Beritakota.id, Jakarta – Batu saluran kemih masih menjadi salah satu penyakit urologi yang banyak dialami masyarakat Indonesia. Kondisi ini sering kali diawali dengan keluhan nyeri hebat di pinggang, nyeri saat buang air kecil, hingga munculnya darah dalam urine. Namun, tidak sedikit penderita yang mengabaikan gejala tersebut sehingga berisiko mengalami komplikasi serius, seperti infeksi saluran kemih hingga penurunan fungsi ginjal.
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini dan penanganan yang tepat, RS Premier Bintaro menggelar Media Gathering bertema “Penanganan Terkini Batu Saluran Kemih” di Jakarta, Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini menghadirkan Dokter Spesialis Urologi RS Premier Bintaro, dr. Teguh Risesa Djufri, Sp.U., FICS, yang memaparkan perkembangan teknologi terbaru dalam diagnosis dan terapi batu saluran kemih.
dr. Teguh menjelaskan bahwa batu saluran kemih terbentuk akibat pengendapan mineral dan garam di ginjal maupun saluran kemih. Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, seperti kurang mengonsumsi air putih, pola makan tinggi garam dan protein hewani, obesitas, riwayat keluarga, hingga gangguan metabolisme tertentu.
“Keluhan yang paling sering dirasakan pasien adalah nyeri hebat di bagian pinggang yang dapat menjalar ke perut bawah atau selangkangan. Selain itu, pasien juga dapat mengalami nyeri saat buang air kecil, urine berdarah, mual, muntah, hingga demam apabila telah terjadi infeksi,” ujar dr. Teguh.
Ia menjelaskan, kemajuan teknologi di bidang urologi telah mengubah cara penanganan batu saluran kemih menjadi jauh lebih efektif dan minim invasif dibandingkan operasi terbuka yang selama ini dikenal masyarakat. Pemilihan metode terapi disesuaikan dengan ukuran, lokasi, jumlah batu, serta kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh.
Saat ini tersedia berbagai pilihan tindakan modern, di antaranya Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) yang memanfaatkan gelombang kejut untuk memecah batu tanpa pembedahan, Ureteroscopy (URS) menggunakan kamera kecil melalui saluran kemih, hingga Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS) yang memanfaatkan teknologi laser untuk menghancurkan batu ginjal tanpa memerlukan sayatan.
Baca juga: RS Premier Bintaro Edukasi Bedah Bariatrik untuk Tangani Obesitas dan Penyakit Metabolik
Sementara itu, untuk batu berukuran besar atau kasus yang lebih kompleks, tindakan Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) masih menjadi pilihan utama. Meski demikian, prosedur ini kini juga telah berkembang menjadi lebih minim invasif sehingga mampu mempercepat proses pemulihan pasien.
Menurut dr. Teguh, keberhasilan penanganan batu saluran kemih tidak hanya ditentukan oleh tindakan medis, tetapi juga perubahan gaya hidup setelah terapi dilakukan. Pasien dianjurkan mengonsumsi air putih sebanyak dua hingga tiga liter setiap hari, menjaga pola makan seimbang, mengurangi konsumsi garam berlebih, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.
“Perubahan pola hidup menjadi bagian penting agar batu tidak kembali terbentuk. Pencegahan jauh lebih baik dibandingkan harus menjalani pengobatan berulang,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, RS Premier Bintaro juga memberikan edukasi kepada insan media mengenai perkembangan layanan urologi modern agar informasi kesehatan yang diterima masyarakat semakin akurat dan mudah dipahami.
Sebagai rumah sakit yang menyediakan layanan urologi komprehensif, RS Premier Bintaro terus memperkuat pelayanan dengan dukungan dokter spesialis berpengalaman, teknologi diagnostik modern, serta berbagai metode terapi terkini untuk menangani penyakit saluran kemih maupun gangguan sistem reproduksi pria.
Melalui edukasi ini, RS Premier Bintaro berharap masyarakat semakin memahami pentingnya mengenali gejala batu saluran kemih sejak dini. Dengan diagnosis yang cepat dan penanganan menggunakan teknologi modern yang minim invasif, risiko komplikasi dapat ditekan sehingga kualitas hidup pasien tetap terjaga. (***)

