Beritakota.id, Jakarta Timur – Pasar valuta asing memasuki pekan baru dengan sentimen yang masih didominasi penguatan dolar Amerika Serikat. Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di level 100,90, didukung kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mencapai 4,561%. Kombinasi ekspektasi inflasi yang masih tinggi dan serangkaian rilis data ekonomi penting pekan ini berpotensi mempertahankan permintaan terhadap aset berbasis dolar.

Fokus utama investor tertuju pada rilis Consumer Price Index (CPI), Producer Price Index (PPI), Retail Sales, serta pidato Ketua Federal Reserve yang diperkirakan akan memberikan petunjuk terbaru mengenai arah kebijakan moneter. Selama data ekonomi masih menunjukkan ketahanan ekonomi AS, ruang penguatan dolar diperkirakan masih terbuka.

Euro Berpotensi Melanjutkan Koreksi

Pasangan EUR/USD diperdagangkan di sekitar 1,1415 setelah gagal mempertahankan momentum penguatan pada pekan sebelumnya. Penguatan dolar menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan euro, sementara pelaku pasar masih menunggu sinyal baru dari Bank Sentral Eropa (ECB) terkait prospek suku bunga.

Selama DXY bertahan di atas level psikologis 100, euro berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi hingga melemah secara bertahap. Namun, apabila data inflasi AS berada di bawah ekspektasi pasar, tekanan terhadap euro dapat mereda dan membuka peluang rebound jangka pendek.

Pound Sterling Masih Rentan

GBP/USD berada di kisaran 1,3402 dengan sentimen yang relatif serupa terhadap euro. Selain dipengaruhi oleh penguatan dolar, pound juga menghadapi ketidakpastian mengenai prospek pertumbuhan ekonomi Inggris dan arah kebijakan Bank of England.

Volatilitas diperkirakan meningkat menjelang publikasi data ekonomi AS. Selama pasar masih mengantisipasi kebijakan moneter The Fed yang cenderung ketat, ruang kenaikan pound diperkirakan tetap terbatas.

Di Asia, USD/JPY diperdagangkan di sekitar 161,70, masih berada pada level tinggi secara historis. Meski demikian, penguatan yen mulai terlihat setelah muncul laporan bahwa pemerintah Jepang tengah mempertimbangkan langkah untuk mendorong dana pensiun meningkatkan alokasi investasi ke aset domestik.

Sentimen tersebut memberikan dukungan sementara bagi mata uang Jepang. Namun, selisih imbal hasil yang masih lebar antara obligasi AS dan Jepang tetap menjadi faktor yang menopang USD/JPY di level tinggi.

Proyeksi Minggu Ini

Pergerakan pasar valuta asing sepanjang pekan diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi Amerika Serikat. Jika CPI dan PPI kembali menunjukkan tekanan harga yang tinggi, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed akan semakin menguat sehingga berpotensi mendorong penguatan dolar terhadap mayoritas mata uang utama.

Sebaliknya, apabila data inflasi menunjukkan perlambatan yang lebih besar dari perkiraan, pasar kemungkinan mulai melakukan aksi ambil untung terhadap posisi beli dolar, sehingga membuka ruang penguatan bagi euro maupun pound. Sentimen pasar secara umum masih Bullish untuk Dolar AS, sehingga pasangan EUR/USD cenderung Bearish hingga Neutral. GBP/USD cenderung Bearish dan USD/JPY akan terlihat Bullish dengan volatilitas tinggi.

Secara keseluruhan, dolar AS masih memiliki keunggulan fundamental memasuki pekan ini. Namun, mengingat padatnya agenda ekonomi dan komunikasi Federal Reserve, volatilitas diperkirakan meningkat tajam. Pelaku pasar disarankan tetap disiplin dalam manajemen risiko dan mengantisipasi perubahan sentimen yang dapat terjadi segera setelah rilis data inflasi AS. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *