Beritakota.id, Jakarta – Upaya peningkatan layanan kesehatan anak di Indonesia terus diperkuat melalui inovasi teknologi medis. Memperingati Hari Epilepsi Sedunia, PT Bundamedik Tbk melalui RSIA Bunda Jakarta resmi menghadirkan Pediatric Neurology Center, sebuah pusat layanan neurologi anak yang dirancang untuk mendukung diagnosis dan penanganan gangguan saraf secara lebih komprehensif, akurat, dan ramah pasien.

Peresmian pusat ini menjadi langkah strategis di tengah masih tingginya kasus gangguan neurologis, khususnya Epilepsi pada anak. Kondisi ini tidak hanya membutuhkan ketepatan diagnosis, tetapi juga pendekatan yang mampu meminimalkan kecemasan pasien usia dini selama proses pemeriksaan.

Sejalan dengan itu, RSIA Bunda Jakarta juga memperkenalkan teknologi Electroencephalogram (EEG) portabel sebagai inovasi terbaru dalam pemeriksaan aktivitas listrik otak. Berbeda dengan metode konvensional yang cenderung kaku dan kurang nyaman bagi anak, teknologi ini memungkinkan pemeriksaan dilakukan secara fleksibel, bahkan dari rumah pasien.

Dokter spesialis anak konsultan neurologi, Achmad Rafli, menjelaskan bahwa kejang pada anak tidak selalu disebabkan oleh demam. Ia menegaskan pentingnya kewaspadaan orang tua terhadap kejang yang muncul tanpa pemicu yang jelas.

“Kejang tanpa demam, tanpa sebab jelas, dan berulang dalam lebih dari 24 jam perlu dicurigai sebagai epilepsi. Ini membutuhkan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis,” ujarnya, Minggu (27/4).

Menurutnya, epilepsi masih menjadi masalah kesehatan global, termasuk di Indonesia. Sekitar 20–30 persen kasus kejang pada anak berkaitan dengan epilepsi, namun masih banyak yang belum terdiagnosis secara optimal.

Pemeriksaan utama untuk mendeteksi epilepsi adalah elektroensefalografi (EEG), yang berfungsi merekam aktivitas listrik otak. Kehadiran EEG portabel menjadi terobosan penting karena mampu meningkatkan akses layanan sekaligus kenyamanan pasien.

Baca juga: RSIA Bunda Jakarta Resmikan Pusat Neurologi Anak, Hadirkan EEG Portabel untuk Deteksi Epilepsi Lebih Akurat

“Dengan EEG portabel, pemeriksaan tidak harus dilakukan di rumah sakit. Bisa di rumah atau lokasi lain, dan dokter tetap dapat memantau hasilnya dari jarak jauh. Ini sangat membantu pasien dengan keterbatasan akses,” jelasnya.

Selain praktis, alat ini juga dirancang lebih ramah anak. Proses pemasangannya lebih sederhana, sehingga anak tetap dapat beraktivitas seperti makan, tidur, atau bermain selama pemeriksaan berlangsung. Tingkat akurasinya pun cukup tinggi, yakni berkisar antara 70 hingga 90 persen dalam mendeteksi gelombang kejang.

Lebih lanjut, Dr. Rafli menekankan pentingnya edukasi masyarakat untuk mengurangi stigma terhadap epilepsi. Ia menegaskan bahwa epilepsi bukan penyakit menular dan dapat dikontrol dengan pengobatan yang tepat.

“Banyak pasien epilepsi bisa hidup normal dan bebas kejang, terutama jika sudah tidak mengalami kejang selama dua tahun,” tambahnya.

Dalam kondisi darurat saat anak mengalami kejang, orang tua diimbau tetap tenang. Langkah awal yang dapat dilakukan antara lain memposisikan anak dalam posisi miring untuk menjaga jalan napas, melonggarkan pakaian, serta memberikan obat penghenti kejang jika tersedia.

Sebagai bagian dari peresmian, RSIA Bunda Jakarta juga menggelar diskusi panel bersama para pakar neurologi anak, perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia, serta komunitas pemerhati epilepsi. Forum ini menjadi wadah kolaborasi dalam memperkuat sinergi peningkatan kualitas diagnosis dan penanganan gangguan neurologi anak di Indonesia.

Ke depan, kehadiran Pediatric Neurology Center dan teknologi EEG portabel diharapkan mampu memperluas akses layanan kesehatan, mempercepat diagnosis, serta memberikan harapan baru bagi anak-anak dengan gangguan neurologi untuk mendapatkan penanganan yang lebih optimal sejak dini.  (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *