Beritakota.id, Bandung – Di balik selembar kain batik tersimpan perjalanan panjang budaya, ilmu pengetahuan, hingga inovasi teknologi yang terus berkembang. Namun, masih banyak masyarakat yang hanya mengagumi keindahan motifnya tanpa memahami proses panjang yang menjadikan batik diakui sebagai warisan budaya dunia.
Pemahaman itulah yang diperoleh puluhan jurnalis yang tergabung dalam Sindikasi Media Network (SMN) saat mengunjungi Workshop Rumah Batik Komar di kawasan Cigadung, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (15/7/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan mengenai perkembangan industri batik nasional sekaligus memperkuat jejaring pemberitaan di bidang budaya dan ekonomi kreatif.
Rombongan disambut langsung oleh pendiri Rumah Batik Komar, Dr. H. Komarudin Kudiya, yang memaparkan perjalanan Rumah Batik Komar sejak berdiri pada 1998. Menurutnya, Rumah Batik Komar tidak hanya berfungsi sebagai sentra produksi batik, tetapi juga berkembang menjadi pusat pendidikan, penelitian, inovasi, dokumentasi, dan pelestarian batik Indonesia.
Dalam sesi workshop, Komarudin menyoroti masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai batik autentik. Ia mengatakan, banyak orang hanya menilai batik dari tampilan visualnya, tanpa mengetahui filosofi, teknik, serta proses panjang pembuatannya.
“Orang sering melihat batik hanya dari tampilannya. Padahal batik memiliki proses, ekspresi, dan nilai budaya yang tidak dimiliki kain bermotif batik hasil cetak,” ujar Komarudin.
Ia menjelaskan, batik autentik lahir melalui proses perintangan warna menggunakan malam panas yang diaplikasikan secara manual, baik dengan canting tulis maupun canting cap. Karena itu, kain bermotif batik yang diproduksi dengan teknik printing tidak dapat disamakan dengan batik yang dibuat melalui proses membatik.
Komarudin juga menepis kekhawatiran terhadap berbagai klaim budaya dari negara lain. Menurutnya, selama Indonesia mampu menjaga kualitas, mengembangkan inovasi, serta mencetak generasi baru pembatik, posisi batik Indonesia akan tetap kuat di tingkat internasional.
“Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi batik justru menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing batik Indonesia di dunia,” katanya.
Baca juga: APPBI Gelar Puspa Nuswantara 2026, Dorong Pelestarian Batik Asli dan Penguatan UMKM Batik
Dalam kesempatan tersebut, peserta diperkenalkan pada berbagai inovasi yang dikembangkan Rumah Batik Komar. Salah satunya Batik Pendulum, alat yang memanfaatkan gerakan ayunan untuk mengalirkan malam panas sehingga menghasilkan pola dan garis dengan karakter yang unik.
Selain itu, Rumah Batik Komar juga mengembangkan berbagai perangkat pencantingan, meja kerja ergonomis, serta peralatan pendukung proses produksi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi tanpa menghilangkan sentuhan tangan para pembatik.
Menurut Komarudin, teknologi seharusnya menjadi alat bantu yang mendukung proses kreatif, bukan menggantikan keterampilan manusia dalam membatik.
“Selama proses pembatikan masih menggunakan lilin panas sebagai perintang warna dan dikerjakan melalui teknik membatik, inovasi tersebut tetap berada dalam koridor pelestarian batik,” jelasnya.
Selain menyaksikan secara langsung proses pembuatan batik tulis dan batik cap, peserta juga diajak melihat koleksi yang dimiliki Rumah Batik Komar. Rumah batik tersebut menyimpan lebih dari 10.000 desain batik, sekitar 4.000 canting cap tembaga, serta berbagai buku hasil penelitian batik yang telah diterbitkan Komarudin. Tak hanya itu, Rumah Batik Komar juga telah mengantongi empat paten industri yang berkaitan dengan pengembangan alat bantu membatik.
Melalui program Eduwisata Batik, Rumah Batik Komar secara konsisten membuka ruang belajar bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, pelaku UMKM, hingga masyarakat umum untuk mempelajari sejarah, filosofi, teknik membatik, serta pengembangan usaha berbasis batik.
Program edukasi tersebut telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua, sebagai bagian dari upaya memperkuat regenerasi pembatik sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa.
Kunjungan Sindikasi Media Network diharapkan menjadi awal kolaborasi yang lebih luas dalam memperkuat publikasi mengenai batik Indonesia. Melalui pemberitaan yang edukatif, media diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat mengenai perbedaan batik autentik dengan tekstil bermotif batik, sekaligus mendorong pelestarian batik melalui riset, inovasi, dokumentasi, dan edukasi yang berkelanjutan. (***)

