Beritakota.id, Jakarta – Industri travel konvensional di Indonesia kini berada di persimpangan. Ketua DPD AITTA (Alliance of The Indonesian Tour & Travel Agencies) DKI Jakarta, Djohari Somad, menegaskan bahwa pelaku usaha perjalanan wajib bertransformasi secara digital jika tidak ingin tergilas zaman.
“Digitalisasi bukan pilihan lagi, tapi keharusan. Kalau masih pakai cara lama, kita akan kalah,” tegas Djohari. Menurutnya, perubahan perilaku konsumen dan agresivitas pemasaran digital membuat banyak agen travel tradisional tertinggal, bahkan kalah dari individu yang piawai bermain media sosial.
Dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) AITTA DKI Jakarta, Djohari mengungkapkan, kekuatan promosi kini bergeser ke platform digital seperti Instagram, yang dimanfaatkan secara maksimal oleh Online Travel Agent (OTA) dan pelaku independen.
Ironisnya, banyak pelaku tanpa pengalaman justru mampu menarik pasar karena unggul di pemasaran, meski lemah dalam eksekusi layanan. “Jangan sampai kita yang punya pengalaman dan modal kalah dari mereka. Kita harus perkuat digital marketing,” ujarnya kepada Beritakota.id di sela-sela Halal bihalal dan Rakerda AITTA DKI Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Ia juga menekankan kepada seluruh anggota AITTA mendorong transformasi menyeluruh, tidak hanya pada promosi, tetapi juga sistem pelayanan pelanggan manajemen data dan pembukuan, serta sistem akuntansi dan operasional
“Semua harus digital. Kalau tidak, kita akan ketinggalan,” tambahnya.
Inovasi Wisata: Dari Pensiunan hingga Kuliner
Tak hanya digitalisasi, inovasi produk menjadi kunci bertahan. AITTA mulai meninggalkan pola lama seperti rute klasik Jakarta–Bali, dan beralih ke konsep wisata baru.
Beberapa inovasi yang mulai dikembangkan antara lain, paket wisata pensiunan santai, tidak padat, fokus pengalaman wisata kuliner berbasis eksplorasi lokal dan konsep perjalanan fleksibel dengan tempo lebih lambat
“Pasarnya ada. Mereka punya waktu dan uang, tapi ingin perjalanan yang nyaman,” jelas Djohari. Ia menambahkan, sebagai langkah konkret, AITTA rutin menggelar pelatihan bulanan gratis bagi anggota, meliputi, pemanfaatan AI, Digital marketing, Inovasi produk wisata dan Sistem keuangan modern. Langkah ini dinilai penting agar pelaku industri tidak tertinggal dalam persaingan global.
Potensi Besar Jakarta, dari Transit Jadi Destinasi
Djohari menyoroti bahwa selama ini Jakarta hanya menjadi kota transit sebelum wisatawan menuju Bali. Padahal, potensi wisata ibu kota sangat besar, terutama di kawasan Kepulauan Seribu.
“Kenapa tidak tambah satu atau dua hari di Jakarta, lalu ke pulau? Itu yang sedang kita dorong,” katanya.
Selain itu, destinasi seperti Kota Tua Jakarta, Ancol, hingga Taman Mini Indonesia Indah dinilai semakin menarik dengan dukungan infrastruktur yang lebih baik.
Di tengah kondisi ekonomi global dan kebijakan efisiensi, Djohari mengingatkan bahwa pelaku industri harus realistis. Seperti halnya menjual paket dengan harga lebih terjangkau, durasi perjalanan lebih pendek serta fokus pada volume dan keberlanjutan bisnis
“Yang penting tetap jalan. Jangan terlalu mahal, tapi tetap hidup,” ujarnya.
Saat ini, AITTA DKI Jakarta memiliki 18 DPD dengan sekitar 400 anggota tersertifikasi. Namun, organisasi ini tidak mengejar kuantitas. “Kami ingin sedikit tapi berkualitas dan solid,” tegas Djohari.

