Beritakota.id, Jakarta – Harga emas kembali bergerak melemah pada perdagangan Jumat (26/6), sekaligus bersiap mencatat penurunan mingguan keempat secara beruntun. Tekanan utama masih berasal dari penguatan dolar Amerika Serikat setelah pelaku pasar semakin meyakini bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama untuk mengendalikan inflasi.
Logam mulia diperdagangkan di kisaran US$4.010 per troy ounce setelah sebelumnya sempat menembus area US$3.983 sebelum kembali pulih tipis. Meski berhasil bertahan di atas level psikologis US$4.000, tekanan jual masih terlihat dominan seiring meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penguatan indeks dolar.
Bacar juga : Dolar AS Makin Perkasa, Benamkan Emas Dibawah $4000
Perhatian investor tertuju pada data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang kembali menunjukkan tekanan harga masih berada di atas target Federal Reserve. Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS belum memiliki ruang untuk segera melonggarkan kebijakan moneternya.
Pelaku pasar kini memperkirakan The Fed berpotensi menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September berada di kisaran lebih dari 60 persen. Ekspektasi tersebut membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas kehilangan daya tarik dibandingkan instrumen berbunga.
Sentimen Geopolitik Belum Mereda
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. Gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz sempat kembali memunculkan minat terhadap aset safe haven. Namun, dorongan tersebut belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan yang berasal dari kebijakan moneter Amerika Serikat.
Data perdagangan fisik juga menunjukkan permintaan mulai melambat. Impor emas bersih China melalui Hong Kong turun sekitar 38 persen pada Mei dibandingkan bulan sebelumnya, mengindikasikan bahwa permintaan dari konsumen terbesar dunia mulai mengalami normalisasi setelah reli panjang selama beberapa tahun terakhir.
Secara teknikal, kawasan US$4.000 menjadi level psikologis yang sangat menentukan arah pergerakan berikutnya. Apabila area tersebut kembali ditembus secara meyakinkan, ruang penurunan menuju US$3.950 hingga US$3.900 berpotensi terbuka. Sebaliknya, selama mampu bertahan di atas level tersebut, emas masih memiliki peluang melakukan rebound teknikal meski tren jangka pendek tetap cenderung bearish. (Lukman Hqeem)

