Beritakota.id, Jakarta – Harga emas dunia memasuki pekan ini dalam tekanan setelah mengalami koreksi hampir 5 persen sepanjang pekan lalu. Di pasar spot, emas bergerak di sekitar level US$4.300 per troy ounce, jauh di bawah rekor tertinggi yang sempat mendekati US$5.000 per troy ounce beberapa waktu lalu.
Bagi investor jangka pendek, penurunan ini terlihat sebagai sinyal melemahnya daya tarik logam mulia. Namun bagi investor institusi dan bank sentral dunia, koreksi tersebut justru terjadi di tengah tren akumulasi emas terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Baca juga : Serangan AS ke Iran Tekan Emas, Pasar Tetap Fokus Inflasi
Tekanan terhadap emas muncul setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan ekonomi masih mampu menciptakan 172.000 lapangan kerja baru pada Mei. Angka tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa Federal Reserve memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun.
Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,54 persen, meningkatkan daya tarik instrumen pendapatan tetap dibandingkan aset non-yielding seperti emas.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik terus meningkat. Konflik antara Israel dan Iran kembali memanas setelah serangkaian serangan dan peluncuran rudal yang memperbesar risiko gangguan pasokan energi global. Kondisi tersebut mendorong harga minyak naik tajam dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.
Ironisnya, faktor yang biasanya menjadi katalis positif bagi emas justru belum mampu mengimbangi tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga. Investor saat ini lebih fokus pada arah kebijakan moneter dibandingkan risiko geopolitik.
Meski demikian, di balik fluktuasi harga jangka pendek, perubahan yang lebih besar sedang berlangsung dalam sistem keuangan global.
Laporan terbaru Bank Sentral Eropa (ECB) menunjukkan bahwa nilai cadangan emas yang dimiliki bank sentral dunia pada akhir 2025 telah melampaui kepemilikan surat utang pemerintah Amerika Serikat. Perkembangan tersebut menjadi salah satu pergeseran paling signifikan dalam komposisi cadangan devisa global sejak berakhirnya sistem Bretton Woods pada awal 1970-an.
Fenomena ini mengingatkan banyak ekonom pada periode menjelang keputusan Presiden Richard Nixon pada 1971 yang mengakhiri konvertibilitas dolar terhadap emas. Saat itu, negara-negara pemegang cadangan devisa mulai meragukan kemampuan Amerika Serikat mempertahankan stabilitas nilai dolarnya. Lebih dari lima dekade kemudian, kekhawatiran serupa kembali muncul, meskipun dalam konteks yang berbeda.
Defisit fiskal Amerika Serikat yang terus membesar, meningkatnya rivalitas geopolitik global, penggunaan sanksi keuangan sebagai instrumen diplomasi, serta ketidakpastian hubungan Washington dengan sejumlah sekutu strategis mendorong banyak negara melakukan diversifikasi cadangan mereka ke aset yang dianggap lebih netral.
Polandia, China, India, Turki, Brasil, dan Kazakhstan menjadi beberapa negara yang secara konsisten menambah kepemilikan emas dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan setelah pecahnya perang Rusia-Ukraina pada 2022, pembelian emas oleh bank sentral dunia meningkat secara signifikan sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko geopolitik.
Emas Kembali Sebagai Aset Moneter Global
Dalam perspektif yang lebih luas, emas kini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung nilai terhadap inflasi. Logam mulia tersebut kembali memperoleh statusnya sebagai aset moneter global yang tidak terikat pada kebijakan fiskal maupun politik negara tertentu.
Pandangan jangka panjang terhadap emas juga masih relatif positif. Sejumlah lembaga keuangan internasional memperkirakan harga emas berpotensi kembali menguat setelah fase konsolidasi saat ini. UOB, misalnya, memproyeksikan harga emas dapat mencapai sekitar US$4.600 per troy ounce pada kuartal ketiga, meningkat menuju US$4.800 pada kuartal keempat, sebelum kembali menguji area psikologis US$5.000 pada awal tahun depan.
Karena itu, koreksi harga yang terjadi saat ini mungkin lebih tepat dipandang sebagai pertarungan antara dua kekuatan besar. Dalam jangka pendek, pasar menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi dan ekspektasi suku bunga tinggi. Namun dalam jangka panjang, dunia sedang menyaksikan pergeseran struktural yang mendorong semakin banyak investor institusi dan bank sentral memilih emas sebagai bagian penting dari strategi cadangan mereka.
Jika tren tersebut berlanjut, maka koreksi yang terjadi hari ini bisa jadi bukan akhir dari kisah kenaikan emas, melainkan hanya jeda dalam perjalanan yang lebih panjang. (Lukman Hqeem)

