Beritakota.id, Jakarta – Harga emas dunia kembali bergerak melemah pada awal pekan setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah justru mendorong penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan harga energi. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali mempertimbangkan kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Pada perdagangan Senin (1/6/2026), harga emas spot berada di kisaran USD4.500 per troy ounce setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan pada akhir pekan lalu. Tekanan muncul setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran, yang kemudian dibalas oleh Garda Revolusi Iran dengan serangan terhadap pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Baca juga : Harga Emas Bertahan, Pasar Mulai Takut Inflasi Perang
Eskalasi terbaru ini menambah ketidakpastian global, terutama terkait keamanan jalur energi di Timur Tengah. Pasar merespons dengan mendorong harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 3 persen. Kenaikan harga energi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi global dapat meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
Dalam situasi normal, emas sering dianggap sebagai instrumen pelindung nilai terhadap inflasi maupun ketidakpastian geopolitik. Namun kali ini respons pasar menunjukkan pola yang berbeda. Investor lebih banyak mengalihkan perhatian kepada dampak inflasi terhadap kebijakan moneter, khususnya langkah Federal Reserve yang berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Data CME FedWatch bahkan menunjukkan pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang sekitar 40 persen bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir tahun. Ekspektasi tersebut mendorong penguatan dolar AS, yang pada akhirnya menjadi faktor negatif bagi harga emas.
Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Selain itu, emas juga harus bersaing dengan instrumen berbasis bunga seperti obligasi pemerintah AS yang menjadi lebih menarik ketika tingkat suku bunga meningkat.
Pasar Menanti Petunjuk dari The Fed
Selain perkembangan konflik Timur Tengah, perhatian investor kini beralih pada sejumlah agenda ekonomi penting Amerika Serikat yang akan berlangsung sepanjang pekan ini. Sejumlah pejabat Federal Reserve dijadwalkan menyampaikan pidato, sementara data ekonomi utama seperti ISM Manufacturing dan laporan ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan moneter berikutnya.
Jika data ekonomi AS kembali menunjukkan ketahanan yang kuat, peluang The Fed mempertahankan sikap hawkish akan semakin besar. Sebaliknya, apabila data mulai menunjukkan perlambatan aktivitas ekonomi atau pelemahan pasar tenaga kerja, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat mereda dan membuka ruang bagi pemulihan harga emas.
Dari perspektif teknikal, struktur pergerakan emas juga menunjukkan perubahan karakter pasar yang cukup signifikan. Setelah mencatat reli tajam dari area USD4.370 hingga mencapai puncak di sekitar USD4.588 pada akhir pekan lalu, harga kini memasuki fase distribusi dan koreksi.
Penurunan terbaru membawa harga kembali menguji area support psikologis penting di kisaran USD4.490 hingga USD4.500 per troy ounce. Level ini menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi menentukan arah pergerakan jangka pendek emas dalam beberapa sesi perdagangan mendatang.
Apabila area support tersebut mampu bertahan, emas masih memiliki peluang untuk melakukan rebound teknikal. Namun jika tekanan jual berlanjut dan level tersebut ditembus secara meyakinkan, maka risiko penurunan menuju area support berikutnya akan semakin terbuka.
Dengan kombinasi sentimen geopolitik, kenaikan harga energi, penguatan dolar, serta meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi, pasar emas saat ini berada dalam posisi yang cukup rentan. Setidaknya hingga data ekonomi utama Amerika Serikat dirilis pada akhir pekan, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi dan arah pergerakan emas akan sangat dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve. (Lukman Hqeem)

