Beritakota.id, Brebes – Matahari pagi baru saja menembus kabut tipis di Paguyangan, ketika Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, menapaki jalan setapak menuju Petak 24 RPH Kretek, Desa Pandansari. Di sekelilingnya, sekitar 500 warga dan aktivis lingkungan sudah bersiap dengan cangkul, bibit pohon, dan semangat yang sama: memulihkan kawasan yang pernah rusak akibat penggarapan liar.
Dengan senyum ramah, Bupati Paramitha menyapa warga yang datang dari berbagai dusun. Tak hanya menyaksikan, ia ikut turun langsung, menanam pohon Suren di tanah yang baru digemburkan. Setiap cangkul yang ditegakkan seakan menjadi simbol komitmen pemerintah daerah untuk mengembalikan fungsi ekologis Petak 24.
Kegiatan ini lahir dari kesepakatan warga Dukuh Sijampang dengan Perhutani untuk menutup penggarapan liar yang merusak lingkungan.
Baca juga: Biaya Pengobatan 4 Warga Brebes Korban Kebakaran Warteg di Surabaya Ditanggung Pemkab
Dalam sambutannya, Bupati Paramitha menegaskan bahwa penanaman pohon bukan sekadar seremoni: “Kerusakan ekologis di satu titik bisa berdampak luas. Penanaman hari ini adalah langkah nyata memulihkan fungsi ekologis Petak 24,” jelas Paramitha.
Ia menambahkan, vegetasi bukan hanya soal keindahan, tetapi juga keselamatan. Paguyangan yang berbukit dan rawan longsor membutuhkan akar pohon yang kuat untuk menahan tanah. “Menjaga vegetasi adalah kewajiban bersama agar masyarakat tetap aman,” katanya.
Di sela-sela penanaman, Bupati Paramitha terlihat bercengkerama dengan anak-anak yang membantu membawa bibit, dan warga yang berbagi cerita tentang kondisi hutan yang dulu rusak.
Kehadiran Kapolres Brebes AKBP Lilik Ardhiansyah, Kepala DLH M. Shodiq, perwakilan BPBD, Dandim, Camat Paguyangan dan Bumiayu, serta 72 aktivis lingkungan menambah semarak suasana. Semua bekerja bersama, dari pemerintah hingga komunitas, untuk satu tujuan: memulihkan Petak 24.
Koordinator Aksi Sijampang, Kasor, menyebutkan bahwa warga akan terus menjaga kawasan ini. “Kalau bukan kita yang menjaga lingkungan ini, siapa lagi,” ujarnya sambil menepuk pundak beberapa pemuda yang ikut menanam pohon.
Jenis pohon yang ditanam Suren, Rambesi, Sere, dan Akasia dipilih karena akarnya yang kuat dan kemampuan menjaga kestabilan tanah. Setiap bibit yang ditanam hari itu menjadi janji kecil bagi Paguyangan: mencegah longsor, memulihkan ekosistem, dan menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa lingkungan harus dijaga bersama.
Ketika hari mulai siang, aroma tanah basah dan suara cangkul bercampur dengan tawa dan semangat warga. Penanaman 1.000 pohon itu bukan hanya soal jumlah, tetapi soal gerakan nyata, tentang bagaimana pemerintah dan masyarakat bisa berjalan beriringan, menghidupkan kembali bumi yang pernah terluka

