Beritakota.id, Jakarta – Timnas Spanyol akhirnya kembali menorehkan sejarah dengan menjuarai Piala Dunia FIFA 2026 setelah mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0 melalui babak extra time pada partai final yang berlangsung di New Jersey Stadium, Amerika Serikat, Senin (20/7/2026) dini hari WIB.
Kemenangan ini mengakhiri penantian panjang 16 tahun La Roja untuk kembali mengangkat trofi Piala Dunia sejak terakhir kali menjadi juara pada edisi 2010 di Afrika Selatan.
Gol tunggal Ferran Torres pada menit ke-106 menjadi penentu kemenangan Spanyol sekaligus memastikan gelar juara dunia kedua dalam sejarah sepak bola negara tersebut.
Baca Juga: Spanyol vs Argentina, Siapa Juara Piala Dunia 2026? Ini Prediksi dan Statistiknya
Final Berjalan Ketat, Spanyol Dominan Sepanjang Laga
Partai puncak mempertemukan dua kekuatan besar sepak bola dunia dengan gaya permainan yang berbeda.
Sejak peluit awal dibunyikan, Spanyol tampil dominan melalui penguasaan bola dan tekanan tinggi ke pertahanan Argentina.
Berdasarkan statistik pertandingan, La Roja menguasai sekitar 66 persen penguasaan bola dan melepaskan 20 tembakan, dengan 12 di antaranya mengarah ke gawang. Sebaliknya, Argentina kesulitan mengembangkan permainan.
Selama 90 menit waktu normal, tim asuhan Lionel Scaloni tidak mampu mencatatkan satu pun tembakan. Peluang pertama baru tercipta pada babak tambahan waktu setelah tertinggal lebih dahulu.
Meski demikian, Lionel Messi dan rekan-rekannya tetap memberikan perlawanan sengit hingga menit-menit akhir pertandingan.
Baca Juga: Spanyol Juara, De Margo Tutup Nobar Piala Dunia 2026 Meriah
Ferran Torres Pecahkan Kebuntuan
Setelah kedua tim bermain imbang tanpa gol sepanjang waktu normal, Spanyol akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-106.
Ferran Torres sukses memanfaatkan peluang di kotak penalti dan mengirim bola ke gawang Argentina untuk membawa La Roja unggul 1-0.
Gol tersebut langsung disambut selebrasi para pemain Spanyol yang menghampiri Torres di sudut lapangan, menyadari mereka semakin dekat dengan trofi juara dunia.
Argentina kemudian meningkatkan intensitas serangan untuk mengejar ketertinggalan. Namun, rapatnya pertahanan Spanyol mampu mempertahankan keunggulan hingga peluit panjang dibunyikan.
Meski gagal mempertahankan gelar juara, penampilan kiper Argentina Emiliano Martínez mendapat banyak apresiasi.
Penjaga gawang tersebut melakukan sejumlah penyelamatan penting yang membuat Argentina tetap bertahan dalam pertandingan hingga babak tambahan waktu.
Salah satu aksi terbaiknya terjadi saat menggagalkan tendangan bebas Lamine Yamal menjelang berakhirnya babak kedua. Berdasarkan statistik pertandingan, Martínez membukukan 11 penyelamatan, sebuah catatan yang disebut sebagai rekor penyelamatan terbanyak dalam satu final Piala Dunia.
Argentina Sempat Bermain dengan 10 Pemain
Drama lain terjadi ketika Argentina harus bermain dengan 10 pemain setelah Enzo Fernández menerima kartu merah akibat pelanggaran keras terhadap bek muda Spanyol Pau Cubarsí.
Kehilangan satu pemain membuat Argentina semakin kesulitan membangun serangan pada fase akhir pertandingan.
La Roja Bangkit Setelah 16 Tahun
Gelar ini menjadi momen kebangkitan bagi Spanyol setelah mengalami perjalanan yang tidak selalu mulus sejak menjadi juara dunia pada 2010.
Usai menjuarai Piala Dunia di Afrika Selatan, La Roja gagal mempertahankan performa terbaiknya. Mereka tersingkir pada fase grup Piala Dunia 2014 dan belum mampu kembali ke partai final dalam dua edisi berikutnya.
Di bawah kepemimpinan pelatih Luis de la Fuente, Spanyol berhasil membangun kembali kekuatan tim dengan memadukan pemain senior dan talenta muda seperti Lamine Yamal, Pau Cubarsí, serta sejumlah pemain yang tampil konsisten sepanjang turnamen.
Keberhasilan tersebut sekaligus mengukuhkan Spanyol sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola dunia dengan koleksi dua gelar Piala Dunia, yakni pada 2010 dan 2026.

