Beritakota.id, Jakarta Timur – Ketika suku bunga deposito masih menawarkan imbal hasil yang relatif stabil, sementara harga rumah terus mengalami kenaikan meski melambat, muncul satu pertanyaan yang banyak diajukan calon investor: lebih baik membeli rumah atau menyimpan dana di deposito?.
Jawabannya ternyata tidak sesederhana memilih instrumen dengan keuntungan paling tinggi.
Rumah dan deposito memiliki karakteristik yang berbeda. Deposito menawarkan kepastian imbal hasil dengan risiko relatif rendah. Sebaliknya, properti berpotensi memberikan keuntungan dari kenaikan nilai aset (capital gain) dan pendapatan sewa (rental yield), tetapi membutuhkan modal lebih besar serta memiliki likuiditas yang lebih rendah.
Karena itu, keputusan investasi tidak hanya bergantung pada potensi keuntungan, melainkan juga tujuan keuangan, profil risiko, dan jangka waktu investasi.
Baca juga : Kementerian PKP Siap Perkuat Dukungan Program Perumahan di Kepulauan Nias
Deposito Menawarkan Kepastian, Properti Menawarkan Potensi
Bank Indonesia dalam Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Triwulan I 2026 mencatat harga properti residensial di pasar primer masih tumbuh 0,62 persen (year-on-year). Meski pertumbuhannya terbatas dibanding periode sebelumnya, data tersebut menunjukkan nilai rumah secara umum masih bergerak naik.
Di sisi lain, mayoritas pembelian rumah di Indonesia masih dilakukan melalui fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dengan pangsa hampir 70 persen dari seluruh transaksi rumah primer. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap hunian masih cukup kuat meskipun kondisi ekonomi sedang menghadapi tantangan.
Sementara itu, deposito tetap menjadi pilihan masyarakat yang mengutamakan keamanan modal. Produk ini memberikan tingkat bunga yang telah ditentukan sejak awal dan dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sesuai ketentuan yang berlaku, sehingga relatif minim risiko dibanding instrumen investasi berbasis pasar.
Bank: Deposito Cocok untuk Investor Konservatif
Dalam penjelasan resminya, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menyebut deposito merupakan instrumen investasi yang cocok bagi nasabah dengan profil risiko konservatif karena menawarkan kepastian imbal hasil dan tidak terpengaruh fluktuasi pasar.
Menurut BTN, deposito menjadi alternatif bagi masyarakat yang mengutamakan keamanan dana sekaligus memperoleh bunga yang umumnya lebih tinggi dibanding tabungan biasa. Selain itu, dana nasabah juga terlindungi melalui skema penjaminan LPS sesuai ketentuan yang berlaku.
Karakter inilah yang membuat deposito sering dijadikan tempat menyimpan dana jangka pendek maupun dana darurat sebelum dialihkan ke instrumen investasi lain.
Pengamat: Rumah Tetap Menarik, Asalkan Perhitungannya Tepat
Namun, rumah masih memiliki daya tarik tersendiri sebagai investasi jangka panjang.
Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad menilai rumah tetap dapat menjadi instrumen investasi yang menguntungkan, tetapi tidak secara otomatis berlaku bagi semua orang.
Menurutnya, kelayakan investasi properti harus dihitung berdasarkan selisih antara kenaikan nilai aset dengan seluruh biaya kepemilikan, termasuk cicilan pokok, bunga KPR, pajak, biaya perawatan, hingga biaya administrasi.
“Jika kenaikan harga rumah lebih tinggi daripada total biaya kepemilikannya, maka rumah masih layak disebut sebagai investasi,” ujar Tauhid Ahmad.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa membeli rumah semata karena keyakinan harga akan terus naik tidak selalu menghasilkan keuntungan apabila biaya kepemilikannya juga meningkat.
Jangan Hanya Melihat Capital Gain
Kesalahan yang sering dilakukan investor pemula adalah hanya menghitung kenaikan harga rumah. Padahal investasi properti memiliki sejumlah komponen biaya yang tidak sedikit, mulai dari pajak, renovasi, perawatan bangunan, biaya notaris, hingga risiko rumah kosong apabila disewakan.
Sebaliknya, deposito memang tidak memberikan potensi kenaikan nilai aset, tetapi menawarkan arus kas yang lebih mudah diprediksi. Artinya, membandingkan rumah dengan deposito bukan sekadar membandingkan tingkat keuntungan, melainkan juga membandingkan karakter risiko masing-masing.
Siapa yang Sebaiknya Memilih Deposito?
Deposito lebih sesuai bagi investor yang memiliki tujuan keuangan dalam jangka pendek hingga menengah. Instrumen ini juga cocok bagi masyarakat yang belum ingin menghadapi risiko fluktuasi harga aset maupun tanggung jawab mengelola properti.
Keunggulan lainnya adalah likuiditas yang relatif lebih baik setelah jatuh tempo serta tidak membutuhkan biaya perawatan seperti properti.
Siapa yang Sebaiknya Memilih Rumah?
Rumah menjadi pilihan menarik bagi investor dengan horizon investasi jangka panjang. Selain berpotensi memperoleh capital gain, properti juga dapat menghasilkan pendapatan pasif apabila disewakan.
Namun keberhasilan investasi properti sangat dipengaruhi oleh lokasi, perkembangan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi kawasan, akses transportasi, hingga tingkat permintaan pasar. Membeli rumah di lokasi yang kurang berkembang dapat membuat kenaikan nilainya jauh lebih lambat dibanding ekspektasi investor.
Pilihan Terbaik Bergantung pada Tujuan Keuangan
Tidak ada jawaban tunggal mengenai instrumen mana yang paling menguntungkan. Deposito unggul dari sisi keamanan dan kepastian hasil. Properti menawarkan peluang keuntungan yang lebih besar dalam jangka panjang, tetapi juga membutuhkan modal, kesabaran, dan manajemen risiko yang lebih tinggi.
Bahkan banyak perencana keuangan menyarankan keduanya tidak diposisikan sebagai pesaing, melainkan saling melengkapi dalam sebuah portofolio investasi. Dana yang dibutuhkan dalam waktu dekat dapat ditempatkan pada deposito. Sementara dana yang memiliki horizon investasi panjang dapat dialokasikan ke properti dengan mempertimbangkan kemampuan finansial dan prospek kawasan.
Pada akhirnya, keputusan terbaik bukan ditentukan oleh instrumen mana yang paling populer, melainkan oleh seberapa sesuai investasi tersebut dengan tujuan keuangan, kemampuan arus kas, dan toleransi risiko masing-masing investor. (Lukman Hqeem)

