Unggahan video sosok berbaju putih menyerupai pocong mendadak membanjiri media sosial pada Mei 2026. Teror ini dilaporkan terjadi di beberapa wilayah seperti Tangerang, Depok, Grobogan, hingga Jakarta Timur.
Pihak kepolisian yang turun tangan menyelidiki kasus ini menemukan pola yang tidak asing. Fenomena tersebut dipastikan bukan hal gaib, melainkan modus kriminal lama yang dikemas dengan kostum baru.
Baca juga : BI Naikkan Suku Bunga di Tengah Rupiah Melemah, Apa Dampaknya bagi Rakyat?
Sejarah Berulang: dari Kolor Ijo ke Pocong
Indonesia pernah dihebohkan oleh fenomena serupa pada awal 2000-an. Sosok “Kolor Ijo”, makhluk berbaju hijau yang diklaim menakut-nakuti warga di malam hari, melanda Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kepanikan menyebar cepat melalui mulut ke mulut dan berita TV lokal.
Pola kejadiannya hampir identik. Warga ketakutan, enggan keluar malam, dan lingkungan menjadi sepi. Pelaku kriminal memanfaatkan kekosongan itu untuk mencuri dan merampok.
Setelah razia masif, polisi menangkap pelaku. Terbukti: Kolor Ijo adalah manusia biasa, bukan makhluk gaib.
| ASPEK | Kolor Ijo 2000-an | Teror Pocong 2026 |
| Kostum / identitas | Sosok berbaju hijau, berperilaku aneh di malam hari | Kostum pocong (kain kafan putih), berkeliaran malam hari |
| Tujuan | Ciptakan kepanikan agar warga tak keluar malam | Intimidasi warga, tutup akses jalan, lancarkan pencurian |
| Media penyebaran | Mulut ke mulut, SMS, berita TV lokal | TikTok, Instagram, WhatsApp, viral dalam hitungan jam |
| Lokasi utama | Jawa Tengah, Jawa Timur, pinggiran kota besar | Tangerang, Depok, Grobogan, Jakarta Timur |
| Pelaku | Kawanan kriminal terorganisir | Kriminal + remaja iseng pembuat konten viral |
| Status akhir | Mereda setelah razia masif dan penangkapan | Sedang dalam penanganan kepolisian (Mei 2026) |
Modus Pocong 2026: Ilmu Psikologi, Bukan Ilmu Sihir
Teror pocong 2026 bekerja dengan logika yang sama. Polda Banten mengendus modus pencurian di balik kemunculan sosok pocong di Kabupaten Tangerang. Di Lamongan, dua remaja berinisial MA (17) dan AB (17) diamankan setelah video pocong mereka viral dan meresahkan warga.
Polisi menyebut ada tiga lapisan pelaku dalam fenomena ini. Pertama, pembuat konten iseng yang ingin viral. Kedua, oknum yang sengaja memanipulasi lokasi video agar teror menyebar ke daerah lain. Ketiga, kawanan kriminal yang memanfaatkan kepanikan untuk beraksi.
Psikolog sosial menyebut efek ini sebagai eksploitasi nalar irrasional. Otak manusia yang terkejut kehilangan kemampuan membaca situasi secara logis, dan di celah itulah kejahatan bergerak.
Baca juga : Dari Gojek ke Kemendikbud: Perjalanan Karier Nadiem Makarim Sebelum Jadi Terdakwa
Mengapa Pocong Lebih Efektif daripada Kostum Lain?
Pocong bukan sekadar kostum Halloween. Sosok ini tertanam dalam imajinasi kolektif masyarakat Indonesia sejak generasi ke generasi. Film horor, cerita rakyat, dan pengalaman personal membuat respons ketakutan muncul secara instan.
Cukup siluet putih di ujung gang gelap. Otak tidak sempat memverifikasi; refleks ketakutan sudah lebih dulu bekerja. Inilah yang membuat pocong lebih efektif dibandingkan dengan kostum lain. Tidak perlu riasan mahal atau aksi dramatis. Cukup kain kafan dan kegelapan.
Perbedaan Utama: Media Sosial Mempercepat Segalanya
Kolor Ijo butuh berminggu-minggu untuk menyebar lintas kota. Teror pocong 2026 viral dalam hitungan jam.
TikTok dan WhatsApp mengubah dinamika kepanikan secara fundamental. Video yang direkam di Tangerang bisa muncul di beranda warga Grobogan pada malam yang sama dengan narasi yang sudah dimodifikasi.
Inilah yang membuat teror pocong 2026 lebih sulit ditangani. Klarifikasi polisi kalah cepat dari laju penyebaran video hoaks.
Baca juga : Daftar Saham Pilihan yang Malah Diuntungkan saat Nilai Tukar Rupiah Melemah
Pola yang Tidak Akan Berhenti Sendiri
Fenomena Kolor Ijo mereda setelah adanya penangkapan dan razia secara masif. Teror pocong pun diprediksi akan berakhir melalui penegakan hukum yang serupa.
Kendati demikian, selama budaya horor yang mengakar berpadu dengan dinamika media sosial yang bergerak lebih cepat daripada klarifikasi, modus operandi ini akan terus digunakan. Kostumnya mungkin berganti, tetapi polanya tidak berubah.
Fenomena ini bukan masalah mistis, melainkan sebuah bentuk adaptasi kriminal yang memanfaatkan ketakutan kolektif masyarakat sebagai instrumen kejahatan.

