Beritakota.id, Jakarta — Empat dekade bukan perjalanan singkat bagi sebuah lembaga pendidikan nonformal. John Robert Powers Indonesia (JRP Indonesia) merayakan tonggak usia ke-40 dengan menggelar “Grand Reunion” yang mempertemukan lintas generasi alumninya di Catur Dharma Hall, Menara Astra, Jakarta, Sabtu (11/4).
Acara ini menjadi lebih dari sekadar temu kangen. Ia menjelma menjadi ruang refleksi kolektif atas perjalanan panjang JRP Indonesia dalam membentuk karakter, kepercayaan diri, dan kapasitas personal puluhan ribu alumnusnya. Dari panggung hiburan hingga diskusi inspiratif, para peserta berbagi kisah transformasi yang berakar dari pengalaman mereka di lembaga ini.
Baca juga : Alumni Lemhannas Dorong Kontribusi Strategis bagi Ketahanan Nasional
Salah satu cerita datang dari Giok Kinski Maharani Detri Ayusta, peraih gelar Putri Indonesia Intelegensia 2023. Ia mengaku, sebelum bergabung pada 2019, dirinya bukan pribadi yang percaya diri.
“Tetapi, di JRP saya belajar satu hal penting, yaitu confident. Setelah itu saya mengalami transformasi yang luar biasa hingga lolos ke ajang Putri Indonesia,” ujarnya.
Kisah serupa diungkapkan oleh pebisnis global asal Surabaya, Soedjianto Soegondo. Ia menuturkan bahwa kemampuannya berbicara di depan publik berkembang signifikan setelah mengikuti program JRP sejak 1992.
“Sebelum masuk JRP, saya ngomong di hadapan orang banyak itu sulit. Sekarang, setelah belajar di JRP, saya ngomong di depan 100, 1.000, bahkan 10.000 orang pun biasa,” katanya.
Bertahan di Tengah Tantangan
Komisaris sekaligus International Director JRP Indonesia, Indayati Oetomo, menegaskan bahwa perjalanan lembaga ini tidak selalu mulus. Pendidikan nonformal, menurutnya, bergantung pada kesadaran individu, bukan kewajiban formal.
“Yang namanya informal itu didasarkan atas kemauan, bukan kewajiban. Jadi, untuk bergabung, peserta harus tergugah dari hatinya,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan terberat terjadi saat pandemi 2020–2023, ketika seluruh aktivitas pembelajaran tatap muka terhenti. Namun, JRP Indonesia mampu bertahan dan bahkan terus berkembang, dengan cabang yang kini tersebar di Jakarta, BSD City, Surabaya, dan Denpasar.
Kurikulum yang Membentuk Karakter
Berbeda dari pelatihan konvensional, JRP Indonesia menekankan pengembangan kepribadian secara menyeluruh—mulai dari komunikasi, kepercayaan diri, hingga pembentukan mental. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kalangan profesional, tetapi juga individu dengan kebutuhan khusus.
Indayati menyebut, program JRP bahkan mampu membantu perkembangan mental anak dengan down syndrome menjadi lebih baik, sebuah capaian yang menunjukkan fleksibilitas dan kedalaman pendekatan kurikulum.
Didirikan di Amerika Serikat pada 1923 oleh aktor John Robert Powers, lembaga ini masuk ke Indonesia pada 1985. Sejak 1992, pengelolaan nasional berada di bawah kepemimpinan Indayati Oetomo, yang kemudian memperluas jaringan dan memperkuat reputasi JRP sebagai sekolah pengembangan diri terkemuka.
Memasuki usia 40 tahun, JRP Indonesia tidak hanya merayakan masa lalu, tetapi juga menegaskan relevansinya di masa depan—di tengah kebutuhan akan individu yang tidak hanya kompeten, tetapi juga percaya diri dan adaptif menghadapi perubahan zaman. (Lukman Hqeem)
JRP Indonesia rayakan 40 tahun lewat Grand Reunion, hadirkan kisah transformasi ribuan alumni dan perjalanan membangun kepercayaan diri lintas generasi.(LH)

