Beritakota.id, Labuan Bajo – Pagi di Kawasan Parapuar, Labuan Bajo, Jumat (19/12/2025), menghadirkan pemandangan yang sarat makna. Di tengah lanskap Flores yang terbuka dan menantang secara ekologis, para pemimpin perusahaan, pejabat pemerintah, pelaku industri pariwisata, dan komunitas lokal menanam pohon bersama. Kegiatan bertajuk CEO Menanam ini menjadi penanda bahwa pembangunan pariwisata Labuan Bajo tidak lagi hanya berbicara soal destinasi, tetapi juga soal tanggung jawab ekologis dalam skala global.

Diselenggarakan oleh Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), kegiatan ini mencerminkan pergeseran paradigma pariwisata dunia. Secara global, green tourism atau pariwisata hijau kini menjadi standar baru dalam pengembangan destinasi, sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-12 (konsumsi dan produksi berkelanjutan) serta tujuan ke-13 dan ke-15 yang menitikberatkan pada aksi iklim dan perlindungan ekosistem darat.

Deputi Penyelenggaraan Event dan Kegiatan Kementerian Pariwisata, Vinsensius Jemadu, menilai kegiatan ini sebagai wujud nyata kolaborasi lintas sektor dalam menerjemahkan prinsip keberlanjutan ke dalam aksi konkret. Sejak awal, pengembangan Kawasan Parapuar memang diarahkan untuk menjadi contoh praktik pembangunan destinasi yang tidak eksploitatif, melainkan restoratif—sebuah pendekatan yang kini banyak diadopsi destinasi global dari Selandia Baru hingga kawasan Nordik.

Baca Juga : Pemuda Pemudi Labuan Bajo Siap Bergerak, Indonesia Bersatu

Komitmen tersebut terwujud dalam penanaman 1.000 pohon yang terdiri atas Flamboyan dan Ketapang Kencana, dua jenis tanaman yang berperan penting dalam memperbaiki kualitas tanah, menciptakan peneduh alami, serta mendukung keseimbangan mikro-ekosistem. Dalam konteks pariwisata hijau, upaya penghijauan semacam ini tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga meningkatkan daya tarik destinasi yang semakin dicari wisatawan global yang sadar lingkungan.

Perwakilan CEO, Dilliyanti Septiyana dari Djalanin.com, menegaskan bahwa dunia usaha memiliki peran strategis dalam transisi menuju pariwisata berkelanjutan. Di tingkat global, keterlibatan sektor swasta dalam program lingkungan kini menjadi indikator penting dalam penilaian Environmental, Social, and Governance (ESG), yang semakin diperhitungkan oleh investor dan wisatawan. Menanam pohon, menurutnya, adalah simbol komitmen jangka panjang: menjaga alam hari ini sekaligus membangun nilai ekonomi berkelanjutan di masa depan.

Lebih jauh, kegiatan CEO Menanam juga menegaskan bahwa keberlanjutan tidak berhenti pada isu lingkungan semata. Penggalangan donasi bagi korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, serta dukungan bagi lembaga pemerhati kaum disabilitas di Manggarai Barat, menunjukkan pendekatan holistik pariwisata hijau—yang mengintegrasikan aspek sosial dan kemanusiaan sebagai satu kesatuan.

Plt. Direktur Utama BPOLBF, Dwi Marhen Yono, menekankan bahwa pembangunan pariwisata Flores harus dilihat sebagai investasi jangka panjang. Ketahanan ekologis kawasan, kesejahteraan masyarakat lokal, serta reputasi Labuan Bajo di mata dunia bergantung pada konsistensi dalam menerapkan prinsip pariwisata bertanggung jawab. Dalam lanskap global yang semakin sensitif terhadap isu iklim dan keberlanjutan, destinasi yang gagal menjaga lingkungannya berisiko kehilangan kepercayaan pasar.

Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan tekanan overtourism, inisiatif CEO Menanam menempatkan Labuan Bajo dalam arus besar pariwisata hijau dunia. Lebih dari sekadar aktivitas simbolik, kegiatan ini menjadi pernyataan bahwa Labuan Bajo memilih jalan pembangunan yang selaras dengan alam. Pohon-pohon yang ditanam hari ini adalah fondasi ekologi, sekaligus pesan kepada dunia: pariwisata Indonesia siap tumbuh, tanpa mengorbankan masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *