Beritakota.id, Jakarta – Belum lama menikmati capaian 1,2 juta pendengar lewat single “EGP” di Spotify, Sundanis kembali tancap gas. Musisi asal Bandung ini merilis lagu terbarunya berjudul “Bad Mood”, kali ini dalam format duet bersama Uiendha. Di bawah label FloorInc, Sundanis kian mantap mengukuhkan identitasnya di jalur hipdut—perpaduan hip hop dan dangdut yang kian akrab di telinga publik Indonesia.
“Bad Mood” lahir dari pengalaman sehari-hari yang sederhana namun relatable: perubahan suasana hati yang mendadak, terutama dalam relasi dengan pasangan. Ide tersebut, menurut Sundanis, sangat dekat dengan realitas banyak orang. Dari momen kesal kecil yang terasa sepele, lahir lagu dengan energi ritmis yang mengajak bergoyang sekaligus tersenyum.
Menariknya, proses produksi lagu ini terbilang singkat—hanya satu hari. Meski demikian, “Bad Mood” mengalami perubahan aransemen secara total di menit-menit akhir. Sundanis mengaku mendapat ide dadakan yang membuat notasi dan struktur musik dirombak ulang. Hasilnya adalah lagu dengan groove hip hop yang kental, dibalut sentuhan dangdut yang ringan namun menggoda.
Baca juga : DEWA 19 dan PADI Reborn Siap Guncang Kuala Lumpur
Berbeda dengan “EGP” yang hadir dalam versi solo dan duet, “Bad Mood” langsung dirancang sebagai kolaborasi. Kehadiran Uiendha memberi dinamika vokal yang kontras sekaligus segar. Interaksi keduanya memperkuat narasi tentang dinamika hubungan yang naik-turun—kadang manis, kadang penuh drama kecil.
Namun yang membuat rilisan ini lebih menarik adalah konteks besarnya: fenomena hip hop bernuansa lokal yang semakin diterima luas. Dalam beberapa tahun terakhir, hip hop Indonesia tidak lagi identik dengan gaya urban metropolitan semata. Ia bertransformasi, menyerap elemen budaya daerah—termasuk Jawa dan Sunda—baik dari bahasa, cengkok, hingga instrumen tradisional.
Hip hop bernuansa Jawa, misalnya, berhasil menembus batas kelas sosial dan geografis. Lirik dengan logat daerah justru menjadi kekuatan autentik yang membuat musik terasa dekat. Dari panggung kampung hingga festival besar, genre ini diterima lintas generasi. Bahasa boleh berbeda, tetapi ritme dan energi menjadi pengikat universal.
Hipdut—singkatan dari hip hop dangdut—menjadi salah satu cabang paling menarik dari perkembangan tersebut. Dangdut, yang sejak lama menjadi musik rakyat Indonesia, punya fondasi ritmis yang kuat dan mudah dinikmati berbagai kalangan. Ketika dipadukan dengan rap dan beat modern, lahirlah warna baru yang menjembatani selera generasi lama dan Gen Z.
Sundanis melihat momentum ini sebagai peluang sekaligus tanggung jawab. Ia meyakini bahwa hipdut bukan sekadar tren sesaat, melainkan evolusi alami dari budaya pop Indonesia yang cair dan adaptif. Dangdut memberi akar lokal, hip hop memberi nafas global. Perpaduannya menciptakan bahasa musik yang luwes—bisa dinikmati tanpa harus memahami seluruh liriknya.
Optimisme itu pula yang ia sematkan pada “Bad Mood”. Ia berharap single ini bisa melampaui capaian “EGP” dan diterima lebih luas lagi. Menurutnya, musik tidak selalu soal diksi yang rumit; selama melodi terasa enak dan ritme menggerakkan tubuh, pesan akan sampai dengan sendirinya.
Rilisan ini juga menandai konsistensi Sundanis dalam membangun karakter musikal yang khas. Di tengah derasnya arus pop digital, ia memilih jalur yang memadukan identitas lokal dengan beat kontemporer. Sebuah pendekatan yang terbukti efektif menjangkau berbagai lapisan masyarakat—dari penikmat dangdut tradisional hingga penggemar hip hop modern.
Mulai 27 Februari 2026, “Bad Mood” resmi tersedia di seluruh platform streaming digital. Dengan energi yang ringan namun catchy, lagu ini berpotensi menjadi soundtrack keseharian—baik saat suasana hati sedang cerah maupun ketika tiba-tiba berubah jadi “bad”.
Jika hip hop global lahir dari jalanan kota besar, maka hipdut adalah versi Indonesia yang lahir dari persimpangan kampung dan klub, dari hajatan hingga headphone pribadi. Dan lewat “Bad Mood”, Sundanis kembali menegaskan bahwa musik lokal dengan cita rasa global bukan lagi mimpi—melainkan kenyataan yang sedang berlangsung. (Lukman Hqeem)

