Beritakota.id, Jakarta – Harga emas dunia di awal pekan ini mengalami penurunan, namun masih mampu bertahan di kisaran $5.000 per troy ons. Ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah perang di Iran memasuki pekan ketiga, dimana membuat pasar global tetap berada dalam kondisi waspada.
Bahkan, harga sempat turun di bawah ambang psikologis US$5.000 sebelum kembali menguat. Level tersebut kini menjadi salah satu titik perhatian utama pelaku pasar karena mencerminkan keseimbangan antara permintaan aset aman dan tekanan dari kebijakan moneter global.
Baca juga : SBY Peringatkan Potensi Perang Dunia III, DPR: PBB Harus Bertindak
Ketegangan di Timur Tengah pada awalnya mendorong kenaikan harga energi, yang kemudian meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi ini membuat prospek penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve menjadi semakin kecil dalam waktu dekat.
Hubungan antara emas dan suku bunga umumnya bersifat berlawanan. Ketika suku bunga turun, emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi lebih menarik bagi investor. Sebaliknya, ketika suku bunga diperkirakan tetap tinggi dalam waktu lama, daya tarik emas biasanya berkurang karena investor memiliki alternatif aset yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.
Ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter pun mengalami perubahan signifikan sejak konflik dimulai. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 80 persen bahwa penurunan suku bunga oleh The Fed tidak akan mencapai dua kali pemangkasan hingga pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Januari 2027.
Perkiraan tersebut berbeda jauh dibandingkan kondisi sebelum konflik pecah. Pada 27 Februari lalu, sehari sebelum perang dimulai, pelaku pasar masih memperkirakan peluang lebih dari 80 persen bahwa setidaknya akan terjadi dua kali pemangkasan suku bunga dalam periode yang sama.
Diyakini, bahwa perubahan ekspektasi tersebut ikut memengaruhi sentimen investor emas. Konflik yang terjadi telah mendorong kurva imbal hasil obligasi Amerika Serikat menjadi lebih curam, sehingga mengurangi minat sebagian investor terhadap emas.
Selain itu, prospek suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama juga memberikan dukungan bagi penguatan dolar Amerika Serikat. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur nilai dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia, tercatat naik sekitar 2,3 persen sejak 27 Februari hingga awal perdagangan pekan ini.
Di tengah dinamika tersebut, aset kripto justru menunjukkan arah berbeda. Bitcoin tercatat menguat sekitar 10 persen dalam periode yang sama, dengan sebagian investor mulai melihatnya sebagai alternatif lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi global.
Pergerakan berbagai aset ini menunjukkan bahwa investor global saat ini tidak hanya mempertimbangkan faktor geopolitik, tetapi juga arah kebijakan moneter, inflasi energi, serta dinamika pasar keuangan yang semakin kompleks. Meski harga emas masih bertahan di level tinggi historis, arah pergerakannya ke depan akan sangat ditentukan oleh perkembangan konflik, inflasi global, serta keputusan suku bunga The Fed dalam beberapa waktu mendatang. (Lukman Hqeem)

