Beritakota.id, Jakarta Selatan – Denting angklung berpadu dengan irama musik Zumba. Di sisi lain halaman, mobil-mobil mini RC drift meliuk lincah melewati tikungan lintasan yang dipenuhi sorak para penggemarnya. Suasana Minggu pagi (19/7/2026) di halaman Museum Perfilman Indonesia (Sinematek), kawasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI), menghadirkan pemandangan yang berbeda dari biasanya. Kawasan yang selama ini identik dengan sejarah perfilman Indonesia perlahan menemukan denyut kehidupan baru sebagai ruang publik kreatif.

Sejak kawasan Car Free Day (CFD) Rasuna Said resmi dibuka pada 7 Juni 2026, halaman Sinematek mulai menjadi titik temu berbagai komunitas. Bukan hanya masyarakat yang ingin berolahraga, tetapi juga pelaku seni, pegiat budaya, komunitas hobi, pelaku UMKM hingga insan perfilman yang berbagi ruang dalam suasana yang santai dan inklusif.

Minggu pagi itu, Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (YPPHUI) menghadirkan CFD Exhibition edisi kelima. Konsepnya sederhana, namun menawarkan pengalaman yang beragam. Pengunjung dapat mengikuti senam Zumba, menikmati pertunjukan musik angklung, melihat atraksi RC Drift, hingga mengunjungi berbagai stan komunitas dan UMKM yang memeriahkan kawasan.

Baca juga : Pramono Resmikan CFD Rasuna Said dan Gerakan Pilah Sampah

Ratu Erina, yang mewakili panitia penyelenggara, mengatakan kegiatan tersebut kini mulai berjalan secara rutin setiap Minggu setelah sebelumnya masih menyesuaikan operasional kawasan CFD Rasuna Said.

“Sejak dibuka pada 7 Juni lalu, pelaksanaan kegiatan memang masih menyesuaikan jadwal CFD. Mulai Juli ini kami sudah bisa menggelarnya secara rutin setiap Minggu,” ujar Erina.

Menurut aktris yang telah lama berkiprah di dunia sinetron dan film Indonesia itu, konsep kegiatan juga disusun secara tematik agar masyarakat selalu menemukan pengalaman baru setiap bulannya. Selain aktif di industri hiburan, Ratu Erina kini juga terlibat dalam berbagai kegiatan komunitas perfilman dan dipercaya menjadi pengurus Serikat Pekerja Kreatif Film Indonesia (SPKFI), sehingga keterlibatannya dalam program ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali ekosistem kreatif di kawasan PPHUI.

“Juni kami mengangkat tema Hari Ulang Tahun Jakarta. Bulan Juli temanya kebudayaan, sedangkan Agustus nanti akan kami isi dengan rangkaian kegiatan bertema Perayaan Kemerdekaan Indonesia,” jelasnya.

Konsep tersebut membuat setiap penyelenggaraan memiliki karakter yang berbeda. Pada edisi Juli, nuansa budaya menjadi benang merah kegiatan. Grup angklung Sixerhood dan Grup Angklung Nada menghibur pengunjung dengan membawakan sejumlah lagu populer. Salah satu penampilan yang paling mendapat sambutan adalah lagu Cendol Dawet, yang membuat banyak pengunjung ikut bersenandung sambil menikmati suasana pagi.

Energi pagi semakin terasa melalui sesi senam Zumba bersama ZIN Amelia dan ZIN Bobby. Diiringi musik yang menghentak, ratusan peserta mengikuti setiap gerakan dengan penuh semangat. Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Dinas Pemuda dan Olahraga Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan sebagai bagian dari upaya mendorong gaya hidup sehat di ruang publik.

Tak jauh dari panggung utama, perhatian pengunjung juga tertuju pada arena mini drift yang dipenuhi lintasan berkelok. Di sana, komunitas RCGI.IDN menggelar Mini Drift x RCGI Gathering & Competition yang menghadirkan hampir 100 peserta dari berbagai daerah.

Mobil-mobil RC meluncur cepat melewati tikungan sempit dengan presisi tinggi. Sesekali terdengar tepuk tangan ketika para peserta berhasil menyelesaikan lintasan dengan manuver yang nyaris sempurna. Bagi sebagian pengunjung, atraksi tersebut menjadi pengalaman baru yang memperlihatkan bahwa hobi otomotif miniatur pun dapat menjadi tontonan yang menarik.

Smith, perwakilan komunitas RCGI, mengatakan kegiatan tersebut bukan semata kompetisi.

“Kami ingin menjadikan acara ini sebagai wadah berkumpul bagi para pecinta RC Drift. Di sini kami bisa bersilaturahmi, berbagi pengalaman, sekaligus berkompetisi dalam suasana yang sehat dan sportif,” katanya.

Kolaborasi bersama komunitas RC Drift menjadi salah satu contoh bagaimana penyelenggara berusaha menghadirkan kegiatan yang tidak monoton. Setiap pekan, komunitas dengan latar belakang berbeda diberi kesempatan memanfaatkan kawasan Sinematek sebagai ruang berekspresi dan berinteraksi dengan masyarakat.

Erina berharap semakin banyak komunitas kreatif yang ikut memanfaatkan ruang tersebut.

“Kami ingin menghidupkan kembali kawasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail sebagai ruang publik yang inklusif. Di sini masyarakat bisa berolahraga, menikmati hiburan, berkarya, sekaligus lebih dekat dengan dunia perfilman Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan penyelenggara membuka kesempatan seluas-luasnya bagi komunitas, pelaku UMKM, pengisi acara maupun mitra kolaborasi yang ingin terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan berikutnya.

“Semakin banyak komunitas yang bergabung, semakin hidup pula ekosistem kreatif yang tumbuh di sini. Kami percaya ruang publik akan memberi manfaat lebih besar ketika menjadi ruang kolaborasi yang terbuka bagi semua,” katanya.

Transformasi kawasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail melalui CFD Exhibition menunjukkan bahwa sebuah ruang publik dapat memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat berolahraga. Perlahan, kawasan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai rumah bagi sejarah dan dokumentasi perfilman Indonesia mulai membuka diri menjadi ruang temu bagi seni, budaya, olahraga, komunitas, dan kreativitas warga Jakarta.

Jika konsisten dikembangkan, Sinematek tidak hanya akan menjadi destinasi bagi pecinta film, tetapi juga tumbuh sebagai salah satu pusat aktivitas komunitas kreatif ibu kota. Di tengah semakin terbatasnya ruang publik yang mampu mempertemukan beragam komunitas dalam satu wadah, inisiatif seperti ini menjadi bukti bahwa kolaborasi mampu menghidupkan kembali sebuah kawasan sekaligus membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *