Beritakota.id, Bandung — Di sudut Jalan Klenteng, Kota Bandung, berdiri sebuah rumah tua yang tak sekadar bertahan melawan waktu, tetapi juga menemukan kehidupan barunya. Bangunan heritage tersebut kini dikenal sebagai Madam Hoek, sebuah ruang kuliner dan sosial yang memadukan sejarah, rasa, dan kenyamanan rumah di jantung kota Bandung.

Secara resmi, bangunan ini tercatat sebagai bangunan cagar heritage. Dalam proses pengajuan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), ada satu ketentuan mutlak yang harus dipatuhi: fasad luar bangunan tidak boleh diubah dan harus dipertahankan sesuai bentuk aslinya.

“Looks-nya memang seperti itu dari awal,” ujar Sylvie Purnamsidi, pemilik Madam Hoek, kepada beritakota.id, Selasa (27/1).

Alih-alih menjadi hambatan, ketentuan tersebut justru melahirkan identitas yang kuat. Nama Hoek diambil dari bahasa Belanda yang berarti sudut, merujuk pada posisi bangunan yang berada tepat di pojok jalan. Sementara kata Madam lahir dari sapaan personal yang hangat dan akrab—mewakili sosok ‘ibu’ dan suasana rumah.

Nama tersebut menyatu dengan karakter kawasan Jalan Klenteng yang sejak lama dikenal sebagai permukiman Tionghoa sekaligus ruang pertemuan lintas budaya di Bandung.

Renovasi Tanpa Menghilangkan Jiwa Heritage

Memasuki area dalam, suasana berubah signifikan. Bangunan yang semula hanya satu lantai kini menjadi dua lantai setelah melalui proses renovasi menyeluruh. Fondasi lama bahkan harus dibongkar karena kondisi bangunan yang sempat rusak total.

Meski demikian, satu prinsip dijaga ketat: profil bangunan luar tetap mengikuti bentuk aslinya sebagai rumah heritage.

Interior Madam Hoek menghadirkan nuansa vintage yang hidup, dipadukan dengan sentuhan modern yang halus. Warna biru mendominasi ruangan sebagai penghormatan terhadap memori warga sekitar yang dahulu mengenal bangunan ini sebagai “Toko Biru”.

Beragam barang lawas menghiasi ruang, mulai dari sepeda tua, perabot vintage, hingga ornamen kecil yang sebagian besar merupakan koleksi pribadi pemilik, titipan sahabat, serta kontribusi komunitas.

Bahkan area toilet pun dirancang dengan konsep khusus. Dindingnya dipenuhi foto hitam-putih karya Sylvie bersama dua rekannya. Awalnya, ruang ini direncanakan sebagai area pamer komunitas fotografi.

“Tempat ini saya bayangkan sebagai ruang aktivitas,” kata Sylvie. Hingga lebih dari satu tahun, foto-foto tersebut belum diganti karena ke depan ia ingin menghadirkan kurasi tematik, bukan sekadar dekorasi berganti.

Comfort Food Tanpa Menu Andalan

Berbeda dari kebanyakan restoran, Madam Hoek tidak memaksakan satu menu signature. Meski beberapa hidangan seperti sayur lodeh atau menu Nusantara tertentu kerap menjadi favorit pengunjung, Sylvie menolak konsep “menu andalan”.

Baginya, signature sejati adalah comfort food—hidangan yang menghadirkan rasa nyaman dan perasaan pulang ke rumah.

Menu yang ditawarkan beragam, mulai dari nasi ayam taliwang khas Lombok, ifu mie siram peranakan, hingga nasi cumi cabai ijo dan paru.

“Kalau makanan, saya selalu mulai dari lidah,” ujarnya.

Baca juga: Menu Caplang Hadir di Vue Palace Artotel Curated Bandung

Tanpa latar belakang pendidikan kuliner formal, seluruh menu lahir dari pengalaman jajan, kecintaan pada rasa, serta proses riset dan uji coba berulang bersama tim dapur. Konsep prasmanan atau remesan yang sempat hadir di awal pembukaan pun ditinggalkan, menyesuaikan tren dan preferensi pengunjung. Kini, menu disajikan secara ala carte tanpa kehilangan identitas awal.

Milo Malaysia dan Filosofi Rasa

Di antara ragam menu, satu pengecualian hadir pada minuman. Madam Hoek secara konsisten hanya menggunakan Milo Malaysia.

Alasannya sederhana: soal rasa dan tekstur. Milo Indonesia dinilai terlalu powdery, sementara Milo Malaysia menghadirkan sensasi crunchy yang tetap terasa meski disajikan dingin.

Dari prinsip tersebut lahir menu favorit lintas generasi, Milo Godzilla, yakni Milo dingin dengan tambahan es krim.

“Kalau Milo Malaysia nggak ada, menu itu nggak saya keluarin,” tegas Sylvie.

Ruang Sosial, Musik, dan Pertemuan Manusia

Lebih dari sekadar tempat makan, Madam Hoek tumbuh sebagai ruang sosial. Sylvie, mantan pekerja perbankan yang memilih berhenti demi mengurus anak, memulai perjalanan bisnisnya dari warung kopi sejak 2013. Budaya nongkrong, berbincang, dan membangun relasi menjadi fondasi utama.

Semangat tersebut terwujud melalui live music rutin setiap Kamis malam. Jazz disajikan secara intim tanpa jarak panggung. Musisi dan penonton nyaris menyatu, dengan musik sebagai atraksi utama dan makanan sebagai pendamping.

Bahkan, band Season Jazz lahir dari pertemuan di Madam Hoek, dengan manajemen yang juga berada di bawah naungan tempat ini.

Di bagian tengah bangunan, sebuah pohon tumbuh rindang di area inner court. Ruang terbuka ini tak hanya memenuhi koefisien dasar hijau, tetapi juga menjadi area favorit pengunjung.

“Kalau orang mau nongkrong lama, harus nyaman,” ujar Sylvie.

Harga Terjangkau di Tengah Kota Bandung

Dengan luas bangunan sekitar 198 meter persegi dan lahan 139 meter persegi, Madam Hoek tetap menjaga harga agar ramah di kantong. Minuman dibanderol mulai Rp8.000, sementara menu termahal berada di kisaran Rp60.000–65.000.

Porsi besar menjadi prinsip utama. “Lebih baik pelanggan kenyang dan membawa pulang sisa, daripada pulang dengan rasa kurang,” katanya.

Madam Hoek juga terbuka untuk berbagai kegiatan, mulai dari acara privat, pre-wedding, hingga syuting, dengan satu syarat: karakter bangunan heritage dan suasana rumahan harus tetap terjaga.

Di tengah tantangan ekonomi, Sylvie memilih jujur pada hal-hal yang ia cintai—musik, rasa, dan pertemuan manusia. Semua disajikan apa adanya.

Madam Hoek bukan restoran yang berteriak mencari perhatian. Ia berbisik pelan, lewat rasa, ruang, dan kenangan. Dan mungkin, justru itulah alasan orang selalu ingin kembali.  (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *