Beritakota.id, Tangerang – Industri keramik nasional semakin menunjukkan taringnya di pasar global. Didukung kapasitas produksi yang besar, ketersediaan bahan baku melimpah, serta kebijakan pemerintah yang pro-industri, Indonesia kini membidik posisi sebagai salah satu dari empat produsen keramik terbesar di dunia.

Target ambisius tersebut disampaikan Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, saat membuka Keramika Expo Indonesia ke-11 di NICE PIK 2, Tangerang, Banten.

Menurutnya, Indonesia saat ini telah berhasil masuk dalam jajaran lima besar produsen keramik dunia bersama negara-negara raksasa seperti Tiongkok, India, Brasil, dan Vietnam.

Baca juga: Asaki Desak Bea Masuk di Atas 100 Persen Keramik Impor

“Industri keramik nasional memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan meningkatkan posisinya dalam rantai pasok global. Dengan dukungan kapasitas produksi yang besar, sumber daya manusia yang kompeten, serta kebijakan pemerintah yang berpihak pada industri dalam negeri, kita optimistis Indonesia dapat masuk ke jajaran empat besar produsen keramik dunia,” ujar Faisol.

Kapasitas Produksi Tembus 650 Juta Meter Persegi

Saat ini, industri keramik Indonesia memiliki kapasitas produksi terpasang sekitar 650 juta meter persegi per tahun dengan tingkat utilisasi mencapai 73 persen.

Sektor ini juga menjadi salah satu industri padat karya yang berkontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja nasional dengan melibatkan lebih dari 150 ribu pekerja.

Besarnya kapasitas tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis produksi keramik terbesar di kawasan Asia dan pemain penting dalam rantai pasok global.

Selain didukung pasar domestik yang terus berkembang, industri keramik Indonesia juga memiliki keunggulan berupa ketersediaan bahan baku lokal yang melimpah sehingga mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat daya saing ekspor.

Tumbuh 9,12 Persen, Jadi Salah Satu Sektor Manufaktur Tercepat

Prospek industri keramik semakin cerah setelah subsektor industri barang galian bukan logam, yang mencakup industri keramik, mencatat pertumbuhan impresif pada awal tahun ini.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, subsektor tersebut tumbuh 9,12 persen pada Triwulan I 2026, menjadikannya sebagai salah satu sektor industri dengan pertumbuhan tertinggi di Indonesia.

Pertumbuhan itu hanya berada di bawah industri mesin dan perlengkapan serta industri barang logam, komputer, elektronik, optik, dan peralatan listrik.

“Ini menunjukkan bahwa industri keramik memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan sektor manufaktur nasional,” kata Faisol.

Kinerja tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas pembangunan nasional, baik pada sektor properti, infrastruktur, maupun kawasan industri yang menjadi konsumen utama produk keramik.

Baca juga: Kementerian PU Selesaikan 222 SPPG untuk Program MBG di 30 Provinsi

Menjadi Motor Penggerak Industri Properti dan Konstruksi

Pemerintah menilai industri keramik memiliki posisi strategis karena berkaitan langsung dengan sektor konstruksi dan properti yang menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Ketika pembangunan perumahan, gedung komersial, infrastruktur, hingga kawasan industri meningkat, permintaan produk keramik juga ikut terdongkrak.

Karena itu, keberlangsungan industri keramik tidak hanya berdampak pada manufaktur semata, tetapi juga memengaruhi rantai ekonomi yang lebih luas mulai dari sektor pertambangan bahan baku, transportasi, distribusi hingga perdagangan ritel.

Industri Pengolahan Masih Jadi Tulang Punggung Ekonomi

Kinerja positif industri keramik turut menopang pertumbuhan sektor industri pengolahan nasional yang hingga kini masih menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor industri pengolahan tumbuh 5,04 persen pada Triwulan I 2026, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,55 persen.

Kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 19,07 persen atau setara Rp1.179,62 triliun.

Tak hanya itu, sektor industri pengolahan juga menjadi penyumbang terbesar investasi nasional dengan realisasi mencapai Rp182,04 triliun atau sekitar 36,49 persen dari total investasi Indonesia.

Di bidang ketenagakerjaan, sektor manufaktur menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, sekaligus menjadi penyumbang terbesar ekspor nasional dengan kontribusi mencapai 82,25 persen atau senilai USD54,98 miliar selama Januari hingga Maret 2026.

Pemerintah Perkuat Daya Saing Industri Keramik

Untuk menjaga daya saing industri keramik nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat, pemerintah terus menyiapkan berbagai kebijakan strategis.

Beberapa di antaranya meliputi pemberian fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, perlindungan perdagangan melalui instrumen safeguard dan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD), hingga percepatan implementasi program Making Indonesia 4.0.

Selain itu, pemerintah juga mendorong penerapan Standar Industri Hijau serta memperkuat penggunaan produk dalam negeri melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi industri sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat produksi keramik yang kompetitif di pasar global.

Optimisme Menuju Empat Besar Dunia

Dengan kombinasi kapasitas produksi besar, dukungan pasar domestik, pertumbuhan sektor konstruksi, serta kebijakan pemerintah yang konsisten, industri keramik nasional dinilai memiliki peluang besar untuk naik kelas.

Jika tren pertumbuhan terus terjaga dan investasi sektor manufaktur semakin meningkat, target Indonesia masuk ke jajaran empat besar produsen keramik dunia bukan lagi sekadar ambisi, melainkan peluang yang realistis untuk dicapai dalam beberapa tahun mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *