Beritakota.id, Jakarta – Peringatan satu abad kelahiran Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977, menjadi momentum untuk kembali menegaskan pentingnya kebudayaan sebagai fondasi pembangunan kota. Warisan pemikiran Bang Ali dinilai tetap relevan di tengah tantangan era digital yang mengubah cara masyarakat berkarya, menikmati seni, dan membangun ekosistem kebudayaan.

Pandangan tersebut disampaikan Fauzi Bowo, mantan Gubernur DKI Jakarta yang juga pernah menjadi staf pada masa pemerintahan Ali Sadikin. Menurutnya, peringatan 100 tahun kelahiran Bang Ali seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni mengenang jasa tokoh, melainkan menjadi refleksi untuk memperkuat kembali arah pembangunan kebudayaan Jakarta.

Fauzi Bowo mengingatkan bahwa sejak awal kepemimpinannya, Ali Sadikin meyakini kebudayaan bukan sekadar pelengkap pembangunan, melainkan bagian utama yang membentuk identitas kota dan karakter masyarakat.

Gagasan tersebut berawal dari kegelisahan Bang Ali pada 1968 ketika mengetahui para seniman yang sebelumnya berkumpul di kawasan Senen kehilangan ruang berekspresi akibat perubahan kawasan. Dari peristiwa itu lahir keyakinan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab menyediakan ruang bagi para seniman untuk berkarya.

Menurut Fauzi Bowo, Ali Sadikin memandang kemajuan Jakarta tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan gedung-gedung tinggi. Kehidupan seni dan budaya yang berkembang menjadi indikator penting kualitas sebuah kota metropolitan.

“Kebudayaan membangun karakter, memperkuat identitas kota, dan menjadi ruang dialog masyarakat. Karena itu pemerintah tidak boleh pasif terhadap pertumbuhannya,” demikian pokok pemikiran yang dikenang Fauzi Bowo.

Pemerintah Sebagai Fasilitator

Fauzi Bowo menjelaskan, salah satu warisan penting Ali Sadikin adalah menempatkan pemerintah sebagai fasilitator, bukan pengendali kehidupan berkesenian.

Prinsip tersebut diwujudkan melalui pembentukan Dewan Kesenian Jakarta pada Juni 1968 yang bertugas memberikan masukan kepada gubernur mengenai pembinaan kebudayaan. Langkah serupa juga dilakukan melalui pendirian Lembaga Kebudayaan Betawi pada 1977 yang pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat, sementara pemerintah memberikan dukungan sesuai kebutuhan.

Melalui pendekatan itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong tumbuhnya ekosistem seni yang mandiri sekaligus menjadikan Jakarta sebagai salah satu pusat perkembangan seni dan budaya di Indonesia.

Taman Ismail Marzuki sebagai Investasi Peradaban

Bagi Fauzi Bowo, tidak ada simbol yang lebih merepresentasikan visi kebudayaan Ali Sadikin selain pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) yang diresmikan pada 10 November 1968.

TIM dibangun bukan hanya sebagai kompleks pertunjukan seni, tetapi sebagai ruang publik yang memungkinkan seniman, budayawan, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat umum berinteraksi dan menciptakan iklim kebudayaan yang dinamis.

Baca juga: Storytelling Competition Bank Jakarta Semarakkan PRJ 2026, Asah Kreativitas dan Kepercayaan Diri Anak

Komitmen terhadap akses publik juga terlihat dari harga tiket pertunjukan yang dibuat terjangkau sehingga masyarakat luas dapat menikmati berbagai kegiatan seni. Pada masanya, TIM bahkan mampu menyelenggarakan sekitar 250 pertunjukan setiap tahun.

Penguatan ekosistem tersebut kemudian dilanjutkan melalui pendirian Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta pada 1970 dan Akademi Jakarta pada 1973 yang memberikan penghargaan kepada para seniman berprestasi, dengan W.S. Rendra sebagai penerima penghargaan pertama.

Menurut Fauzi Bowo, keputusan membangun pusat kebudayaan berskala besar merupakan bentuk investasi jangka panjang yang hasilnya dapat dirasakan lintas generasi. Hingga kini, TIM tetap menjadi salah satu ikon kebudayaan nasional.

Tantangan Baru di Era Digital

Di tengah perkembangan teknologi digital, Fauzi Bowo menilai nilai-nilai yang diwariskan Ali Sadikin justru semakin relevan. Perubahan cara berkarya, distribusi karya seni, hingga model pembiayaan kebudayaan menuntut lahirnya kebijakan yang adaptif tanpa meninggalkan prinsip dasar kebebasan berekspresi.

Pandangan tersebut mendapat dukungan dari Ketua Umum Pemuda Kaum Betawi, Masykur Isnan.

Menurutnya, generasi muda Betawi perlu menjadikan Ali Sadikin sebagai teladan dalam membangun Jakarta yang berakar kuat pada kebudayaan.

“Bang Haji Fauzi Bowo berhasil menggelorakan semangat kebetawian generasi hari ini, tidak boleh padam,” kata Masykur.

Ia menilai sejumlah nilai yang diwariskan Ali Sadikin harus terus dipertahankan, di antaranya kebebasan seniman untuk berkarya, peran pemerintah sebagai fasilitator, keberpihakan terhadap pelaku seni budaya, serta pemahaman bahwa kegiatan seni tidak semata-mata diukur dari nilai ekonomi.

Selain itu, semangat membuka ruang dialog dan menerima kritik melalui karya seni juga menjadi bagian penting dari warisan kepemimpinan Bang Ali. Sikap tersebut tercermin ketika ia pernah menerima kritik melalui karya seni dan kemudian menunjukkan kebesaran hati dengan mengakui kekeliruannya.

Peringatan 100 tahun kelahiran Ali Sadikin pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar mengenang seorang pemimpin. Momentum ini menjadi pengingat bahwa membangun Jakarta tidak cukup hanya dengan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membutuhkan komitmen kuat untuk merawat kebudayaan sebagai identitas, perekat sosial, dan investasi peradaban bagi generasi mendatang. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *