Beritakota.id, Tokyo – Bursa saham Jepang mencatat sejarah baru pada perdagangan Kamis (18/06/2026) setelah indeks Nikkei 225 untuk pertama kalinya menembus level psikologis 71.000 poin. Reli tersebut terjadi seiring meredanya kekhawatiran geopolitik global setelah Amerika Serikat dan Iran memperpanjang kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya menghentikan konflik militer kedua negara.

Pada sesi perdagangan siang, indeks Nikkei 225 menguat 1,65 persen ke level 71.052,30, setelah sempat menyentuh puncak intraday di 71.398,58. Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas naik 1,4 persen menjadi 4.069,56.

Baca juga : Yen Melemah, Nikkei Jepang Naik Tipis

Sentimen positif mengalir ke pasar keuangan Asia setelah Washington dan Teheran merilis teks kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang yang sempat mengguncang pasar energi global. Kesepakatan tersebut dipandang investor sebagai sinyal berkurangnya risiko gangguan pasokan energi dan stabilisasi kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pernyataannya tetap memberikan peringatan keras kepada Iran. Namun, pasar memilih fokus pada peluang berlanjutnya stabilitas kawasan yang selama beberapa pekan terakhir menjadi sumber ketidakpastian utama bagi investor global.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencerna hasil pertemuan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuannya. Sikap bank sentral AS yang cenderung hawkish mendorong penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang utama dunia, termasuk yen Jepang yang kembali melemah mendekati level terendah dalam hampir dua tahun terakhir.

Pelemahan yen menjadi katalis tambahan bagi pasar saham Jepang karena meningkatkan daya saing ekspor perusahaan-perusahaan domestik. Kondisi ini memberikan keuntungan bagi emiten manufaktur dan teknologi yang memiliki eksposur besar terhadap pasar global.

Meski demikian, sejumlah analis mulai mengingatkan potensi aksi ambil untung setelah reli yang sangat cepat dalam beberapa hari terakhir.

Ekonom Senior Sony Financial Group, Takayuki Miyajima, mencatat bahwa Nikkei telah melonjak lebih dari 5.700 poin hanya dalam lima sesi perdagangan terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu tekanan profit taking jangka pendek karena pasar mulai memasuki area yang dianggap terlalu panas.

Namun demikian, prospek jangka menengah masih dinilai positif. Ekspektasi pertumbuhan industri kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor global tetap menjadi pendorong utama pasar Jepang. Di saat yang sama, penurunan harga minyak mentah serta membaiknya situasi Timur Tengah berpotensi menjadi faktor pendukung tambahan bagi saham-saham Jepang.

Dari sisi sektoral, saham perbankan menjadi motor utama penguatan pasar. Mitsubishi UFJ Financial Group melonjak hampir 3 persen, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek sektor keuangan di tengah kenaikan imbal hasil global.

Sektor peralatan elektronik dan jasa juga mencatat kinerja solid. Sebaliknya, saham pelayaran serta sektor minyak dan produk batu bara menjadi kelompok yang relatif tertinggal di tengah koreksi harga energi.

Di jajaran saham unggulan Nikkei, Murata Manufacturing menjadi bintang perdagangan dengan lonjakan hampir 13 persen. Disusul Ibiden yang naik lebih dari 8 persen dan Ajinomoto yang menguat sekitar 7 persen.

Sementara itu, tekanan jual terlihat pada saham Konami Group yang turun 6,8 persen. DeNA dan Mercari juga masuk dalam daftar saham dengan pelemahan terbesar pada sesi perdagangan tersebut.

Kinerja impresif Nikkei memperlihatkan bagaimana kombinasi meredanya risiko geopolitik, melemahnya yen, dan optimisme terhadap revolusi AI global terus menjadi bahan bakar utama reli pasar saham Jepang. Namun, setelah mencatat rekor demi rekor dalam waktu singkat, investor kini mulai menghadapi pertanyaan yang sama: apakah reli ini masih memiliki ruang untuk berlanjut, atau justru memasuki fase konsolidasi setelah kenaikan yang terlalu cepat. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *