Beritakota.id, Jakarta — Di tengah kegelisahan panjang soal rendahnya minat baca dan timpangnya akses pengetahuan, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memilih langkah yang sederhana, tapi bermakna: turun langsung ke masyarakat. Melalui Program Bakti Perpusnas, aparatur sipil negara (ASN) Perpusnas tidak lagi hanya hadir sebagai perumus kebijakan, melainkan sebagai pendamping—hadir di ruang baca, sekolah, dan taman literasi yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
Program ini menandai pergeseran penting dalam cara negara memaknai literasi. Bukan sekadar angka indeks atau laporan tahunan, melainkan proses panjang membangun kebiasaan membaca, berpikir kritis, dan belajar sepanjang hayat—dimulai dari ruang-ruang kecil yang sering luput dari perhatian.
Baca juga : Perkuat Sekolah Rakyat, Perpusnas Sediakan Ribuan Buku dan Anjungan Baca Digital
Kepala Perpustakaan Nasional RI, E. Aminudin Aziz, menegaskan bahwa literasi tidak akan tumbuh jika hanya dikelola dari balik meja. Ia membutuhkan kehadiran, dialog, dan pendampingan yang nyata.
“Literasi tidak cukup dibangun dari balik meja. Melalui Program Bakti Perpusnas, ASN hadir langsung di masyarakat untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, sekaligus mendampingi pengelolaan perpustakaan agar benar-benar hidup dan memberi dampak,” ujar Aminudin.
Program Bakti Perpusnas dijalankan melalui skema Kedinasan dari Manapun (KdM), sebuah pendekatan fleksibel yang memungkinkan ASN Perpusnas mengabdi langsung di berbagai titik literasi—mulai dari perpustakaan sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, hingga taman bacaan masyarakat (TBM) di wilayah Jabodetabek. Kegiatan ini dilakukan secara perorangan maupun berkelompok, menyesuaikan kebutuhan mitra dan kondisi lapangan.
Di sinilah literasi dipahami bukan sebagai proyek seragam, melainkan sebagai kerja kontekstual: setiap sekolah, setiap komunitas, memiliki tantangan dan potensi yang berbeda.
Salah satu potret kecil dari gerakan ini terlihat di SDIT Al Hidayah Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pada Senin (12/01/2026), Nurbaiti, Pustakawan Ahli Madya Perpusnas, hadir bukan untuk mengajar, melainkan mendengar dan mengamati. Ia meninjau kondisi perpustakaan sekolah—rak buku yang belum tertata, koleksi yang belum terlabel dengan baik, serta ruang baca yang masih bisa dihidupkan lebih jauh.
Pendampingan awal ini mencakup asesmen menyeluruh: penataan koleksi, pelabelan buku sesuai standar, pemanfaatan ruang baca, hingga ketersediaan sarana pendukung literasi. Hasilnya menunjukkan satu hal yang kerap terjadi di banyak sekolah: potensi besar, tetapi membutuhkan sentuhan berkelanjutan.
“Perpustakaan sekolah memiliki peran strategis dalam menumbuhkan minat baca siswa. Namun agar berfungsi optimal, diperlukan penataan koleksi yang rapi, sistem yang jelas, dan ruang baca yang nyaman. Melalui Program Bakti Perpusnas, kami ingin memastikan perpustakaan benar-benar dimanfaatkan oleh siswa,” ujar Nurbaiti.
Lebih dari sekadar peninjauan, program ini juga membuka ruang dialog antara pustakawan negara dan pengelola perpustakaan sekolah. Pendampingan lanjutan dirancang secara bertahap, dengan tujuan menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar yang hidup—bukan gudang buku yang sunyi.
Dalam konteks yang lebih luas, Program Bakti Perpusnas mencerminkan upaya membangun ekosistem literasi yang inklusif. Literasi tidak hanya milik kota besar atau sekolah unggulan, tetapi hak setiap warga negara. Ketika perpustakaan dikelola dengan baik dan relevan dengan kebutuhan lokal, ia dapat menjadi pusat aktivitas komunitas: tempat belajar, berdiskusi, dan membangun imajinasi masa depan.
Aminudin menegaskan bahwa kehadiran ASN Perpusnas di lapangan diharapkan mampu memperkuat kapasitas pengelolaan perpustakaan, sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga dan memanfaatkan ruang literasi.
“Kami ingin memastikan perpustakaan di mana pun berada memiliki daya hidup, relevan dengan kebutuhan masyarakat, dan mampu menjadi motor penggerak peningkatan kualitas sumber daya manusia,” katanya.
Di tengah tantangan zaman—banjir informasi, disrupsi digital, dan kesenjangan akses pengetahuan—Program Bakti Perpusnas menjadi pengingat bahwa literasi tidak tumbuh dari instruksi semata. Ia tumbuh dari kehadiran, kesabaran, dan kerja sunyi yang konsisten.
Dan mungkin, dari satu rak buku yang mulai tertata rapi, lahir satu generasi yang belajar mencintai pengetahuan sejak dini. (Lukman Hqeem)

