Beritakota.id, Jakarta – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai alat bantu untuk menyelesaikan tugas sekolah atau membuat konten media sosial. Teknologi ini dinilai telah berkembang menjadi kekuatan baru yang memengaruhi ekonomi, pendidikan, hingga peta geopolitik dunia.
Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam panel bertajuk “AI. Power. Global Order.” pada konferensi nasional The Cornerstone yang diselenggarakan oleh EduALL, Sabtu (9/5).
Forum lintas generasi itu menghadirkan pelajar, profesional, hingga tokoh nasional dalam satu ruang diskusi untuk membahas masa depan dunia digital yang semakin dipengaruhi algoritma dan teknologi AI.
Dalam sesi diskusi, sejumlah pelajar mengungkapkan keresahan mereka terhadap pengaruh media sosial dan AI yang dinilai mampu membentuk pola konsumsi, preferensi, hingga opini publik generasi muda secara tidak langsung.
Mereka menilai selera, ketertarikan, bahkan sudut pandang yang berkembang di kalangan anak muda saat ini tidak sepenuhnya lahir secara mandiri, melainkan dipengaruhi sistem algoritma yang bekerja di balik platform digital.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai siapa pihak yang sebenarnya mengendalikan arus informasi dan kepentingan global di era teknologi modern.
Menanggapi hal itu, Tom Lembong membawa pembahasan ke ranah ekonomi dan geopolitik global. Menurutnya, penguasaan infrastruktur teknologi kini menjadi faktor utama dalam menentukan kekuatan suatu negara di masa depan.
Tom menilai Indonesia harus segera memperkuat strategi industrinya agar tidak hanya menjadi pasar bagi produk dan teknologi asing.
Baca juga: Peran Mikronutrien untuk Kecerdasan Anak di Era AI, Bantu Optimalkan Kognitif
“Kalau gelombang ini Indonesia sudah ketinggalan kereta. Malaysia sudah mengoperasi 60 persen dari kapasitas data center di Asia Tenggara, 60-80 persen hard drive di dunia diproduksi oleh Thailand, dan ini adalah buah dari kebijakan yang konsisten selama puluhan tahun,” ujar Tom Lembong.
Ia juga menilai persaingan pengembangan language model AI pada akhirnya akan menjadi komoditas umum. Karena itu, Indonesia diminta segera bersiap menghadapi gelombang teknologi berikutnya agar tidak kembali tertinggal dalam persaingan global.
Sementara itu, Founder Akademi Kader Bangsa, Miftah Sabri, menyoroti penggunaan AI dari sisi pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda. Ia mengingatkan bahwa penggunaan AI tanpa kontrol dapat membuat siswa kehilangan kemampuan berpikir mandiri dan daya kritis.
Menurutnya, proses belajar manual tetap penting untuk membangun kemampuan berpikir, daya ingat, dan filter intelektual anak-anak.
“AI tidak lebih dari sebuah alat, dia seperti pisau, dia seperti sempoa. Di tangan orang yang benar dia akan menjadi alat yang powerful, di tangan orang yang kurang ada isi kepalanya, nah kita kembali ke zaman batu. Tidak bisa kita menyerahkan anak-anak penerus bangsa ini secara penuh kepada AI,” tegas Miftah Sabri.
Konferensi The Cornerstone sendiri menjadi ruang dialog yang mempertemukan pelajar dengan para ahli dan pengambil kebijakan untuk membahas isu-isu masa depan bangsa.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen EduALL, yang selama ini dikenal sebagai konsultan pendidikan pendamping persiapan kuliah ke luar negeri, dalam membangun generasi muda yang memiliki pola pikir kritis dan berorientasi pada perubahan.
CEO EduALL, Devi Kasih, mengaku terkesan dengan antusiasme para peserta selama acara berlangsung.
“Kita benar-benar nggak menyangka energi anak-anak muda di hari H luar biasa banget. Di forum ini, mereka nggak cuma duduk diam mencatat, tapi berani melempar pandangan kritis ke para profesional,” ujar Devi Kasih.
Tak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan, The Cornerstone juga membawa misi sosial. EduALL bekerja sama dengan Indonesia Mengajar untuk menyalurkan seluruh hasil penjualan tiket dan donasi guna memperluas akses pendidikan berkualitas di berbagai daerah di Indonesia. (***)

