dengan latar Lumajang menunjukkan keberanian untuk memberikan ruang bagi kisah Indonesia yang berangkat dari daerah. LASTRI akhirnya bukan hanya sebuah film horor. Ia adalah perjalanan tentang sebuah cerita lokal yang mencari tempat di panggung nasional. Film ini mempertemukan tiga kekuatan: kisah manusia, keindahan alam, dan keberanian kreator.

Mulai 16 Juli 2026, penonton Indonesia akan diajak memasuki dunia Lastri. Sebuah kisah tentang luka dan keadilan. Sebuah perjalanan dari Lumajang. Dan sebuah cerita yang akhirnya menemukan jalannya menuju layar lebar Indonesia. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *