Beritakota.id, Jakarta – Harga minyak naik karena blokade militer AS terhadap pelabuhan Iran mulai berlaku. Situasi ini memperburuk kekhawatiran pasar akan perlambatan permintaan muncul setelah reli harga minyak terkini.

Keputusan AS untuk melakukan blokade terjadi setelah perundingan AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan. AS, yang delegasinya dipimpin oleh Wakil Presiden J.D. Vance, dan Iran gagal mencapai kesepakatan setelah 21 jam diskusi pada akhir pekan. Alhasil harga minyak terus naik.

Baca juga : Donald Trump Berulah, Pasar Global Masuki Ketidakpastian

Harga minyak melonjak hampir 6% dalam perdagangan Senin (13/04/2026) karena militer AS mulai memblokade pelabuhan Iran setelah negosiasi yang gagal antara AS dan Iran pada akhir pekan. Namun, harga berada di bawah level tertinggi sesi setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan untuk kuartal kedua, dengan alasan perkembangan di Timur Tengah.

Sebagian pelaku pasar menilai bahwa krisis ini pun akan berlalu dan tak menganggap serius blokade ini. Mereka lebih memperhatikan prospek permintaan minyak di masa depan yang diyakini akan melemah. Tak heran bila kemudian harga minyak sedikit menurun setelah blokade tersebut dijalankan.

Diyakini bahwa ini merupakan alat tawar-menawar dalam permainan poker berisiko tinggi ala Presiden Donald] Trump. Penurunan harga tersebut menunjukkan kemarahan sementara, bukan guncangan permanen.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Mei naik 6% menjadi $104,23 per barel setelah diperdagangkan setinggi $105,63, sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik 5,7% menjadi $100,62 per barel, menurut data FactSet.

Brent, sebagai patokan harga internasional, dan WTI pekan lalu mencatat penurunan persentase mingguan terbesar sejak April 2020. Brent berakhir di $95,20 per barel dan WTI ditutup di $96,57 per barel setelah kerugian mingguan lebih dari 12% masing-masing.

Namun demikian, ketika harga minyak naik secara keseluruhan, dimana Brent naik hampir 20% sejak awal bulan, telah memicu kekhawatiran tentang perlambatan permintaan.

Dalam laporan bulanan yang dirilis pada hari Senin, OPEC menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan untuk kuartal kedua sebesar 500.000 barel, meskipun juga mengatakan bahwa kelemahan tersebut kemungkinan akan diimbangi di akhir tahun.

Trump pada hari Minggu mengatakan bahwa AS akan memberlakukan blokade terhadap semua kapal yang berusaha masuk atau keluar dari Selat Hormuz, menambahkan bahwa militer AS akan mulai menyingkirkan ranjau yang ditanam oleh Iran sejak konflik dimulai pada 28 Februari.

Washington dan Teheran tidak dapat mencapai kesepakatan selama diskusi 21 jam pada akhir pekan mengenai tuntutan agar Republik Islam membongkar program nuklirnya. Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf mengatakan delegasi AS, yang dipimpin oleh Wakil Presiden J.D. Vance, tidak mendapatkan kepercayaan dari rezim tersebut.

Trump mengatakan militer AS “siap siaga” dan siap pada “saat yang tepat” untuk menyerang Iran.

Ketidakpastian tentang kapan dan apakah konflik akan berakhir telah memicu sentimen negatif di kalangan investor, yang berharap adanya kesepakatan antara kedua negara, disertai dengan rencana untuk membuka kembali selat tersebut. Pembicaraan ulang mungkin akan segera terjadi: Wall Street Journal melaporkan bahwa “negara-negara regional” sedang berupaya untuk mempertemukan kembali AS dan Iran.

Untuk saat ini, pasar saham AS tampaknya mengabaikan kekhawatiran tentang eskalasi. S&P 500 naik 0,1%, sementara Dow Jones turun 0,5% dan Nasdaq naik 0,4%. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *