Beritakota.id, Cibaduyut – Di tengah gempuran sepatu impor murah dan produk massal yang membanjiri pasar nasional, IrvShoes justru memilih jalan berlawanan. Brand sepatu asal Cibaduyut, Bandung, ini bertahan dengan mengusung proses produksi yang jauh lebih rumit, detail, dan sepenuhnya handmade. Bagi IrvShoes, kerumitan bukanlah hambatan, melainkan strategi bisnis untuk bertahan dan tumbuh.

Prinsip tersebut membuat IrvShoes tetap eksis sejak berdiri pada 2010, bahkan ketika banyak produsen sepatu lokal tumbang akibat persaingan harga dengan produk impor.

Berawal dari Keresahan Industri Cibaduyut

Perjalanan IrvShoes sejatinya dimulai jauh sebelum merek ini lahir. Sejak 2004, sang pendiri Agus Setiawan telah berkecimpung di industri sepatu Cibaduyut sebagai pembina pengrajin. Saat itu, sepatu lokal umumnya diproduksi secara massal dengan desain seragam dan dijual di kisaran harga Rp50 ribuan demi mengejar volume.

Kondisi tersebut justru memunculkan kegelisahan. Menurut Agus, Cibaduyut terlalu nyaman bermain aman dan enggan bereksperimen dengan desain maupun teknik produksi.

“Waktu itu semua serba instan, modelnya sama, prosesnya cepat. Tidak ada keberanian untuk berbeda,” ungkapnya.

Dari keresahan itulah IrvShoes lahir pada 2010, bukan sebagai pabrik sepatu, melainkan laboratorium desain.

Melawan Arus Produksi Instan

Sejak awal, IrvShoes mengadopsi pendekatan out of the box. Para pengrajin diarahkan untuk membuat sepatu dengan desain tidak lazim, menggunakan spawn lembaran yang dibentuk secara manual. Proses ini jauh lebih kompleks dibandingkan penggunaan sol “teplok” siap pakai yang tinggal ditempel.

Konsekuensinya, harga sepatu melonjak drastis—dari sekitar Rp50 ribu menjadi Rp250 ribu per pasang. Keraguan pun bermunculan, bahkan dari para pengrajin sendiri yang pesimistis produk dengan harga tersebut akan laku di pasaran.

Apalagi saat itu, pemasaran digital belum berkembang. Media sosial belum masif, promosi masih mengandalkan SMS dan komunikasi manual.

Namun pasar berkata lain. Desain yang unik, berkarakter, dan berbeda justru menemukan penggemarnya sendiri. Karena tidak ada pengrajin yang mau atau mampu memproduksi model tersebut secara konsisten, IrvShoes akhirnya membangun workshop mandiri. Sejak itulah IrvShoes bertransformasi menjadi brand sepatu handmade sepenuhnya.

Sepatu Mengikuti Kaki, Bukan Sebaliknya

Berbeda dengan sepatu pabrikan yang cenderung kaku, IrvShoes mengusung filosofi bahwa sepatu harus mengikuti bentuk kaki, bukan memenjarakannya. Seluruh produknya dibuat tanpa pengeras, sehingga lentur, bisa ditekuk, dan tetap nyaman meski bertumit tinggi.

Baca juga: PUMA Luncurkan FUTURE 9, Sepatu Sepak Bola Inovatif untuk Playmaker Ekspresif

Keunggulan spawn lembaran terletak pada fleksibilitas desain. Tinggi sepatu bisa diatur hingga 20 sentimeter, warna dapat disesuaikan, dan bentuk dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan konsumen. Karakter inilah yang membuat IrvShoes sulit ditiru.

“Sebenarnya bukan tidak bisa, tapi tidak mau ribet,” ujar Agus Setiawan, Rabu (21/1).

Mayoritas pengrajin memilih produksi cepat dengan ongkos minim, meski model bisnis tersebut sangat rentan tersapu produk impor murah.

Fokus Ceruk Pasar yang Spesifik

Dari sisi segmentasi, IrvShoes menyasar pasar perempuan yang dinilai lebih aktif dan loyal dalam berbelanja. Dari sana, IrvShoes menemukan ceruk unik: sepatu tinggi untuk hijabers. Desainnya dibuat aman dari cipratan air, nyaman untuk berkendara motor, namun tetap stylish.

Selain itu, IrvShoes juga kuat di segmen hip-hop dan konser musik, yang membutuhkan sepatu platform ekstrem—jenis produk yang sulit diproduksi secara massal.

Menariknya, IrvShoes tidak mengandalkan iklan digital besar-besaran. Brand ini tumbuh secara organik melalui rekomendasi pelanggan, key opinion leader, serta endorsement selebritas seperti Chika Jessica dan Luna Maya.

Di marketplace, IrvShoes bahkan berani menjual sepatu berbahan imitasi dengan harga hingga Rp800 ribu per pasang dan tetap diminati. Bukan karena murah, melainkan karena cerita, teknik pengerjaan, dan karakter produk yang kuat.

Strategi Bertahan di Tengah Serbuan Impor

Ketika banyak produsen lokal kolaps akibat banjir produk impor murah, IrvShoes relatif aman karena bermain di wilayah yang tidak bisa disentuh produksi massal. Saat ini, IrvShoes menerapkan sistem by order tanpa stok, sehingga produksi lebih efisien dan sesuai permintaan pasar.

“Kalau mau lawan Cina, jangan pakai cara Cina,” menjadi filosofi yang terus dipegang IrvShoes.

Dari Cibaduyut, IrvShoes membuktikan bahwa handmade, kreativitas, dan keberanian untuk berbeda bukan sekadar idealisme, melainkan strategi bisnis yang nyata dan berkelanjutan di tengah ketatnya persaingan industri sepatu nasional. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *