Beritakota.id, Jakarta – Empat bulan setelah bencana banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra, pemenuhan gizi anak dan balita di daerah terdampak dinilai belum menjadi perhatian utama. Kondisi ini terungkap saat Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) menyalurkan bantuan ke Desa Serba dan Desa Pematang Durian di Aceh Tamiang pada awal Februari lalu.
Dalam penyaluran bantuan tersebut, YAICI menemukan bahwa sebagian besar bantuan yang diterima masyarakat berupa produk pangan praktis seperti mi instan dan susu kental manis yang sebenarnya tidak sesuai untuk kebutuhan balita.
Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudhistira, mengatakan bahwa hampir empat bulan setelah bencana terjadi, bantuan yang secara khusus ditujukan bagi anak-anak masih sangat terbatas.
“Bantuan yang ada saat ini kebanyakan ditujukan untuk orang dewasa, bukan untuk anak-anak,” ujar Satria.
Menurutnya, temuan ini menjadi catatan penting dalam upaya pemulihan pascabencana. Ia mendorong para pemangku kepentingan, relawan, maupun lembaga kemanusiaan agar mulai memperhatikan kebutuhan gizi anak dalam setiap penyaluran bantuan.
Satria menilai bahwa pada fase pemulihan seharusnya perhatian tidak lagi hanya pada kebutuhan pangan secara umum, tetapi juga pada kebutuhan yang lebih spesifik, termasuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang mereka.
“Harapannya ke depan bantuan dari siapa pun, baik pemerintah maupun masyarakat, mulai lebih memperhatikan kebutuhan anak,” katanya.
Selain menyalurkan bantuan, YAICI juga menggelar kegiatan trauma healing bagi anak-anak terdampak bencana. Program ini dilakukan melalui berbagai permainan edukatif yang bertujuan membantu anak-anak mengurangi rasa takut dan kecemasan setelah mengalami peristiwa bencana.
Baca juga: Rumah Belajar YAICI Masuk Nominasi Finalis Grassroots Innovation
“Kami juga membuat kegiatan trauma healing untuk anak-anak, karena ini penting. Kondisi psikologis mereka juga perlu diperhatikan,” tutur Satria.
Sementara itu, Penyuluh Kesehatan Kecamatan Sekerak, Ersyad, mengingatkan bahwa pola bantuan yang didominasi makanan instan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang, terutama bagi anak-anak dan balita yang membutuhkan nutrisi lengkap.
Ia menegaskan bahwa konsumsi susu kental manis secara berlebihan dapat berdampak buruk terhadap pertumbuhan anak, bahkan berpotensi memicu stunting. Hal ini karena kental manis dapat memberikan rasa kenyang semu sehingga anak menjadi enggan mengonsumsi makanan bergizi lainnya.
“Jangka pendeknya bisa menuju stunting. Karena konsumsi susu kental manis bisa menghasilkan efek kenyang yang palsu. Anak-anak nantinya lebih memilih kental manis daripada makan,” jelas Ersyad.
Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa selain kebutuhan pangan, masyarakat terdampak banjir juga sangat membutuhkan bantuan obat-obatan dan peralatan medis. Banyak fasilitas kesehatan mengalami kerusakan akibat banjir sehingga pelayanan kesehatan belum berjalan optimal.
Menurut Ersyad, berbagai penyakit mulai muncul di wilayah terdampak, seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dipicu oleh debu dari lumpur banjir yang telah mengering.
“Kami membutuhkan obat dan alat-alat medis. Banyak peralatan kesehatan rusak akibat banjir, sehingga pelayanan kepada masyarakat belum bisa maksimal,” ungkapnya. (***)

