Beritakota.id, Jakarta – Bank DBS Indonesia menggelar acara bertajuk “Unlocking Indonesia’s Wealth Potential: DBS Guides Through Indonesia’s Resilient Economy with Unparalleled Wealth Insights and Tailored Solutions”. Acara ini sebagai wujud komitmen DBS Indonesia untuk memberikan wawasan yang mendalam bagi nasabah prioritas DBS Treasures dan DBS Treasures Private Client untuk memahami risiko global dan peluang investasi.

Mereka diharapkan dapat menjaga portofolio tetap tangguh dan berimbang. Hal ini dipicu oleh berbagai kebijakan perekonomian global serta faktor geopolitik yang memengaruhi kondisi pasar.

Acara dihadiri oleh tim ahli, di antaranya Chief Investment Officer DBS Hou Wey Fook; Indonesia’s Head of Research, DBS Group Research William Simadiputra; dan Head of Segmentation, Liabilities, and Secured Lending PT Bank DBS Indonesia Natalina Syabana.

Selain teknologi, perhatian investor global kembali tertuju pada pasar komoditas. Dalam paparan dalam kegiatan nya, Chief Investment DBS Hou Wey Fook menilai 2026 berpotensi menjadi fase yang lebih konstruktif bagi komoditas, seiring dengan ekspektasi penurunan suku bunga dan membaiknya sentimen makro global. Meski demikian, ia menekankan bahwa peluang tersebut datang bersama risiko yang tidak bisa diabaikan.

Tarif perdagangan yang masih bertahan serta fragmentasi geopolitik membuat pasar komoditas tidak lagi bergerak seragam. “Pendekatan selektif menjadi kunci. Tidak semua komoditas akan diuntungkan secara merata,” ujar Hou. Dalam konteks ini, DBS melihat logam industri berada pada posisi strategis.

Tembaga dan rare earth elements disebut sebagai komoditas dengan peran struktural yang semakin penting. Transisi energi global, elektrifikasi kendaraan, serta ekspansi infrastruktur digital mendorong permintaan jangka panjang terhadap logam-logam tersebut. Bagi investor, ini bukan sekadar peluang siklikal, melainkan bagian dari transformasi ekonomi global yang lebih luas.

Baca juga : Bank DBS Indonesia Dinobatkan1 World’s Best Banks di Indonesia oleh Forbes

Emas Menjadi Aset Hedging

Sementara itu, emas tetap mempertahankan daya tariknya sebagai aset lindung nilai. Tekanan monetasi global, ketidakpastian geopolitik, dan langkah bank sentral yang terus melakukan diversifikasi cadangan memperkuat peran emas dalam portofolio jangka panjang. DBS memandang tren kenaikan emas bersifat struktural, bukan sekadar respons jangka pendek terhadap volatilitas pasar.

Namun demikian, Hou mengingatkan bahwa bahkan aset defensif seperti emas tetap memerlukan manajemen risiko yang disiplin. Fluktuasi harga tetap mungkin terjadi, terutama ketika ekspektasi suku bunga berubah atau sentimen pasar bergeser secara cepat.

Melalui pandangan ini, DBS menegaskan bahwa strategi investasi menuju 2026 perlu menyeimbangkan antara peluang pertumbuhan dan perlindungan nilai. Komoditas, ini, berperan sebagai jembatan antara keduanya—asal ditempatkan secara cermat dan berbasis fundamental. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *