Beritakota.id, Jakarta – Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah meluncurkan sejumlah program strategis lingkungan tahun 2026 dalam sebuah acara yang digelar pada Jumat (13/3/2026), bertepatan dengan momentum Ramadan 1447 Hijriah.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi Muhammadiyah dalam memperkuat komitmen terhadap pelestarian lingkungan hidup sekaligus mendorong gerakan ekologis berbasis nilai keislaman di tingkat nasional.
Peluncuran program tersebut dihadiri sejumlah tokoh yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan, di antaranya Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi lingkungan hidup Anwar Abbas, Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup Bidang Kerja Sama Antar Lembaga Pusat dan Daerah Hanifah Dwi Nirwana, Deputi Bidang PSLB3 Melda Mardalina, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah M. Azrul Tanjung, Komisioner Badan Pengelola Keuangan Haji Harry Alexander, serta Koordinator Lestari Project Arry Azhar.
Dalam kesempatan tersebut, Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah meluncurkan lima program unggulan, yakni Muhammadiyah Green Movement 2026 yang bekerja sama dengan Lazismu, Program Edu Forest hasil kolaborasi dengan Lestari Project, Program Pengelolaan Sampah bersama Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Program Green Hajj yang dikembangkan bersama BPKH, serta platform digital Muhammadiyah Green Ecosystem (GreenMU.apps) yang dikembangkan bersama PT XYZ.
Pada agenda tersebut juga dilaksanakan penandatanganan kerja sama antara Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah dengan Kementerian Lingkungan Hidup RI terkait program pengelolaan sampah.
Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap langkah progresif yang dilakukan Majelis Lingkungan Hidup dalam mendorong gerakan pelestarian alam.
“Kegiatan Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah itu bermanfaat untuk bangsa dan persyarikatan, termasuk yang diluncurkan pada hari ini. Ini adalah bagian dari kontribusi nyata Muhammadiyah dalam menjaga kelestarian alam dan menjawab tantangan krisis lingkungan yang kita hadapi bersama,” ujar Anwar Abbas.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai Islam mengajarkan umat manusia untuk menjaga keseimbangan alam dan tidak merusak bumi.
“Islam mengajarkan kita untuk tidak merusak bumi. Oleh karena itu, gerakan lingkungan seperti ini harus terus diperkuat sebagai bagian dari dakwah dan tajdid Muhammadiyah,” katanya.
Sementara itu, Hanifah Dwi Nirwana menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi persoalan lingkungan hidup yang semakin kompleks.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah menjadi kunci penting dalam mempercepat solusi pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
“Kami melihat bahwa apa yang dilakukan Muhammadiyah melalui Majelis Lingkungan Hidup merupakan contoh nyata bagaimana organisasi masyarakat dapat mengambil peran strategis dalam mendukung agenda pembangunan lingkungan nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa persoalan lingkungan, terutama pengelolaan sampah, tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.
“Kolaborasi seperti ini sangat penting, karena persoalan lingkungan hidup tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah,” jelasnya.
Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, M. Azrul Tanjung, menegaskan bahwa peluncuran program ini merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan krisis lingkungan yang semakin kompleks.
Ia menyampaikan bahwa gerakan lingkungan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan harus terstruktur, berkelanjutan, serta melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Program-program yang kami luncurkan hari ini merupakan bagian dari ikhtiar besar Muhammadiyah untuk menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah, konservasi hutan, dan penguatan kesadaran ekologis umat,” ujar Azrul.
Baca juga: Kontraktor Minta NasDem–Muhammadiyah Mediasi Sengketa Proyek
Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan dalam menguatkan dampak program di lapangan.
“Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci. Karena itu, Majelis Lingkungan Hidup membuka ruang seluas-luasnya bagi semua pihak untuk bersama membangun ekosistem gerakan lingkungan yang inklusif dan berdampak luas,” katanya.
Azrul berharap berbagai inisiatif seperti Muhammadiyah Green Movement, Edu Forest, Green Hajj, Program Pengelolaan Sampah hingga platform digital GreenMU dapat menjadi motor penggerak perubahan perilaku masyarakat menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
Koordinator Lestari Project, Arry Azhar, menilai kolaborasi dengan Muhammadiyah menjadi langkah strategis dalam memperkuat gerakan edukasi lingkungan berbasis kawasan.
Menurutnya, kerja sama tersebut telah diawali melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) Edu Forest yang menjadi fondasi pengembangan program ke depan.
“Kami melihat Muhammadiyah memiliki jaringan yang sangat besar hingga ke akar rumput. Melalui FGD Edu Forest yang telah kami lakukan bersama, kami optimistis program ini dapat diimplementasikan sebagai ruang pembelajaran ekologis bagi masyarakat, khususnya generasi muda,” ujarnya.
Arry menambahkan bahwa konsep Edu Forest tidak hanya berfokus pada konservasi hutan, tetapi juga sebagai sarana edukasi, pemberdayaan ekonomi, serta peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat.
“Edu Forest bukan sekadar menjaga hutan, tetapi menjadikannya pusat edukasi, pusat pemberdayaan, dan ruang pembelajaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam,” katanya.
Hal senada disampaikan Komisioner BPKH RI, Harry Alexander. Ia menegaskan bahwa BPKH memiliki komitmen yang sejalan dengan Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah dalam mewujudkan pelaksanaan ibadah haji yang ramah lingkungan melalui konsep Green Hajj.
Menurutnya, isu pengelolaan sampah menjadi perhatian penting mengingat besarnya jumlah jemaah haji setiap tahun.
“Melalui kolaborasi ini, kami berharap edukasi pengelolaan sampah dapat dimulai sejak di tanah air, sehingga para calon jemaah haji memiliki kesadaran dan tanggung jawab lingkungan ketika melaksanakan ibadah di Tanah Suci,” ujar Harry.
Kegiatan peluncuran ini juga menjadi puncak dari rangkaian program Green Ramadhan 1447 H yang diselenggarakan oleh Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah.
Dalam rangkaian tersebut telah dilaksanakan berbagai kegiatan seperti Tadarus Green Ramadhan dalam bentuk webinar yang mengangkat tema hutan wakaf dan Green Hajj, serta Focus Group Discussion (FGD) yang digagas bersama Lestari Project.
Sekretaris Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, Djihadul Mubarok, mengatakan bahwa Green Ramadhan merupakan upaya untuk menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah.
“Green Ramadhan bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi ikhtiar untuk menghadirkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah,” ujarnya.
Melalui peluncuran program-program ini, Muhammadiyah diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai pelopor gerakan lingkungan berbasis nilai keislaman sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam menjawab tantangan krisis lingkungan di Indonesia. (***)

