Beritakota.id, Jakarta – Di Urban Forest Jakarta, sore itu (Kamis, 12/02/2026) terasa seperti biasa saja. Anak-anak muda duduk melingkar, kopi dingin di tangan, obrolan lompat dari sneakers ke musik, dari kerjaan ke rencana kabur akhir pekan. Tapi di salah satu sudut ruang terbuka itu, sebuah brand global mencoba membaca—atau mungkin menerjemahkan—ritme tongkrongan Jakarta ke dalam format yang lebih terkurasi: pop-up experience.
ASICS menamai aktivasi terbarunya sebagai GEL-NYC™ 2.0 Pop Up Experience. Konsepnya laboratorium. Bukan laboratorium dengan jas putih dan tabung reaksi, melainkan versi urban: instalasi desain, ruang interaktif, workshop kreatif, sampai panggung musik. Sebuah eksperimen tentang bagaimana budaya jalanan dan arsip desain 2000-an bisa dipertemukan dalam satu siluet sneakers.
Baca juga : ASICS Hadirkan Melbourne Finals Weekend di Jakarta
Di Indonesia, tongkrongan memang bukan sekadar nongkrong. Ia adalah ruang produksi gagasan paling jujur. Banyak subkultur tumbuh bukan dari panggung besar, melainkan dari kursi plastik dan meja panjang. Jadi ketika sebuah brand internasional mencoba menyebut tongkrongan sebagai “laboratorium informal”, pertanyaannya sederhana: apakah ini observasi yang tulus, atau sekadar cara lain untuk terlihat relevan?
GEL-NYC™ 2.0 sendiri dibangun dari nostalgia. Upper-nya mengambil referensi dari GEL-1050, sementara elemen desainnya menggabungkan sentuhan GEL-LYTE™ DS II. Era 2000-an memang sedang kembali digemari. Estetika retro-futuristik, layering panel yang kompleks, dan siluet chunky menjadi bahasa visual generasi yang tumbuh di antara Friendster dan awal Instagram.
Namun nostalgia saja tidak cukup. Di tengah kota seperti Jakarta—yang ritmenya cepat, panas, dan sering tidak ramah pejalan kaki—kenyamanan menjadi faktor utama. Di sinilah teknologi bermain. Midsole dengan FF BLAST™ PLUS cushioning dan sentuhan SPACE GEL™ ditawarkan sebagai jawaban atas kebutuhan urban: berjalan jauh, berpindah lokasi, berdiri lama di acara, lalu lanjut nongkrong lagi. Sneakers tidak lagi hanya simbol gaya, tapi alat bertahan hidup dalam mobilitas kota.
Pertanyaannya, apakah teknologi ini terasa? Atau hanya menjadi istilah yang terdengar canggih di materi promosi?
Di lokasi pop-up, pengunjung bisa langsung mencoba sepatu lewat sesi shoe trial. Ini langkah yang cerdas. Di era ketika konsumen semakin skeptis terhadap klaim brand, pengalaman langsung jauh lebih meyakinkan dibanding slogan. Tidak ada yang lebih jujur dari kaki sendiri.
Menariknya, aktivasi ini tidak berhenti pada display produk. Ada workshop graffiti, lyric writing, walking tour, hingga penampilan White Shoes & The Couples Company. Di sini, brand mencoba masuk ke wilayah yang lebih cair: budaya. Graffiti dan b-boy performance bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol bahwa sportstyle hari ini tidak bisa dilepaskan dari ekspresi kreatif jalanan.
Tetapi selalu ada ketegangan halus antara budaya dan brand. Budaya lahir organik, tanpa sponsor. Brand datang dengan struktur, timeline, dan KPI. Budaya bergerak liar; brand butuh kontrol. Di titik inilah eksperimen seperti ini diuji: apakah ia memberi ruang nyata bagi komunitas, atau hanya meminjam estetika mereka untuk memperkuat positioning?
Secara visual, konsep laboratorium urban terasa relevan. Instalasi dibuat imersif, memberi kesan bahwa pengunjung sedang memasuki ruang eksperimen gaya. Ada upaya untuk menjadikan sneakers bukan sekadar produk, melainkan artefak yang lahir dari proses kreatif. Ini pendekatan yang lebih canggih dibanding sekadar launching di mal dengan backdrop LED.
Namun yang paling menarik justru respons audiensnya. Anak-anak muda Jakarta hari ini bukan konsumen pasif. Mereka cepat membaca mana yang otentik dan mana yang terlalu dibuat-buat. Mereka datang bukan hanya untuk melihat sepatu, tapi untuk merasakan atmosfer—apakah ruang ini benar-benar terasa seperti tongkrongan, atau sekadar set desain yang Instagramable?
Dalam konteks global, langkah ASICS ini bisa dibaca sebagai bagian dari pergeseran besar di industri sportstyle. Brand tidak lagi cukup menjual performa. Mereka harus menjual cerita, koneksi, bahkan rasa memiliki. Filosofi “Sound Mind Sound Body” yang sering digaungkan ASICS kini diterjemahkan ke dalam bahasa komunitas: energi untuk bergerak, secara fisik dan kreatif.
Di kota seperti Jakarta, yang terus membangun identitas urban-nya sendiri, kolaborasi semacam ini memang tak terelakkan. Brand global membutuhkan legitimasi lokal. Sementara komunitas lokal, suka atau tidak, sering membutuhkan dukungan infrastruktur untuk memperluas panggungnya. Hubungan ini tidak selalu timpang—tapi juga tidak pernah sepenuhnya netral.
GEL-NYC™ 2.0 akhirnya berdiri di tengah persimpangan itu. Ia adalah produk yang lahir dari arsip masa lalu, diperbarui dengan teknologi masa kini, dan dilempar ke ruang budaya yang terus bergerak. Apakah ia akan menjadi bagian dari rotasi harian anak tongkrongan Jakarta? Atau hanya singgah sebagai hype musiman? Waktu yang akan menjawab.
Yang jelas, eksperimen ini menunjukkan satu hal: brand tidak bisa lagi berdiri di menara gading. Mereka harus turun ke ruang terbuka, masuk ke percakapan, dan berani diuji oleh realitas budaya. Di Urban Forest, setidaknya untuk beberapa hari, sneakers bukan hanya alas kaki. Ia menjadi medium dialog—antara nostalgia dan masa depan, antara teknologi dan gaya, antara budaya yang tumbuh liar dan brand yang mencoba mengikutinya.
Dan seperti semua eksperimen, hasilnya tidak pernah sepenuhnya bisa dikontrol. (Lukman Hqeem)

