Beritakota.id, Jakarta – Harga minyak dunia kembali tertekan pada perdagangan Kamis (18/06/20206). Jatuhnya harga terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan sementara. Ini dianggap bisa membuka jalan bagi berakhirnya konflik dan memulihkan arus ekspor energi.

Kesepakatan tersebut langsung mengubah sentimen pasar energi global. Selama beberapa bulan terakhir investor fokus pada risiko gangguan pasokan akibat perang di Timur Tengah. Saat ini beralih pada kemungkinan membanjirnya kembali pasokan minyak ke pasar internasional.

Minyak Brent turun 1,12 % ke US$78,66 per barel, West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 1,28% ke US$75,81 per barel.

Baca juga : Minyak Tak Lagi Takut Perang, Kini Takut China

Penurunan terjadi meskipun sehari sebelumnya pasar sempat mendapatkan dukungan dari pernyataan Donald Trump. Presiden AS ini mengancam akan melanjutkan operasi militer apabila Iran melanggar kesepakatan.

Namun pelaku pasar memilih berfokus pada implikasi ekonomi yang lebih besar, yakni kemungkinan kembalinya jutaan barel minyak Iran ke pasar global dalam waktu relatif singkat. Pasar energi kini secara agresif memperhitungkan percepatan pemulihan ekspor minyak Iran setelah tercapainya nota kesepahaman antara Washington dan Teheran.

Kesepakatan tersebut membuka periode negosiasi selama 60 hari dan menjamin akses bebas hambatan bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Jalur strategis ini menjadi pintu keluar utama ekspor energi dari kawasan Teluk menuju pasar dunia.

Dari Krisis Pasokan Menuju Ancaman Surplus

Perubahan sentimen yang terjadi saat ini sangat signifikan. Selama perang berlangsung, pasar khawatir dunia akan kehilangan sebagian besar pasokan minyak Timur Tengah. Kini kekhawatiran itu mulai berubah menjadi potensi kelebihan pasokan.

Lembaga Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanannya memperingatkan bahwa apabila implementasi kesepakatan berjalan lancar dan pasokan Timur Tengah kembali normal, pasar minyak dunia dapat mengalami surplus hingga 5,05 juta barel per hari pada 2027. Proyeksi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong investor melakukan aksi jual dalam beberapa sesi terakhir.

Selain itu, tekanan tambahan datang dari Amerika Serikat. Federal Reserve mulai mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lagi pada tahun ini setelah inflasi menunjukkan tren yang lebih tinggi dari perkiraan.

Proyeksi terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat Federal Reserve kini memperkirakan kenaikan suku bunga masih diperlukan. Tiga bulan lalu tidak satu pun pejabat memiliki pandangan tersebut.

Bagi pasar energi, suku bunga yang lebih tinggi berarti risiko perlambatan ekonomi global yang lebih besar. Jika aktivitas ekonomi melambat, konsumsi energi juga berpotensi melemah sehingga memperburuk tekanan terhadap harga minyak.

Kombinasi antara meningkatnya prospek pasokan dan potensi perlambatan permintaan membuat pasar mulai meninggalkan narasi bullish yang selama ini mendominasi perdagangan energi.

Analisis Teknikal: Brent Berisiko Turun ke US$75

Dari sisi teknikal, analis Reuters untuk komoditas dan energi Wang Tao melihat tren penurunan masih berpotensi berlanjut. Menurut analisisnya, Brent berpeluang menguji area support di $77,75 per barel. lebih jauh dijelaskan bahwa apabila level tersebut berhasil ditembus, harga berpotensi bergerak menuju target berikutnya di sekitar US$75,52 per barel.

Kenaikan harga minyak yang terjadi pada perdagangan Rabu dinilai hanya sebagai koreksi sementara. Struktur gelombang penurunan yang lebih besar dapat terjadi selama harga belum mampu menembus area resistensi US$79,13, dimana tekanan jual dinilai masih mendominasi pasar.

Pada grafik harian, kerusakan struktur teknikal terjadi setelah harga menembus level support penting $81,86. Ini membuka peluang penurunan lebih dalam menuju zona $69,98 – US$62,65 per barel dalam jangka menengah. Prospek tersebut menunjukkan bahwa pasar mulai membangun ekspektasi baru bahwa fase harga energi tinggi akibat konflik geopolitik mungkin telah memasuki tahap akhir.

WTI Mengarah ke Area US$70

Sinyal serupa juga muncul pada minyak mentah Amerika Serikat. WTI berpotensi kembali menguji support utama di US$74,62 per barel. Jika area tersebut ditembus, harga dapat bergerak turun menuju rentang US$72,56 hingga US$73,63 per barel.

Resistensi terdekat berada pada level US$76,40. Selama harga tetap berada di bawah area tersebut, kecenderungan pasar masih mengarah ke bawah. Analisis grafik harian bahkan menunjukkan pola bearish wedge yang telah terkonfirmasi dan membuka peluang penurunan menuju target sekitar US$70,52 per barel.

Level tersebut juga sejalan dengan hasil analisis retracement jangka panjang yang memperlihatkan bahwa penembusan support US$79,95 telah mengubah struktur pasar menjadi lebih bearish.

Dengan demikian, baik faktor fundamental maupun teknikal kini mengarah pada kesimpulan yang sama. Berakhirnya konflik AS-Iran berpotensi menghilangkan premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga minyak, sementara pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kelebihan pasokan dalam beberapa tahun mendatang.

Jika proses normalisasi ekspor Iran berjalan sesuai rencana dan Federal Reserve tetap mempertahankan sikap hawkish, tekanan terhadap harga minyak berpeluang berlanjut. Dalam jangka pendek, Brent berisiko menguji area US$75 per barel, sedangkan WTI dapat bergerak menuju kisaran US$70–73 per barel. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *