Beritakota.id, Banyuwangi – Ada fase dalam hidup seorang seniman ketika suara—secara harfiah maupun batiniah—memilih diam. Bukan karena kehilangan kemampuan, melainkan karena hidup menuntut fokus ke arah lain. Bagi Dee Lestari, fase itu berlangsung hampir dua dekade. Bukan waktu yang singkat, apalagi bagi seorang penyanyi yang pernah menempatkan namanya di barisan paling berpengaruh dalam sejarah pop Indonesia modern.

Nama Dee selama bertahun-tahun lebih sering disebut sebagai penulis: novelis dengan dunia imajiner yang luas, pemikir spiritual yang rapi, dan pencipta karakter yang hidup lama di kepala pembacanya. Musik, perlahan, menjadi ruang sunyi—tetap ada, tapi tidak menjadi pusat. Padahal, jauh sebelum Rectoverso menjadi kitab emosional generasi tertentu, Dee telah lebih dulu memperkenalkan dirinya sebagai penyanyi dan penulis lagu bersama Rida Sita Dewi di era 1990-an. Dari sana, ia tumbuh, bereksperimen, dan menanamkan ciri khas lirik yang tidak menggurui tapi menusuk.

Namun hidup jarang berjalan lurus. Tahun 2024 menjadi titik balik yang tak direncanakan. Kepergian sang ayah meninggalkan lubang sunyi yang tak bisa diisi kata-kata. Di tengah duka, Dee tidak menulis. Ia justru bernyanyi. Sendirian, di rumah, dengan laptop dan speaker seadanya—sebuah “karaoke” personal yang awalnya hanya dimaksudkan untuk bertahan dari kehilangan.

Baca juga : Dianggap Menimbulkan Ancaman, Akses Aplikasi Grok Ditutup

Yang terjadi justru sebaliknya. Suara yang ia keluarkan bukan sekadar bunyi; ia menjadi jalan pulang. Malam demi malam, bernyanyi berubah menjadi ritual. Bukan untuk tampil, bukan untuk direkam, tapi untuk menghidupkan kembali sesuatu yang sempat terparkir lama. Dari sanalah muncul kesadaran yang jujur dan sederhana: ia rindu bernyanyi, dan ingin kembali ke sana—sepenuhnya.

Tahun 2025, niat itu menemukan bentuk. Dengan dukungan manajemen yang memahami ritme Dee sebagai seniman matang—Arie Dagienkz, Riko Prayitno, Bayu Fajri, dan Anthono—sebuah album solo ketiga mulai disusun. Tidak tergesa-gesa. Tidak dibangun dari ambisi industri. Album ini lahir dari kebutuhan yang personal: menyatukan kembali suara, lirik, dan kehidupan.

Sebagai pembuka, Dee memilih sebuah lagu yang jujur dan ironis berjudul “(Jangan) Jatuh Cinta.” Judulnya saja sudah terasa seperti dialog batin yang kita semua kenal. Lagu ini tidak berusaha menawarkan solusi. Ia justru mengajak pendengar duduk bersama di ruang abu-abu antara logika dan rasa—tempat paling rapuh sekaligus paling manusiawi.

Liriknya bergerak seperti bisikan yang tahu dirinya akan dilanggar:

“Jangan jatuh cinta. Belum saatnya. Kau akan tersiksa.”

Kalimat itu bukan larangan moral, melainkan bentuk kepanikan halus dari logika yang ingin melindungi hati. Tapi Dee tahu—dan pendengar pun tahu—bahwa cinta jarang meminta izin. Ia datang tanpa jadwal, tanpa alasan, dan sering kali di saat yang paling tidak ideal.

Dalam konteks ini, Dee tidak menempatkan dirinya sebagai pengamat, melainkan sebagai subjek yang ikut terseret. Tidak ada nada menggurui. Yang ada hanyalah pengakuan: bahwa perasaan tidak bisa dikemudikan sepenuhnya, dan mungkin memang tidak seharusnya.

Untuk meramu lagu ini, Dee menggandeng Rendy Pandugo sebagai produser—sebuah pilihan yang terasa tepat. Aransemen “(Jangan) Jatuh Cinta” hangat, berlapis gitar, dengan ruang yang cukup untuk vokal bernapas. Tidak ada ledakan dramatis yang berlebihan. Musiknya seperti cahaya sore: lembut, tapi menetap. Teddy Adhitya sebagai vocal director membantu menjaga emosi tetap terkendali, tidak tumpah, tidak ditahan berlebihan.

Hasilnya adalah lagu yang tidak meminta perhatian keras-keras, tapi justru bertahan lama setelah selesai diputar. Ini bukan lagu cinta euforia. Ini lagu cinta orang dewasa—yang tahu risikonya, tapi tetap memilih melangkah.

Beberapa bocoran lagu dari album ini telah diperdengarkan lewat showcase Bocor Tipis di Jakarta dan Yogyakarta, dan responsnya konsisten: hangat, intim, dan penuh rasa rindu. Ada perasaan kolektif bahwa Dee tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali—dengan suara yang lebih tenang, dan cerita yang lebih dalam.

“(Jangan) Jatuh Cinta” kini hadir sebagai penanda. Bukan hanya tentang album baru, tapi tentang fase baru seorang seniman yang kembali ke titik awalnya, bukan untuk mengulang, melainkan untuk melanjutkan dengan cara yang lebih jujur. Album solo ketiga Dee Lestari bukan comeback dalam arti sensasional. Ia lebih menyerupai pulang—dan kadang, itu jauh lebih kuat. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *