Beritakota.id, Jakarta – Trauma masa lalu yang belum selesai menjadi sumber teror dalam film horor terbaru “Juminten Edan”. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 Juli 2026.
Film yang madukan kisah keluarga, misteri, dan tekanan psikologis ini disutradarai oleh Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh.
“Secara keseluruhan, film ini sebuah kisah keluarga, miniatur dari kisah keluarga seluruh Indonesia sebenarnya. Bagaimana hubungan antara mertua dan menantu, anak dan ibu mertua gitu. Jadi itu yang, kisahnya itu coba kita ambil yang lebih dekat dengan pemirsa,” ujar sang sutradara saat Press Screening Film Juminten Edan di Jakarta, Kamis, 17 Juli 2026.
Baca juga: Yayasan Vardhana Nawasena Network Luncurkan Film Dokumenter Wanam: Menanam Masa Depan di Tanah Papua
Film yang diproduksi Mercusuar Films bersama Digital Frame Production ini berpusat pada sosok Juminten, seorang perempuan tunawicara yang kembali ke pulau tempat ia dibesarkan setelah delapan tahun merantau. Ia pulang bersama suaminya, Manto, dan anak mereka, Saskia, Namun, kepulangan tersebut justru membuka kembali luka dan kenangan kelam yang selama ini terkubur.
Juminten mulai menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Berbagai kejadian ganjil pun muncul dan perlahan mengancam keselamatan orang-orang terdekatnya. Kondisi Juminten semakin mengkhawatirkan ketika perubahan sikapnya mulai membahayakan keluarganya, sampai pada akhirnya keluarga dan warga sepakat untuk memasung Juminten.
“JUMINTEN EDAN” tidak hanya menawarkan ketegangan khas film horor. Film ini menawarkan sebuah cerita yang lebih organic dan realistis, dengan menyoroti dampak trauma, konflik keluarga, serta perjuangan seseorang ketika harus kembali menghadapi masa lalu yang belum selesai.
Diketahui film Juminten Edan ini dibintangi Meisya Amira dan Dimas Aditya. Meisya Amira dipercaya memerankan tokoh Juminten, sedangkan Dimas Aditya berperan sebagai Manto.
Film ini juga dibintangi Anne J. Coto sebagai Salma, Kukuh Prasetyo sebagai Marlan, Deden Bagaskara sebagai Kadir, Bambang Oeban sebagai Kakek Juminten, Wina Marrino sebagai Farida, Sharon Jovian sebagai Saskia, Teguh Julianto sebagai Heri, Wanto Cacing sebagai Sidik, Feril Ali sebagai Manto kecil, serta Maria Lituhayu sebagai Juminten kecil. Kehadiran para pemain tersebut memperkuat konflik keluarga dan rangkaian teror yang menjadi inti cerita.
Dalam film ini, penonton akan diajak menelusuri penyebab perubahan Juminten sekaligus mengungkap rahasia yang tersimpan di balik masa lalunya.
“Ini yang orang-orang yang mungkin dianggap waras seringkali melakukan sebuah kegilaan dalam tanda kutip. Bahkan mungkin sebaliknya juga gitu, orang-orang yang dianggap gila atau orang yang gak dianggap justru punya keluhuran budi. Punya kewarasan yang dalam tanda kutip,” kata sutradara Dedy Mercy.

