Beritakota.id, Jakarta – Banyak masyarakat bertanya-tanya mengapa hujan masih kerap turun di berbagai daerah, padahal Indonesia telah memasuki musim kemarau. Di sejumlah wilayah, pagi hari berlangsung cerah, namun menjelang sore awan gelap muncul disertai hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Fenomena ini memunculkan anggapan bahwa musim kemarau tahun ini “tidak normal”.

Namun, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi tersebut justru masih berada dalam karakteristik iklim Indonesia sebagai negara tropis. Musim kemarau tidak berarti hujan berhenti sepenuhnya. Yang terjadi adalah penurunan frekuensi dan intensitas hujan dibandingkan musim penghujan.

Analisis BMKG menunjukkan hingga Dasarian I Juli 2026 sekitar 423 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 60,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut mencakup sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua. Di saat yang sama, sebagian wilayah bahkan telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori sangat panjang hingga lebih dari 60 hari.

Ironisnya, di tengah meluasnya musim kemarau itu, potensi hujan masih tetap muncul di sejumlah daerah.

Baca juga : Jakarta Panas Ekstrem, Pramono: Belum Perlu Hujan Buatan

Kemarau Tidak Identik dengan Langit Selalu Cerah

BMKG menjelaskan masih adanya hujan dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang bekerja pada skala global, regional, hingga lokal. Aktivitas gelombang atmosfer tropis, ketidakstabilan udara, serta proses pembentukan awan konvektif masih mampu memicu hujan, terutama pada sore hingga malam hari.

Dengan kata lain, kemarau di Indonesia bukanlah musim kering mutlak seperti yang terjadi di kawasan subtropis. Indonesia tetap memiliki kandungan uap air yang cukup tinggi sehingga pembentukan awan hujan masih mungkin terjadi ketika kondisi atmosfer mendukung.

Fenomena ini juga menjelaskan mengapa dalam satu provinsi dapat terjadi kondisi yang sangat berbeda. Sebagian daerah mengalami kekeringan, sementara wilayah lain yang hanya berjarak puluhan kilometer masih diguyur hujan.

El Niño Menguat, Tetapi Hujan Belum Sepenuhnya Hilang

Tahun ini Indonesia juga dipengaruhi oleh penguatan El Niño, fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang umumnya mengurangi curah hujan di Indonesia. Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa dampak El Niño tidak bekerja secara seragam. Pengaruh sistem cuaca regional dan lokal masih mampu menghasilkan hujan di sejumlah wilayah, terutama Indonesia bagian utara dan kawasan sekitar ekuator.

Selain itu, aktivitas gelombang atmosfer tropis seperti Kelvin Wave, Equatorial Rossby Wave, serta kondisi atmosfer yang labil masih menjadi pemicu utama terbentuknya awan hujan dalam beberapa pekan terakhir.

Fenomena lain yang sering dirasakan masyarakat adalah hujan yang datang justru berlangsung singkat tetapi berintensitas tinggi. Menurut BMKG, kondisi tersebut dipengaruhi proses konveksi lokal. Ketika permukaan bumi mengalami pemanasan cukup kuat pada siang hari, udara lembap naik dengan cepat dan membentuk awan Cumulonimbus. Awan jenis ini mampu menghasilkan hujan lebat, kilat, petir, bahkan angin kencang dalam waktu relatif singkat. Karena bersifat lokal, hujan bisa hanya mengguyur satu kecamatan, sementara wilayah di sekitarnya tetap cerah.

Masyarakat Tetap Diminta Waspada

BMKG memprakirakan dalam periode 21–27 Juli 2026 sebagian besar wilayah Indonesia memang masih didominasi kondisi cerah hingga berawan. Namun, peluang hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah akibat dinamika atmosfer yang belum sepenuhnya melemah.

Di sisi lain, musim kemarau terus meluas. Hari Tanpa Hujan dengan kategori sangat panjang masih terpantau di banyak wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Sulawesi. Artinya, Indonesia saat ini menghadapi dua kondisi sekaligus: risiko kekeringan di sebagian daerah dan potensi hujan lebat lokal di wilayah lainnya.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa memahami cuaca tidak cukup hanya berpatokan pada kalender musim. Dinamika atmosfer tropis membuat perubahan cuaca dapat berlangsung sangat cepat, sehingga masyarakat perlu memantau informasi prakiraan cuaca resmi BMKG secara berkala, terutama bagi pelaku transportasi, petani, nelayan, maupun masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *