Beritakota.id, Jakarta – Di tengah dunia investasi global yang semakin cepat dan oportunistik, Jepang menempuh jalan yang berbeda. Bagi banyak perusahaan Jepang, investasi bukan soal datang, untung, lalu pergi. Ia adalah komitmen lintas generasi. Dan Indonesia telah menjadi salah satu panggung terpanjang bagi pendekatan ini—bahkan sejak lebih dari 70 tahun lalu.
Kisah tersebut tercermin jelas dalam perjalanan Gobel Group. Didirikan pada 1956 dan memulai kemitraan industrinya dengan Jepang pada 1958, Gobel Group menjadi contoh nyata bagaimana investasi Jepang tumbuh bersama Indonesia. Bukan hanya membangun pabrik, tetapi membangun ekosistem industri, mentransfer pengetahuan, dan menanamkan kepercayaan jangka panjang.
Semangat inilah yang kembali diangkat dalam Indonesia–Japan Executive Dialogue 2.0 yang digelar PPIJ. Forum ini tidak hanya berbicara tentang angka investasi, tetapi tentang mengapa Jepang bertahan, bahkan ketika dinamika global dan domestik berubah. Bagi Jepang, kepercayaan adalah mata uang utama dalam investasi—dan kepercayaan dibangun melalui konsistensi, bukan retorika.
Proyek-proyek seperti Indonesia International Automotive Proving Ground (IIAPG) yang dikembangkan bersama Toyota dan JOIN melalui skema KPBU, atau Opus Park Sentul bersama Sumitomo Corporation dan Hankyu Hanshin Properties, menunjukkan pola yang sama. Investasi tidak semata mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi memperkuat fondasi industri dan pembangunan berkelanjutan. Di sinilah perbedaan pendekatan Jepang menjadi nyata.
Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, pendekatan ini terasa semakin relevan. Investor Jepang cenderung menilai sebuah negara dari kemampuannya menjaga tata kelola internal: disiplin fiskal, kepastian hukum, dan kesinambungan kebijakan lintas pemerintahan. Ketika faktor-faktor ini terjaga, investasi dapat tumbuh secara organik, bahkan melintasi berbagai siklus ekonomi dan politik.
Baca juga : Forum Jepang–AS: Rektor ITPLN Peringatkan Krisis SDM Ahli Nuklir di Indonesia
Indonesia sendiri tetap dipandang sebagai mitra strategis. Pasar domestik yang besar, bonus demografi, dan peluang transisi energi membuat Indonesia relevan untuk dekade ke depan. Namun, seperti ditunjukkan oleh dinamika investasi beberapa tahun terakhir, potensi saja tidak cukup. Kepercayaan harus terus dirawat melalui kebijakan yang konsisten dan institusi yang kredibel.
Menuju 100 tahun hubungan Indonesia–Jepang pada 2058, pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa besar investasi yang bisa ditarik hari ini, tetapi seberapa lama investasi itu akan bertahan. Pengalaman Jepang di Indonesia menunjukkan satu pelajaran penting: investasi yang paling berharga bukan yang paling cepat datang, melainkan yang paling lama tinggal. (Lukman Hqeem)

