Beritakota.id, Kulon Progo – Kebiasaan memberikan kental manis sebagai pengganti susu bagi balita masih sering ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Kekhawatiran akan praktik ini mendorong akademisi dari tiga universitas untuk melakukan penelitian kolaboratif, yaitu Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Program Studi Gizi UNNES, UNISA Yogyakarta, dan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI). Penelitian dilakukan di tiga wilayah dengan karakteristik sosial yang berbeda—Pamijahan Bogor, Semarang, dan Kulon Progo guna mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang konsumsi kental manis di tingkat rumah tangga.

Menurut Guru Besar Ilmu Gizi UMJ, Dr. Tria Astika Endah Permatasari, penelitian ini merupakan respons atas meningkatnya konsumsi minuman tinggi gula pada anak, di tengah masih kuatnya persepsi salah bahwa kental manis adalah “susu.” Prof. Tria menegaskan bahwa kebiasaan ini sudah berlangsung turun-temurun, sehingga tidak sekadar persoalan informasi, tetapi juga budaya konsumsi.

“Kental manis masih dianggap sebagai susu, padahal kandungan gulanya sangat tinggi dan bukan sumber gizi yang sesuai untuk balita. Balita tidak memahami itu, tetapi pola konsumsi orang tua yang diwariskan menjadi masalah,” ujarnya, Rabu (26/11).

Baca juga : Kasus Stunting Masih Marak, Pemprov Jateng Ajak Masyarakat Waspadai Konsumsi Kental Manis

Di Kecamatan Pamijahan, Bogor, faktor ekonomi dan pola asuh menjadi sorotan penting. Salah satu temuan menunjukkan bahwa pengeluaran keluarga sering kali lebih banyak diarahkan untuk kebutuhan lain seperti rokok dibandingkan makanan bergizi bagi anak. “Adanya pengeluaran lain selain makanan oleh rumah tangga, seperti rokok, jelas mempengaruhi akses keluarga untuk membeli makanan bergizi,” ungkap Prof. Tria.

Sementara itu, dari Semarang, ketua tim peneliti UNNES Dr. Mardiana, S.KM., M.Si. menemukan tingginya konsumsi kental manis pada 100 balita di Tanjung Mas dan Sukorejo. Ia menilai kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko penyakit tidak menular di usia dini, mengingat konsumsi gula berlebih berkaitan erat dengan obesitas, diabetes, gangguan metabolik, hingga kesehatan gigi. “Yang terlihat memang karies dan diare. Dampak jangka panjangnya belum tampak karena ini penggunaan jangka pendek, tetapi risikonya jelas ada,” katanya.

Penelitian UNNES juga menyoroti pengaruh pola asuh. Di Tanjung Mas, banyak balita diasuh oleh nenek sehingga kental manis dipilih karena sifatnya yang praktis dan dianggap aman. Di Sukorejo, meskipun orang tua mengasuh langsung, tingkat pemahaman mengenai kandungan gula masih rendah sehingga konsumsi tetap tinggi.

Di Kulon Progo, tim UNISA yang dipimpin Luluk Rosida, S.St., M.K.M. menemukan bahwa aspek kultural dan kebiasaan sosial menjadi faktor dominan. Kental manis masih dijadikan buah tangan saat menjenguk orang sakit, hingga campuran minuman di angkringan dan warung. Kebiasaan ini secara tidak sadar memperkenalkan kental manis sebagai “susu” sejak dini. “Ada kebiasaan menjenguk orang sakit dengan membawakan susu dan roti. Susu yang dimaksud kebanyakan kental manis, dan dari sinilah persepsi anak terhadap kental manis mulai terbentuk,” jelas Luluk.

Fenomena ini mempertegas pentingnya edukasi publik. Masyarakat perlu memahami bahwa kental manis bukan susu, melainkan produk gula tinggi dengan kandungan nutrisi minimal. Kandungan gulanya dapat mencapai lebih dari 50%, sementara protein—komponen utama susu—hanya tersisa sedikit. Konsumsi berlebihan pada balita dapat memicu malnutrisi terselubung, di mana anak terlihat kenyang tetapi kekurangan zat gizi penting.

Melalui penelitian yang kini terdokumentasi dalam sebuah buku, para akademisi berharap hasil temuan ini dapat menjadi panduan edukasi yang kuat bagi masyarakat. Selain itu, buku tersebut diharapkan menjadi rujukan strategis bagi para pemangku kebijakan dalam merumuskan regulasi yang lebih tegas terkait pemasaran, labelisasi, hingga pengawasan distribusi kental manis, guna melindungi kesehatan anak Indonesia. (Herman Effendi / Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *